Perjuangan Melawan Kemiskinan di Bali, I Wayan Andy Karyasa: Berbagi Tak Harus Menunggu Kaya
Ngurah Adi Kusuma June 20, 2026 08:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kisah menyentuh humanitas muncul dari seorang sederhana bernama I Wayan Andy Karyasa karena perjuangan melawan kemiskinan di Bali.

I Wayan Andy Karyasa bukan merupakan sosok yang datang dari keluarga kaya dan bahkan dirinya juga sempat merasakan bagaimana sulitnya hidup dalam garis kemiskinan.

Selama 21 tahun terakhir, sosok I Wayan Andy Karyasa telah mendedikasikan hidupnya untuk menyisir pelosok Bali demi membantu mereka yang terpinggirkan melalui Yayasan Relawan Bali. 

Andy bukanlah orang asing dengan penderitaan karena ia tumbuh dalam keluarga dengan ekonomi yang sangat terbatas di Peninjuan, Bangli. 

Baca juga: Rona Bahagia Ribuan Anak Yatim dan Dhuafa Saat Terima Santunan Pertamina Berkah

Ia mengungkapkan bahwa masa kecilnya yang getir, ia harus makan nasi sele (ubi jalar) dan bahkan harus bersekolah tanpa alas kaki hingga kelas 4 SD. 

Trauma kehilangan saudara kandung karena kelaparan di masa lalu menjadi utamanya untuk memastikan tidak ada lagi orang yang mengalami nasib serupa.

Awalnya, dia memulai aksi humanitasnya dari menyisihkan gaji pribadinya pada 2005 untuk membantu orang yang membutuhkan dan gerakan Andy kini telah berkembang pesat. 

Dengan prinsip "berbagi tak harus menunggu kaya", ia memanfaatkan kekuatan media sosial dan jaringan relawan untuk menyalurkan bantuan bernilai miliaran rupiah per tahun.

Baca juga: 5 Rekomendasi HP Rp2 Jutaan Bulan Juni 2026, Smartphone Entry Level Tapi Performa Berani Bersaing

Selama lebih dari dua dekade bertahan, Andy menekankan bahwa kepercayaan donatur adalah nyawanya. 

Ia memastikan transparansi laporan penyaluran dana dikelola secara ketat oleh tim adminnya.

Menariknya, hambatan terbesar justru sering datang dari aparat setempat yang merasa keberatan jika kemiskinan di wilayahnya terekspos ke publik.

Meski Andy selalu menjaga etika dengan tidak menyebut identitas atau alamat detail, namun hal ini tetap terjadi beberapa kali

Fokus Andy saat ini tetap pada pendidikan, yang ia anggap sebagai "bom waktu" jika tidak ditangani dengan serius bagi anak-anak kurang mampu. 

Baca juga: Kemenpar Pacu Pemerataan Wisata Bali Utara Hingga Banyuwangi Lewat Forum BBWI 3B

Ketika ditanya sampai kapan ia akan terus bergerak, dengan tegas Andy menjawab, "Saya tidak akan berhenti sebelum kaki saya tidak bisa berjalan." .

Baginya, kebahagiaan bukan terletak pada pujian atau status sebagai pahlawan, melainkan kepuasan batin saat melihat senyum mereka yang terbantu. 

Perjalanan Andy Karyasa menjadi pengingat bagi kita semua bahwa empati dan niat tulus adalah kekuatan terbesar untuk menciptakan perubahan nyata. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.