TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kue Talam Ketan Durian sepanjang satu kilometer bakal membelah Jalan Jenderal Sudirman, Kota Pekanbaru saat Car Free Day atau CFD pada Minggu (21/6/2026) besok pagi.
Kue yang membentang di sepanjang kawasan Car Free Day (CFD) Pekanbaru akan memecahkan rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI).
Warga bisa datang bukan hanya menjadi saksi pemecahan rekor dalam momen HUT ke 242 Pekanbaru.
Namun juga bisa menikmati Kue Talam Durian terpanjang ini.
Bagi para pengendara untuk tidak bisa melintas di Fly Over pertigaan Jalan Jenderal Sudirman-Jalan Tuanku Tambusai terhitung Minggu dinihari.
Area tersebut tutup total mulai pukul 00.00 WIB untuk persiapan acara.
Kawasan di sekitar CFD harus steril dari kendaraan mulai pukul 04.00 WIB.
Dinas Perhubungan Kota Pekanbaru memperpanjang jadwal CFD hingga pukul 10.00 WIB.
Para pengendara bisa mencari jalur alternatif untuk melintas selama acara berlangsung.
Mereka bisa melintas di ruas jalan lainnya untuk menghindari kemacetan.
Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho menyebut oleh-oleh khas dari Pekanbaru ini biasanya cuma memiliki panjang berkisar 20 centimeter.
Namun Festival Kue Talam Ketan Durian panjangnya mencapai satu kilometer.
Kue tradisional terpanjang ini bisa dinikmati oleh warga yang datang ke area CFD.
Penyelenggara bakal membagikan Kue Talam Ketan Durian inisecara gratis, sehingga seluruh warga bisa menikmatinya
"Para pengunjung nantinya bisa menikmati langsung kue talam durian dengan panjang satu kilometer ini secara gratis," ujarnya kepada Tribunpekanbaru.com.
Agung menambahkan pembuatan kue tradisional sepanjang satu kilometer ini merupakan kerjasama dengan sejumlah UMKM yang menjual kue tersebut.
Ia mengajak warga Kota Pekanbaru untuk datang ke acara ini
"Jadi untuk festival kuliner dan pembuatan Kue Talam Ketan Durian ini adalah kolaborasi dengan sejumlah UMKM di Kota Pekanbaru," ulasnya.
Tentang Rekor MURI
Rekor MURI adalah catatan resmi dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), lembaga nasional yang mencatat, memverifikasi, dan mengabadikan prestasi, karya, atau peristiwa yang bersifat terbesar, terkecil, terpanjang, terbanyak, tercepat, pertama, atau unik yang dicapai oleh individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat Indonesia.
Sejarah Singkat
MURI didirikan 27 Januari 1990 di Semarang, Jawa Tengah, atas prakarsa budayawan Jaya Suprana, awalnya bernama Museum Rekor Indonesia.
Diubah namanya menjadi Museum Rekor-Dunia Indonesia karena cakupannya meluas hingga mencatat rekor bertaraf dunia yang diciptakan warga Indonesia.
Rekor pertama tercatat 14 Juli 1990: Pejalan Kaki Termuda (Vinas V. Lindri Saputri, 6 tahun, berjalan 55 km Semarang–Jakarta).
Berlokasi tetap di Jl. Perintis Kemerdekaan No.275, Srondol Kulon, Semarang.
Tujuan dan Fungsi
- Memberikan apresiasi dan pengakuan resmi atas karya dan prestasi anak bangsa.
- Menginspirasi kreativitas, inovasi, dan semangat berprestasi masyarakat.
- Mendokumentasikan sejarah budaya, seni, olahraga, pendidikan, teknologi, sosial, dan tradisi Indonesia.
- Menjadi rujukan nasional setara dengan Guinness World Records di tingkat internasional.
Bidang yang Dicatat
MURI menerima rekor dari segala bidang, antara lain :
- Seni, budaya, dan adat istiadat
- Pendidikan, sains, dan teknologi
- Olahraga dan prestasi fisik
- Kegiatan sosial, kemanusiaan, dan lingkungan
- Kuliner, industri, dan ekonomi kreatif
- Hal unik, langka, atau pertama kali ada di Indonesia atau dunia
Proses Pengajuan dan Penetapan
- Ajukan permohonan secara daring atau langsung ke kantor MURI.
- Tim verifikasi turun ke lokasi, mengukur, meneliti, dan memastikan kebenaran data.
- Jika sah dan belum pernah ada, rekor dicatat dan diberikan sertifikat penghargaan resmi.
- Rekor bisa dipecahkan, diperbarui, atau tetap berlaku selamanya.
Hasil
Hingga kini, ribuan rekor telah tercatat, diterbitkan dalam buku tahunan, dan dipamerkan di museum sebagai bukti kekayaan kreativitas Indonesia.
( Tribunpekanbaru.com / Fernando Sikumbang )