Cakap-Cakap Penggemar Bola Jambi dari Piala Dunia 2026 hingga Stadion
Mareza Sutan AJ June 20, 2026 07:48 PM

Bicara sepak bola, dari Piala Dunia hingga proyek stadion di Jambi, semenarik apa, sih?

Nah, Tribunners, kali ini Tribunjambi.com berkesempatan mengorol bersama Hidayat, satu di antara pengurus komunitas suporter sekaligus penggemar sepak bola di Jambi.

Yuk, simak obrolannya.

Host: Tribuners, kali ini saya Irfani Halim bersama tamu kita, Hidayat atau yang akrab dipanggil Dayat. Dia adalah salah satu pengurus komunitas suporter sekaligus penggemar sepak bola di Kota Jambi.

Karena saat ini sedang memasuki momentum Piala Dunia 2026, kita akan lebih banyak ngobrol soal atmosfer Piala Dunia, dan sedikit menyinggung sepak bola lokal di Jambi.

Dayat, gimana kabarnya?

Dayat: Alhamdulillah baik, Mas.

Host: Kebetulan ini teman lama, sama-sama dulu di SMA 10, dan saya juga sempat jadi bagian dari komunitas suporternya.

Dayat: Iya, zaman SMA sekitar 2014. Berarti sudah lebih dari 10 tahun ya.

Host: Betul. Dulu kita sama-sama membangun kultur suporter sekolah.

Dayat: Iya, waktu itu ramai. Ada Sepultura, supporter SMA 5, SMA 4, SMA 6, dan lain-lain. Tahun 2013–2015 memang lagi hidup-hidupnya kultur suporter sekolah.

Host: Kalau di komunitas suporter Jambi sendiri, kamu masih aktif?

Dayat: Masih. Cuma sekarang sedang regenerasi kepengurusan. Banyak anak-anak muda yang mulai ambil peran. Harapan saya ke depan sebenarnya sederhana, pengen bangun klub sepak bola untuk Jambi.

Host: Nah, sebelum ke situ, kita bahas dulu Piala Dunia. Menurutmu bagaimana euforia Piala Dunia 2026 di Jambi? Karena kalau saya lihat, tidak seheboh dulu.

Dayat: Kalau menurut saya, euforia itu masih ada, tapi memang beda zaman. Tahun 2006 sampai 2014, orang bisa sangat euforia karena ada anthem-anthem Piala Dunia yang kuat.

Dulu ada lagu Shakira, “Waka Waka”, yang langsung melekat di kepala. Sekarang ada lagu resmi, tapi ga terlalu booming. Jadi top of mind masyarakat juga berkurang.

Selain itu, sekarang anak muda lebih suka ikut nonton saja, bukan membangun kultur diskusi sepak bola seperti dulu.

Kalau dulu nobar bukan sekadar nobar. Ada edukasi, ada diskusi taktik, ada kuis, ada interaksi. Sekarang lebih sederhana.

Host: Tapi secara bisnis, UMKM seperti kafe tetap diuntungkan?

Dayat: Iya. Banyak kafe sudah siapin nobar. Bahkan mereka bayar lisensi resmi untuk menayangkan pertandingan. Jadi secara ekonomi tetap bergerak.

Cuma di media sosial memang gelombangnya tidak sebesar dulu.

Host: Selain itu, Piala Dunia tahun ini juga banyak dibumbui isu politik ya?

Dayat: Betul. Ada isu imigrasi Amerika Serikat, ada fotografer dari Irak yang dipulangkan, ada beberapa pemain Timur Tengah yang dipersulit. Jadi ada nuansa geopolitik yang cukup kuat.

Tapi di sisi lain, Piala Dunia 2026 juga spesial karena bisa jadi panggung terakhir Messi dan Ronaldo.

Ini seperti momen transisi. Ada legenda lama, ada generasi baru seperti Mbappe dan Haaland. Itu yang bikin sangat menarik.

Host: Piala Dunia 2026 ini juga jadi ajang pembuktian ya. Banyak yang menunggu siapa sebenarnya yang layak disebut GOAT.

Dayat: Betul. Kalau Ronaldo juara, pasti perdebatan soal GOAT makin panas. Karena Messi sudah punya trofi Piala Dunia. Kalau Ronaldo bisa menyusul, perdebatan itu bakal makin panjang.

