Tiga UMKM Dapat Pendampingan Urus Sertifikasi dari Petugas BBPOM Aceh
Mursal Ismail June 20, 2026 07:03 PM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Muhammad Nasir | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Tiga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pangan di Aceh mendapatkan pendampingan sertifikasi Nomor Izin Edar (NIE) BPOM dan audit Izin Penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (IP-CPPOB), Jumat (19/6/2026).

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Tim Sertifikasi Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Banda Aceh (BBPOM Aceh).

Pendampingan diberikan kepada UMKM Bumbu Masak Higozi di Gampong Ulee Tanoh, Aceh Utara, yang dikelola Fazlina.

Pendampingan serupa juga dilakukan pada UMKM Frozen Food Nugget Ikan Gembung Sari Bumoe di Blang Teue, Kota Lhokseumawe, yang diwakili Zulkarnain.

Satu lagi, usaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dan minuman berkarbonasi/limun CV Bunga Padi di Meunasah Reuleut, Bireuen, yang dikelola Marwan.

Kegiatan tersebut dipimpin Ketua Tim Sertifikasi BBPOM Aceh, Muhibuddin, bersama tim sertifikasi.

Baca juga: Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USK Gelar 19 Produk PJBL Periklanan, Dorong UMKM Go Digital

Program ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan BBPOM Aceh dalam mendukung pelaku UMKM pangan agar mampu memenuhi standar keamanan pangan, memperoleh legalitas produk, serta meningkatkan daya saing di pasar yang lebih luas.

Selain pendampingan sertifikasi, Tim BBPOM Aceh juga melaksanakan audit Izin Penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (IP-CPPOB) pada sarana Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Wendys di Kuta Blang, Kota Lhokseumawe.

Audit tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh proses produksi telah memenuhi persyaratan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), sehingga produk yang dihasilkan aman, bermutu, dan layak dikonsumsi masyarakat.

Muhibuddin menjelaskan, pendampingan yang diberikan tidak hanya berfokus pada pemenuhan dokumen administrasi. 

Tetapi juga membantu pelaku usaha memahami berbagai aspek teknis yang menjadi persyaratan utama dalam memperoleh izin edar BPOM.

"Pendampingan ini kami fokuskan pada penyusunan denah ruang produksi yang sesuai standar keamanan pangan.

Tata letak ruang produksi yang baik sangat penting untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang antara bahan baku, proses produksi, dan produk jadi, sehingga dapat dihasilkan pangan yang aman, bermutu, dan memenuhi persyaratan untuk memperoleh izin edar BPOM," ujar Muhibuddin.

Baca juga: Dorong Pertumbuhan UMKM, Kapolda Aceh Ajak Masyarakat Sukseskan Bhayangkara Fest 2026

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa para pelaku usaha juga diberikan pembinaan terkait penyusunan dokumen manual mutu, penerapan sanitasi dan higiene, serta pemahaman terhadap prinsip-prinsip Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) sebagai fondasi dalam menghasilkan produk pangan yang aman dan berkualitas.

Pendampingan yang diberikan BBPOM Aceh mendapat apresiasi dari para pelaku usaha.

Pemilik UMKM Bumbu Masak Higozi, Fazlina, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru terkait standar produksi pangan yang harus dipenuhi sebelum mendapatkan izin edar.

"Dengan adanya pendampingan ini, kami menjadi lebih memahami bagaimana menyusun denah ruang produksi yang sesuai standar keamanan pangan.

Ternyata proses pemenuhannya tidak sesulit yang kami bayangkan karena mendapat arahan dan bimbingan langsung dari BBPOM Aceh.

Pendampingan ini sangat membantu kami dalam mempersiapkan usaha agar lebih siap memperoleh izin edar," ungkap Fazlina.

Baca juga: Wabup Buka Bazar UMKM Peringatan HUT Dekranasda dan HKG PKK

Kegiatan pendampingan dan audit tersebut merupakan salah satu bentuk komitmen BBPOM Aceh dalam memperkuat ekosistem pangan yang aman sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM pangan yang berdaya saing.

Melalui pembinaan yang berkelanjutan, pelaku usaha diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk, memenuhi ketentuan regulasi, serta memperluas akses pasar, baik di tingkat regional maupun nasional.

BBPOM Aceh berharap semakin banyak pelaku usaha pangan di Aceh yang berhasil memperoleh Nomor Izin Edar BPOM dan menerapkan standar produksi yang baik.

Dengan demikian, produk pangan lokal Aceh tidak hanya mampu memberikan jaminan keamanan bagi konsumen, tetapi juga memiliki daya saing yang lebih tinggi untuk menembus pasar nasional bahkan pasar internasional. (mun)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.