3 Keuntungan Iran dari Perjanjian Damai dengan AS, Begini Nasib Program Rudal dan Selat Hormuz
Putra Dewangga Candra Seta June 20, 2026 11:32 PM

 

SURYA.co.id – Kesepakatan yang dicapai antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik sekaligus membuka kembali jalur diplomasi dinilai memberikan sejumlah keuntungan strategis bagi Teheran.

Selain membuka peluang pemulihan ekonomi melalui ekspor minyak, kesepakatan ini juga menawarkan prospek pencairan aset yang selama ini dibekukan serta peluang penghapusan sanksi internasional yang lebih luas.

Perjanjian yang ditandatangani pada Rabu (17/6/2026) malam waktu setempat itu mengakhiri fase konfrontasi yang berlangsung sejak serangan Israel dan AS terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Berdasarkan dokumen yang dibaca pejabat AS dan dilaporkan Associated Press, kedua negara pada dasarnya kembali ke posisi sebelum konflik pecah sekitar 3,5 bulan lalu.

Meski nota kesepahaman telah resmi berlaku, Washington dan Teheran tetap akan melanjutkan pembicaraan di Swiss pada Jumat (19/6/2026) untuk membahas program nuklir Iran secara lebih rinci.

Ekspor Minyak Iran Kembali Berpeluang Mengalir

Salah satu keuntungan terbesar bagi Iran adalah penangguhan sanksi terhadap ekspor minyak yang sebelumnya diberlakukan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Dengan kebijakan tersebut, Iran kembali memiliki kesempatan menjual minyak mentah ke pasar global tanpa berbagai hambatan yang selama ini membatasi perdagangan energi negara itu.

Tahun lalu, Iran diperkirakan memperoleh pendapatan sekitar 45 miliar dollar AS dari ekspor minyak.

Namun sejak blokade diberlakukan pada April 2026, ekspor minyak Iran hampir berhenti total.

Sebelumnya, Iran hanya mengandalkan China sebagai pembeli utama dan harus menggunakan armada tanker bayangan untuk menghindari sanksi internasional.

Kondisi tersebut membuat keuntungan yang diperoleh menjadi tidak maksimal.

Kini, dengan dibukanya kembali akses pasar internasional, Iran berpeluang mendapatkan lebih banyak pelanggan dan menjual minyaknya dengan harga yang lebih kompetitif sesuai harga pasar global.

Selat Hormuz Dibuka, Aktivitas Perdagangan Berpotensi Normal

BERTAHAN - Tangkap layar WN yang menunjukkan posisi kapal-kapal di Selat Hormuz. Iran menutup kembali Selat Hormuz dan mengancam kapal yang melintas sebagai respons atas blokade AS. Strategi blokade AS di Selat Hormuz juga tak mempan terhadap Iran.
BERTAHAN - Tangkap layar WN yang menunjukkan posisi kapal-kapal di Selat Hormuz. Iran menutup kembali Selat Hormuz dan mengancam kapal yang melintas sebagai respons atas blokade AS. Strategi blokade AS di Selat Hormuz juga tak mempan terhadap Iran. (tribunnews)

Kesepakatan juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.

Selain itu, AS menyatakan akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Kebijakan tersebut diperkirakan dapat memperlancar arus perdagangan sekaligus membantu menurunkan harga energi global.

Menurut pejabat AS, kapal-kapal dapat melintasi jalur pelayaran tersebut tanpa biaya selama 60 hari. Namun kemungkinan penerapan biaya di masa mendatang masih terbuka.

Baca juga: Membedah Beda Pendapat Iran dan Trump Soal Kesepakatan: Memorandum Dulu, Damai Belakangan

Meski demikian, Iran tetap menegaskan perannya dalam pengawasan kawasan strategis tersebut.

