Melihat Produksi Obat di Tengah Tekanan Rupiah: Komitmen Phapros Menjaga Kualitas Farmasi Indonesia
rival al manaf June 20, 2026 07:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Nyala api membakar ujung ampul kaca yang baru saja terisi cairan obat. Dalam hitungan detik, mulut ampul itu tersegel rapat sebelum meluncur ke tahap pemeriksaan berikutnya.

Sebelum sampai di titik itu, ampul terlebih dahulu dicuci dengan air yang terpurifikasi, dipanaskan pada suhu sekitar 300 hingga 350 derajat Celsius melalui proses depirogenasi untuk menghilangkan mikroba dan pirogen.

Untuk sediaan obat injeksi, air tersebut kembali dimurnikan menjadi Water for Injection (WFI) dengan standar filtrasi lebih ketat sebelum digunakan dalam proses produksi steril.

Setelah didinginkan, cairan obat dimasukkan melalui nozzle steril, lalu kembali diperiksa satu per satu untuk memastikan volume, tinggi cairan, hingga potensi kebocoran sesuai standar.

Baca juga: Wihnawan Menangis Haru Lihat Komitmen Pemkab Kendal Bantu Korban Kebakaran

Baca juga: Tak Hanya Menghafal, Santri Tahfizh Didorong Jadi Generasi Unggul dan Mandiri

Di ruang produksi berstandar kebersihan tinggi tersebut, setiap operator mengenakan pakaian antistatis berlapis dan wajib menjalani swab test secara berkala.

Proses panjang itu menjadi gambaran bagaimana PT Phapros Tbk menjaga kualitas setiap obat yang diproduksi.

Menahan Tekanan Kurs agar Tetap Sampai ke Tangan Masyarakat

Namun di luar ruang steril, tantangan lain menanti.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat harga sebagian besar bahan baku obat yang masih bergantung pada impor ikut melonjak.

Situasi tersebut menjadi tantangan bagi hampir seluruh industri farmasi nasional, termasuk Phapros.

Direktur Keuangan, Manajemen Risiko dan SDM PT Phapros Tbk, Ferdinand Troedu, mengatakan mayoritas bahan baku perusahaan masih berasal dari luar negeri, baik secara langsung maupun melalui pemasok di dalam negeri.

"Kalau kurs dolar naik, otomatis harga bahan baku ikut naik. Dampaknya harga pokok produksi juga meningkat," ujarnya saat media gathering bertajuk Merajut Harmoni, Menguatkan Kolaborasi di kantor PT Phapros Tbk, Jalan Simongan, Semarang Barat, Sabtu (20/6/2026).

Meski demikian, perusahaan memilih tidak hanya mengandalkan penyesuaian harga jual.

Berbagai strategi dilakukan agar masyarakat tetap memperoleh obat dengan harga yang kompetitif sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis perusahaan.

Salah satunya ialah melakukan renegosiasi kontrak jangka panjang dengan pemasok bahan baku sehingga memperoleh harga yang lebih baik.

Perusahaan juga mencari alternatif pemasok dari berbagai negara agar tidak bergantung pada satu sumber.

Selain itu, efisiensi dilakukan di hampir seluruh lini produksi, mulai dari digitalisasi proses, optimalisasi mesin, hingga penghematan energi.

"Kalau sebelumnya pembelian hanya berdasarkan purchase order, sekarang kami mendorong kontrak jangka panjang. Kami juga membuka alternatif supplier sehingga ada pilihan dan daya tawar yang lebih baik," kata Ferdinand.

Langkah tersebut menjadi penting mengingat kapasitas produksi Phapros tidak kecil.

Perusahaan farmasi yang telah berdiri sejak 1954 itu kini memproduksi dan memasarkan lebih dari 200 jenis produk, mulai dari obat bebas, obat resep, obat herbal, hingga alat kesehatan seperti biomaterial bone filler (pengisi tulang) halal pertama di Indonesia yang digunakan untuk operasi ortopedi dan bedah gigi.

Antimo, TB, dan Portofolio Produk Penopang Bisnis

Salah satu produk yang menjadi tulang punggung perusahaan ialah Antimo.

Di area produksi tablet, satu mesin mampu menghasilkan sekitar dua juta tablet Antimo dalam sehari.

Dalam sebulan, perusahaan menargetkan produksi sekitar 40 hingga 50 batch, dimana tiap satu batch berisi satu juta tablen menjadikan Antimo sebagai backbone bisnis Phapros.

Produk antimabuk perjalanan itu tidak hanya dipasarkan di Indonesia, tetapi juga telah diekspor ke Kamboja.

Selain Antimo, Phapros juga tengah memperkuat sejumlah produk lain, salah satunya Noza, obat influenza yang diposisikan sebagai produk bebas (over the counter).

Noza merupakan obat flu yang menggabungkan tiga bahan aktif, yaitu Paracetamol untuk menurunkan demam dan meredakan nyeri, Pseudoephedrine sebagai dekongestan untuk melegakan hidung tersumbat, serta Triprolidine sebagai antihistamin untuk mengatasi bersin dan gejala alergi.

Sebelum dipasarkan, seluruh obat yang diproduksi harus melewati tahapan pengujian berlapis, mulai dari riset dan pengembangan (R&D), proses produksi, hingga pemeriksaan akhir oleh quality control sebelum dapat diedarkan.

