Sekolah Alam Palembang Kenalkan Kearifan 9 Suku Penjaga Hutan Rimba Nusantara
tarso romli June 20, 2026 07:27 PM

 

 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Ratusan siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA tumpah ruah memeriahkan gelaran Festival Budaya Nusantara 2026 yang diselenggarakan oleh Sekolah Alam Palembang, Sabtu (20/6/2026). Mengusung tema yang sarat pesan ekologis, "Penjaga Hutan Rimba", agenda akbar ini menjadi puncak sekaligus penutup kalender pembelajaran tahunan siswa.

Festival kolaboratif yang melibatkan sinergi penuh antara siswa, guru, dan orang tua murid ini menghadirkan beragam panggung edukatif.

Mulai dari pertunjukan teater, pentas sendratari tradisional, pameran diorama, replika rumah adat, hingga bazar kuliner khas berbagai daerah di Nusantara.

Pantauan langsung di lokasi, atmosfer festival berlangsung sangat semarak.

Kompleks sekolah disulap menyerupai perkampungan adat, di mana para siswa mengenakan pakaian adat yang merepresentasikan berbagai suku pedalaman di Indonesia. 

Mereka juga aktif mempresentasikan replika hunian tradisional serta menyajikan makanan khas penopang hidup suku masing-masing.

Agenda kebudayaan ini dibuka secara resmi oleh Staf Ahli Wali Kota Palembang, Edison, didampingi Founder sekaligus Ketua Pembina Yayasan Ustadziyatul Alam, Prof. Dr. dr. H. Yuwono, M.Biomed., serta dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan dan Dinas Kebudayaan Kota Palembang.

Komitmen 21 Tahun

Founder Sekolah Alam Palembang, Prof. Yuwono, menjelaskan bahwa Festival Budaya Nusantara merupakan agenda tahunan wajib yang selalu mengusung tema berbeda di setiap episodenya sebagai bagian dari metode pembelajaran kontekstual.

"Tahun ini, di usia Sekolah Alam Palembang yang memasuki 21 tahun sejak berdiri tahun 2005, kami sengaja mengangkat tema Penjaga Hutan Rimba. Ada sembilan suku adat yang diperkenalkan langsung kepada para siswa. Harapannya, anak-anak tidak hanya tumbuh cerdas secara akademik, melainkan memiliki keluhuran karakter, menghargai akar budaya, dan peka terhadap keberagaman," ujar Prof. Yuwono, Sabtu (20/6/2026).

Dalam festival kali ini, para siswa dibimbing untuk membedah dan mempelajari karakteristik kehidupan sembilan suku masyarakat adat pelindung hutan benteng pertahanan hijau Indonesia, meliputi:

Suku Sakai (Riau)
Suku Rimba (Jambi)
Suku Dayak Tomun (Kalimantan Barat)
Suku Punan (Kalimantan Timur)
Suku Dayak Meratus (Kalimantan Selatan)
Suku Kajang (Sulawesi Selatan)
Suku O'Hongana Manyawa (Maluku Utara)
Suku Korowai (Papua Pegunungan)
Suku Awyu (Papua Selatan)

Bedah Integrasi 4 Aspek Utama: Sandang, Pangan, Papan, dan Lingkungan

Ketua Yayasan Ustadziyatul Alam, Nurbaiti Ekasari, S.Si., M.Pd., atau yang akrab disapa Ibu Eka, menambahkan bahwa pemilihan tema ini bertujuan mendasarkan pemahaman siswa terhadap peran krusial masyarakat adat dalam menjaga paru-paru dunia. Materi pembelajaran tersebut diintegrasikan ke dalam empat aspek utama:

Aspek Lingkungan Hidup: Memahami cara masyarakat adat menjaga ekosistem hutan serta mengenali keanekaragaman flora dan fauna secara bijak.
Aspek Sandang: Mempelajari bagaimana suku-suku pedalaman memanfaatkan bahan alami seperti serat kulit kayu dan dedaunan sebagai bahan pakaian tradisional mereka.
Aspek Pangan: Mengenal ketahanan pangan lokal berbasis hasil hutan non-kayu, seperti pemanfaatan sagu, ubi-umbian, hingga tanaman obat herbal.
Aspek Papan: Mempelajari arsitektur vernakular hunian adat yang adaptif terhadap alam, mulai dari rumah panggung di tepian rawa hingga rumah tinggi di atas pohon.

Keseruan dan manfaat edukasi ini diakui oleh Tisti, siswi kelas XII SMA Sekolah Alam Palembang yang dalam festival ini berkesempatan merepresentasikan kebudayaan Suku Korowai asal Papua.

"Tahun ini sangat seru karena fokus ke suku penjaga hutan. Saya jadi lebih paham bagaimana mereka bertahan hidup tanpa merusak alam. Hutan itu paru-paru bumi yang butuh waktu lama untuk tumbuh, kalau rusak akibat keserakahan manusia, dampaknya akan kita rasakan bersama," ungkap Tisti dewasa.

Apresiasi dari Pemerintah Kota Palembang

Aksi kreatif dan kepedulian lingkungan ini menuai apresiasi tinggi dari Pemerintah Kota Palembang.

Staf Ahli Wali Kota, Edison, menilai Sekolah Alam Palembang sukses mengawinkan esensi pendidikan kebudayaan dengan kampanye penyelamatan lingkungan hidup sejak dini.

"Ini adalah role model pembelajaran yang sangat efektif bagi generasi muda. Kegiatan ini sukses menumbuhkan kesadaran menjaga alam lewat pengenalan kekayaan adat. Kami berharap tradisi edukasi seperti ini terus dipertahankan dan ditiru oleh sekolah-sekolah lain di Palembang demi menyiapkan generasi masa depan yang berwawasan lingkungan," puji Edison menutup sambutannya.

Baca juga: Ribuan Warga Padati Festival Budaya OKU Timur, Antusiasme Jadi Simbol Persatuan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.