Dilansir dari Al Jazeera, para pejabat Iran menyatakan bahwa setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz tetap harus berkoordinasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Mereka juga meminta kapal-kapal menggunakan rute yang dekat dengan garis pantai Iran.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa meskipun jalur pelayaran kembali dibuka, pengaruh Iran terhadap salah satu chokepoint energi dunia masih tetap terjaga.

Berikut sederet keuntungan yang didapat Iran dari perjanjian damai ini, dikutip dari Kompas.com.

1. Peluang Pencabutan Seluruh Sanksi Internasional

Keuntungan lain yang dianggap signifikan adalah peluang pencabutan seluruh sanksi internasional terhadap Iran.

Hal ini menjadi menarik karena pada 2018 Presiden Donald Trump menarik AS dari perjanjian nuklir Iran dengan alasan kesepakatan saat itu terlalu menguntungkan Teheran secara ekonomi.

Namun dalam rancangan kesepakatan terbaru, manfaat ekonomi yang ditawarkan justru lebih besar dibandingkan perjanjian nuklir tahun 2015.

Jika seluruh sanksi internasional benar-benar dicabut, Iran berpotensi kembali terintegrasi ke sistem ekonomi global secara lebih luas, mulai dari sektor energi, perbankan, hingga investasi asing.

2. Dana Rekonstruksi Rp5,3 Kuadriliun dan Aset Beku Akan Dicairkan

Perjanjian juga menjanjikan pembentukan dana rekonstruksi senilai 300 miliar dollar AS atau sekitar Rp5,3 kuadriliun untuk memperbaiki berbagai kerusakan akibat perang.

Salah satu pejabat AS mengatakan skema tersebut tidak mewajibkan Washington menyumbang dana secara langsung.

Namun negara-negara lain, termasuk negara-negara Arab Teluk, diperbolehkan memberikan kontribusi.

Selain itu, kesepakatan membuka jalan bagi pencairan kembali aset-aset Iran bernilai miliaran dollar AS yang selama ini dibekukan di luar negeri.

Mekanisme pencairannya masih akan dibahas lebih lanjut dalam perundingan mendatang.

3. Program Nuklir Tetap Berjalan dalam Jalur Negosiasi

Rancangan perjanjian turut mengatur uranium yang diperkaya tingkat tinggi milik Iran.

Dalam kesepakatan tersebut, tingkat pengayaan uranium harus diturunkan di lokasi penyimpanan. Namun rincian teknis terkait program nuklir Iran masih menjadi agenda utama negosiasi lanjutan.

Menariknya, isu rudal balistik Iran maupun dukungannya terhadap kelompok-kelompok sekutu seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan milisi Syiah di Irak tidak masuk dalam agenda pembahasan tahap berikutnya.

Kesepakatan sementara hanya menyebut bahwa fokus perundingan akan tertuju pada program nuklir Iran.

Jika dilihat dari hasil awal kesepakatan, Iran memang mengalami kerugian di bidang militer akibat tujuh minggu serangan AS dan Israel yang disebut merusak sejumlah fasilitas strategis, termasuk kemampuan produksi rudal.

Namun di sisi lain, Teheran memperoleh keuntungan ekonomi dan diplomatik yang tidak kecil.

Pembukaan kembali ekspor minyak, peluang pencairan aset yang dibekukan, kemungkinan penghapusan sanksi internasional, hingga dana rekonstruksi ratusan miliar dolar menjadi modal penting bagi Iran untuk mempercepat pemulihan pascakonflik.

Selain itu, fakta bahwa isu jaringan sekutu regional dan program rudal tidak masuk dalam agenda negosiasi menunjukkan Iran masih mampu mempertahankan sebagian kepentingan strategisnya.

Karena itu, meskipun perang menyebabkan kerusakan signifikan, hasil perjanjian ini dapat dianggap sebagai peluang bagi Iran untuk mengonsolidasikan kembali kekuatan ekonominya sambil mempertahankan posisi tawar dalam diplomasi kawasan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.