Pada tahap akhir ini, obat kembali diuji untuk memastikan kesesuaian dengan standar BPOM, dan akan langsung ditolak apabila tidak memenuhi spesifikasi meskipun telah lolos proses produksi.

Selain memastikan kandungan zat aktif sesuai dengan ketentuan farmakope, perusahaan juga menegaskan pentingnya kemampuan obat untuk bekerja secara efektif di dalam tubuh.

Obat harus mampu larut sesuai waktu yang telah ditentukan agar zat aktifnya dapat terserap optimal dan memberikan efek terapi yang diharapkan.

Proses pengujian tersebut dilakukan menggunakan alat disolution tester yang mensimulasikan kondisi lambung, kemudian dilanjutkan dengan analisis menggunakan HPLC untuk memastikan profil zat aktif sesuai standar.

Jika hasil uji menunjukkan obat tidak mencapai tingkat pelarutan yang ditetapkan dalam waktu tertentu, maka satu batch produksi tidak akan dirilis ke pasar.

Direktur Pemasaran PT Phapros Tbk, Maraja Jeson Siregar, mengatakan Noza menjadi salah satu produk yang dipersiapkan sebagai calon penopang bisnis perusahaan pada masa mendatang.

Menurutnya, kemasan Noza telah diperbarui agar lebih informatif sekaligus menjangkau konsumen yang lebih luas.

"Selain Antimo, kami juga sedang memperkuat Noza. Produk ini kami siapkan menjadi salah satu produk unggulan berikutnya," katanya.

Tak hanya itu, sepanjang 2026 Phapros juga meluncurkan empat produk baru, yakni Vikom Grow untuk anak usia satu hingga enam tahun, Vikom Start bagi anak usia tujuh tahun ke atas, antibiotik bermerek Pehafos serta obat antinyeri untuk kebutuhan dental yakni Nacoflar Powder.

Di segmen herbal, Phapros memiliki sejumlah produk seperti Tebokan berbahan baku Ginkgo biloba untuk membantu mengatasi vertigo, tinnitus, dan demensia, Fitogen untuk wanita menjelang menopause, Tensigal untuk tekanan darah tinggi, Hepatogen untuk kesehatan hati, hingga obat wasir berbasis herbal.

Perusahaan juga terus mengembangkan inovasi di bidang biomaterial kesehatan. Salah satunya melalui pengembangan Bonefill dan riset cartilaginous scaffold bekerja sama dengan perguruan tinggi.

Di balik produk-produk komersial tersebut, Phapros juga memegang peran penting dalam program kesehatan nasional.

Perusahaan menjadi salah satu produsen Obat Anti Tuberkulosis (OAT) bersama Kimia Farma dan Indofarma.

Setiap bulan, sekitar 22.000 paket obat TB diproduksi dari pabrik Semarang untuk memenuhi kebutuhan program pemerintah.

Direktur Produksi PT Phapros Tbk, Ida Rahmi Kurniasih, mengatakan perusahaan siap meningkatkan kapasitas apabila pemerintah membutuhkan tambahan pasokan.

"Kalau ada produsen lain yang belum mampu memenuhi kebutuhan, kami siap membantu. Pengobatan TB tidak boleh terputus karena akan meningkatkan risiko resistensi obat," ujarnya.

Selain obat TB, Phapros juga menjadi satu-satunya produsen nasional beberapa obat tertentu seperti Aminofilin untuk terapi asma dan Primaquine untuk pengobatan malaria.

Menurut Ida, menjaga kualitas obat sama pentingnya dengan menjaga keberlangsungan pasokan.

Karena itu, setiap produk harus melewati dua tahapan pengawasan mutu, yakni saat proses produksi berlangsung dan setelah produk selesai melalui pengujian laboratorium.

Produk yang tidak memenuhi spesifikasi langsung ditolak.

"Kalau tidak memenuhi syarat langsung direject. Setelah lolos proses produksi, masih harus diuji lagi di laboratorium sebelum boleh dipasarkan," katanya.

Transformasi juga terus dilakukan perusahaan.

Pasca menjadi bagian dari Kimia Farma Group sejak 2019, Phapros mempercepat digitalisasi melalui penerapan Electronic Batch Record (EBR), sistem pembelajaran daring bagi karyawan, hingga digitalisasi pemantauan kinerja perusahaan.

Perusahaan juga memperkuat upaya konservasi energi melalui pemanfaatan panel surya, penggantian peralatan hemat energi, sistem pendingin ramah lingkungan, penghematan air, serta pemanfaatan kembali air proses produksi.

"Transformasi ini menjadi bagian dari strategi kami dalam memperkuat daya saing, meningkatkan efisiensi operasional, dan menjaga keberlanjutan bisnis di tengah tuntutan industri farmasi," kata Ida.

Ia menambahkan, kolaborasi menjadi fondasi penting bagi perusahaan dalam menghadapi tantangan industri kesehatan yang semakin dinamis.

"Kolaborasi adalah kunci. Tanpa kolaborasi, kita sendirian tidak bisa mencapai tujuan," ujarnya.

Kini, dengan 56,7 persen saham dimiliki Kimia Farma dan menjadi bagian dari holding BUMN farmasi yang dipimpin Bio Farma, Phapros berharap dapat terus memperkuat kemandirian industri farmasi nasional. (Rad)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.