Saya sendiri tetap pegang Argentina. Saya fans Messi. Tapi saya juga sangat respect sama Ronaldo.

Host: Balik ke Indonesia, mungkin ada rasa kecewa dari masyarakat karena Timnas gagal lolos Piala Dunia. Apakah itu juga berpengaruh terhadap euforia?

Dayat: Menurut saya valid. Waktu Indonesia lagi berjuang di kualifikasi, semua tempat nobar penuh. Cafe penuh, komunitas penuh. Semua orang punya harapan besar.

Saat kita gagal, rasa kecewa itu memang besar. Karena ini momentum yang rasanya paling dekat buat Indonesia.

Padahal media internasional juga mulai melirik Indonesia waktu itu.

Host: Banyak yang bilang persoalannya ada di kursi pelatih dan organisasi.

Dayat: Ya, kita nggak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam. Tapi memang ada dinamika antara pelatih dan federasi.

Sekarang pelatih baru datang dan hasil uji coba cukup bagus. Lawan Oman menang 3-0, lawan Mozambik juga menang 1-0. Secara permainan ada peningkatan.

Tapi animo penonton memang belum kembali seperti saat kualifikasi.

Host: Kalau soal kepemimpinan sepak bola nasional?

Dayat: Banyak yang berharap pengurus PSSI bisa lebih fokus. Karena sepak bola itu butuh perhatian penuh.

Kalau kita bicara jangka panjang, bukan cuma timnas, tapi akademi, pembinaan, kompetisi berjenjang, itu semua harus diperhatikan.

Liga 1 dan Liga 2 sekarang memang lebih rapi. Tapi Liga 3 dan Liga 4 masih banyak pekerjaan rumah.

Host: Bagaimana dengan Timnas ke depan?

Dayat: Harapan terdekat ada di Piala Asia 2027. Kita satu grup dengan Jepang, Thailand, dan Qatar.

Berat, tapi itu jadi pembuktian. Minimal kita bisa bersaing. Tidak harus juara, tapi jangan selalu jadi juru kunci.

Kita juga ingin suatu saat pemain lokal jadi tulang punggung utama, bukan terus bergantung pada naturalisasi.

Host: Tapi menarik juga ya, banyak fans Indonesia yang justru menjagokan Belanda.

Dayat: Iya, saya sempat wawancara beberapa fans. Banyak yang bilang Belanda itu “kakak kandung” Indonesia.

Ya, itu sudut pandang lucu sih. Tapi di sepak bola sah-sah saja.

Host: Sekarang kita masuk ke sepak bola lokal Jambi. Kita sudah punya stadion baru. Menurutmu bagaimana?

Dayat: Secara bangunan, itu langkah besar. Stadion itu sangat bagus untuk ukuran Jambi.

Walaupun memang belum selesai 100 persen, tribun selatan dan utara masih belum rampung. Tapi itu aset penting.

Masalahnya, saya belum melihat ada kehidupan di sana. Belum ada aktivitas rutin, belum ada kompetisi yang benar-benar menghidupkan stadion.

Host: Padahal lokasinya strategis, ya?

Dayat: Betul. Aksesnya bagus, fasilitas juga oke. Potensinya besar.

Harusnya itu jadi pusat pembinaan dan pertandingan sepak bola Jambi. Bukan hanya jadi bangunan megah.

Host: Selama ini yang banyak digelar lebih ke turnamen seremonial seperti Gubernur Cup.

Dayat: Nah, itu dia. Kami sebagai supporter sangat menyayangkan.

Gubernur Cup itu bagus, tapi sifatnya seremonial. Yang dibutuhkan adalah kompetisi berjenjang seperti Liga 4.

Kenapa? Karena Liga 4 bisa membawa klub ke level nasional. Ada jenjangnya.

Host: Dan supporter Jambi lebih antusias di Liga 4?

Dayat: Jauh lebih antusias.

Waktu Liga 4, supporter datang lebih ramai dibanding Gubernur Cup. Karena ada rasa perjuangan. Ada target naik level. Bukan sekadar euforia sesaat.

Host: Artinya pemerintah harus lebih mendukung kompetisi yang punya arah.

Dayat: Betul. Pemerintah harus hadir sebagai fasilitator. Bukan harus jadi manajer klub, tapi minimal mendukung.

