Kita melihat mitigasi bencana kebakaran lahan, kolaborasi antara korporasi dengan masyarakat

Jakarta (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat meminta masyarakat dan korporasi saling berkolaborasi berbagi air untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau.

Jumhur menegaskan, melalui tata kelola air yang inklusif, maka perusahaan bisa tetap berjalan sembari menjaga kelestarian lingkungan dan memberdayakan masyarakat sekitar.

"Kita melihat mitigasi bencana kebakaran lahan, kolaborasi antara korporasi dengan masyarakat, dan hari ini kita melihat juga bagaimana yang pertama tadi, yaitu water sharing dengan masyarakat, supaya memastikan gambut-gambut atau lahan gambut ini mendapatkan aliran air tidak hanya pada kawasan konsesi, tetapi juga pada kawasan masyarakat," ujar Jumhur dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu.

Ia menyampaikan hal tersebut saat meninjau pembagian sistem air dan pemantauan emisi berbasis sains di area operasional PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, Jumat (19/6).

Menurutnya, langkah berbagi air atau water sharing menjadi bukti nyata komitmen KLH/BPLH menjaga hidrologi gambut nasional sekaligus menekan emisi gas rumah kaca (GRK).

Menteri Jumhur juga mengemukakan, kunci utama pencegahan karhutla jangka panjang adalah integrasi pengelolaan air yang adil dan tidak hanya fokus pada area konsesi korporasi, tetapi juga menyentuh lahan milik masyarakat di sekitarnya.

Dalam peninjauan tersebut, sistem pengelolaan tata air gambut dilakukan melalui pembagian zona berdasarkan keseragaman elevasi lahan. Infrastruktur hidrologi seperti pembangunan dan pemeliharaan sekat kanal serta pemantauan tinggi muka air terus disempurnakan untuk menjaga kondisi gambut tetap basah, sehingga risiko karhutla dapat ditekan seminimal mungkin.

KLH/BPLH juga memberikan perhatian khusus pada aspek keterbukaan data ilmiah dalam mitigasi perubahan iklim. Di lokasi, Menteri LH melihat langsung operasional menara pemantauan GRK yang berfungsi mendeteksi laju aliran karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄).

Data hidrologi dan emisi yang dikumpulkan secara waktu nyata (real-time) menjadi basis penting bagi KLH/BPLH dalam menyusun strategi pengelolaan lahan yang berkelanjutan.

Menanggapi pentingnya data dan riset dalam pengelolaan lingkungan, Presiden Direktur PT RAPP Sihol Aritonang menegaskan komitmen perusahaan untuk terus mendukung agenda lingkungan nasional.

"RAPP berkomitmen untuk terus mengambil bagian dalam mendukung agenda lingkungan nasional, termasuk melalui pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan dan upaya pencegahan kebakaran. Kami juga mendukung upaya pengembangan riset dan ilmu pengetahuan Indonesia di bidang pengelolaan lahan gambut tropis, termasuk pengukuran emisi, sebagai landasan bagi kebijakan dan praktik pengelolaan yang berbasis sains," ucap Sihol.

Tak hanya fokus pada daratan, kunjungan kerja KLH/BPLH juga menekankan pentingnya transisi energi bersih melalui peninjauan instalasi panel surya berkapasitas total 50 MW. Uniknya, proyek energi terbarukan ini memanfaatkan area tempat pembuangan akhir yang telah ditutup, sebuah langkah optimalisasi lahan yang sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.