TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Sejumlah tokoh muda yang tergabung dalam Forum Gawagis Nusantara dan Majelis Kaum Muda NU Mataraman menyuarakan gagasan besar terkait masa depan organisasi terbesar di Indonesia tersebut jelang Munas-Konbes NU 2026.
Dalam pertemuan yang digelar di BLKK Tabassam Al Falah, Dusun Tanjang, Desa Ploso Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Sabtu (20/6/2026) para peserta membahas berbagai isu strategis, mulai dari kemandirian ekonomi organisasi, tata kelola sumber daya Nahdliyin, hingga pentingnya menjaga marwah ulama dan pesantren.
Salah satu gagasan utama yang dikemukakan adalah dorongan pembentukan sistem Baitul Maal atau pengelolaan dana umat secara terpusat guna mengoptimalkan potensi ekonomi warga NU yang jumlahnya mencapai lebih dari 100 juta orang.
Pengurus Pondok Pesantren Darul Hikam Joresan Ponorogo, Nabil Hasbullah mengatakan NU memiliki potensi ekonomi yang sangat besar apabila mampu membangun sistem pengelolaan zakat, sedekah, dan dana sosial umat secara profesional dan terintegrasi.
Baca juga: Mengenal Pondok Al Falah Ploso Kediri, Ponpes Sepuh Usia 1 Abad Tuan Rumah Munas dan Konbes NU 2026
Menurutnya, selama ini kekuatan ekonomi Nahdliyin belum sepenuhnya terpetakan dan terkelola secara maksimal sehingga perlu adanya sistem yang mampu menghimpun sekaligus mendistribusikan potensi tersebut secara lebih efektif.
"Bagaimana kalau potensi zakat atau sedekah warga NU ini dikelola secara terpusat dengan mekanisme yang tepat? Potensinya luar biasa besar, bisa mencapai triliunan rupiah," ujar Gus Nabil sambil menyebut nantinya gagasan tersebut akan dibawa saat pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama 2026.
Nabil menilai perubahan karakter masyarakat NU dari basis tradisional menuju masyarakat yang semakin modern harus direspons dengan sistem tata kelola organisasi yang lebih maju, termasuk dalam hal pendataan warga dan pemetaan potensi ekonomi daerah.
Menurutnya, setiap daerah memiliki kekuatan ekonomi, sosial, dan kultural yang berbeda-beda. Jika seluruh potensi tersebut dipetakan secara sistematis, maka dapat menjadi kekuatan besar bagi organisasi.
Selain itu, pendataan yang akurat juga akan memudahkan NU dalam merumuskan program pemberdayaan yang tepat sasaran bagi warga Nahdliyin di berbagai daerah.
Senada dengan itu, koordinator wilayah Mataraman Barat Forum Gawagis Nusantara, Rendra Setiawan atau Gus Rendra menegaskan bahwa kemandirian ekonomi merupakan fondasi utama bagi terwujudnya kemandirian politik organisasi.
Menurutnya, selama organisasi masih memiliki ketergantungan terhadap bantuan pihak luar, maka ruang gerak organisasi dalam menentukan sikap akan selalu dipengaruhi oleh berbagai kepentingan.
"Kemandirian dan kedaulatan politik itu tidak bisa dilepaskan dari kemandirian dan kedaulatan ekonomi. Itu keniscayaan bagi NU dengan jumlah warga yang sangat besar," katanya.
Rendra bahkan mencontohkan potensi zakat warga NU yang menurut perhitungannya dapat mencapai lebih dari Rp20 triliun per tahun apabila dikelola secara optimal.
"Kalau warga NU 100 juta dan yang membayar zakat secara konsisten 25 juta orang saja dengan nilai Rp500 ribu sampai Rp1 juta per tahun, nilainya bisa di atas Rp20 triliun. Itu sudah cukup untuk membiayai berbagai program organisasi secara mandiri," ujarnya.
Menurutnya, keberadaan Baitul Maal yang profesional dapat menjadi instrumen penting untuk mengakumulasi kekuatan ekonomi warga NU sekaligus mengurangi ketergantungan organisasi terhadap bantuan negara maupun kelompok pemodal tertentu.
Selain isu ekonomi, Forum Gawagis Nusantara juga menyampaikan sejumlah pandangan terkait arah organisasi menjelang Muktamar ke-35 NU.
Mereka menegaskan pentingnya menjaga marwah ulama dan pesantren sebagai fondasi utama Nahdlatul Ulama, sekaligus memastikan organisasi tetap berjalan sesuai khittah dan tradisi yang diwariskan para pendiri.
Para tokoh muda NU tersebut juga mengingatkan agar hubungan NU dengan kekuasaan tetap berada dalam koridor yang sehat dan bermartabat.
Baca juga: Pantauan Terkini Munas-Konbes NU 2026, Tokoh Nasional dan Pejabat Mulai Hadiri Pembukaan di Kediri
Menurut mereka, NU harus terus berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui khidmah kebangsaan, namun tetap menjaga independensi organisasi dan tidak terjebak dalam kepentingan politik praktis.
"Kami tidak berbicara soal kontestasi atau dukung-mendukung figur. Siapa pun yang nanti memimpin adalah kader terbaik NU. Yang kami suarakan adalah bagaimana sistem organisasi ke depan menjadi lebih kuat, mandiri, dan berdaulat," tegas Rendra.
Melalui forum tersebut, Gawagis Nusantara berharap berbagai gagasan yang disampaikan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam Munas, Konbes, hingga Muktamar ke-35 NU mendatang.
Mereka optimistis, apabila potensi ekonomi Nahdliyin mampu dikelola secara profesional dan organisasi tetap menjaga marwah ulama serta pesantren, maka Nahdlatul Ulama akan semakin kokoh sebagai kekuatan sosial-keagamaan yang mandiri, berdaulat, dan berpengaruh di tingkat nasional maupun global.
(Isya Anshori/TribunMataraman.com)