Misalnya membantu promosi, membantu sponsor, memfasilitasi pertandingan.

Kalau Persijam main, wali kota bisa ikut mendorong. Kalau klub kabupaten lain main, bupati juga ikut mendukung.

Kalau semua bergerak, atmosfer sepak bola akan hidup.

Host: Berarti stadion itu harus hidup setiap minggu.

Dayat: Itu harapan kami. Tidak perlu langsung Liga 1. Minimal ada pertandingan rutin.

Setiap minggu orang bisa datang nonton bola. UMKM hidup. Ekonomi sekitar stadion bergerak. Supporter punya rumah. Pemain punya panggung.

Host: Dulu kalian juga pernah melakukan aksi ya?

Dayat: Iya, tahun 2018 kami pernah bikin gerakan “Stadionku Tak Seindah Taman Kotaku”.

Kami pasang spanduk di banyak titik lampu merah Kota Jambi.

Tujuannya supaya pemerintah sadar bahwa sepak bola Jambi butuh perhatian.

Waktu itu kami sempat diundang forum diskusi dengan KONI dan PSSI. Tapi setelah itu ya berhenti lagi. Tidak ada kelanjutan.

Host: Berarti masalah utamanya memang konsistensi.

Dayat: Betul. Kita tidak menuntut muluk-muluk. Tidak harus langsung main di Liga 1. Tapi minimal stadion berfungsi.

Ada pertandingan. Ada pembinaan. Ada akademi. Ada arah pembangunan.

Host: Kalau pemerintah lebih kreatif, sebenarnya stadion bisa dimonetisasi, ya?

Dayat: Bisa. Misalnya undang klub sekitar seperti Semen Padang atau Sriwijaya FC untuk uji coba lawan klub Jambi.

Fans mereka yang ada di Jambi pasti datang. Supporter lokal juga datang. Stadion penuh. UMKM bergerak.

Itu kan bisa jadi pemasukan juga.

Host: Kultur supporter di Jambi sendiri sebenarnya ada?

Dayat: Ada. Dan itu dibangun dari bawah. Dari anak SMP, SMA.

Dulu kami memang sengaja membangun kultur itu.

Karena di kota besar seperti Bandung dan Surabaya, anak-anak sejak kecil sudah dicekoki cinta klub daerahnya.

Di Jambi itu belum terbentuk. Bahkan anak SMA nongkrong di coffee shop, banyak yang nggak tahu klub Jambi itu apa. Itu masalah besar.

Host: Padahal pemain Jambi banyak yang potensial.

Dayat: Banyak. Contohnya Andika Kurniawan. Dia salah satu pemain terbaik asal Jambi. Pernah main di beberapa klub besar.

Artinya, bakat ada. Tinggal sistemnya yang harus dibangun.

Host: Kalau kesimpulannya?

Dayat: Sekarang kita sudah punya stadion.

Dulu kita nggak punya stadion, jadi susah berkembang.

Sekarang fasilitas sudah ada. Tinggal bagaimana PSSI, pemerintah, klub, dan supporter duduk bersama.

Bikin grand design tiga sampai lima tahun ke depan. Mulai dari akademi, kompetisi, pembinaan, sampai klub profesional.

Kalau itu jalan, saya yakin sepak bola Jambi bisa bangkit.

Host: Berarti pertanyaan besarnya kembali lagi: stadion ini dibangun untuk membangun sepak bola, atau cuma proyek semata?

Dayat: Nah, itu yang harus dijawab dengan tindakan. Bukan cuma bangun fisik, tapi juga bangun ekosistemnya.

Kalau tidak, stadion hanya akan jadi bangunan kosong. Dan itu sayang sekali.

Host: Baik, terima kasih Mas Dayat atas waktunya.

Semoga sepak bola Jambi ke depan benar-benar punya arah.

Dayat: Amin. Terima kasih.

(Tribunjambi.com/Rifani Halim)

Saksikan oblolannya di sini:

Baca juga: Daftar Angsuran KUR Mandiri untuk Pinjaman sampai Rp500 Juta selama 1-5 Tahun

Baca juga: Dirut KrediOne Bicara Literasi Keuangan hingga Perkembangan Industri Pindar

Baca juga: Cerita Tegar, Anak Muda Jambi Tembus 4 Kampus Dunia, Kairo hingga Inggris

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.