Spektakuler, Pramuka Surabaya Cetak Tiga Rekor MURI Sekaligus di GBT, Diikuti Ratusan Ribu Peserta
Sudarma Adi June 21, 2026 12:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Bobby Koloway 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Semangat kepanduan arek-arek Kota Pahlawan benar-benar membara dan mengukir sejarah baru.

Gerakan Pramuka Kota Surabaya sukses menorehkan prestasi gemilang dengan memecahkan tiga rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sekaligus dalam sebuah perhelatan akbar yang digelar pada Sabtu (20/6/2026).

Tiga rekor dunia berskala nasional yang berhasil dipecahkan tersebut meliputi aksi emosional Basuh Kaki Orang Tua, Pengukuhan Pramuka Garuda lintas golongan secara massal, serta Demonstrasi Semaphore kolosal. Hajatan spektakuler ini dipusatkan di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya dan dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan kota.

Tampak hadir di lokasi acara Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Wakil Wali Kota Surabaya sekaligus Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Surabaya Armuji, serta Ketua Harian Kwarcab Siti Mariyam.

Baca juga: Cara Pengelola Mall dan Venue Pernikahan Antisipasi Pemadaman Listrik Bergilir di Surabaya

"Hari ini menjadi bukti nyata bagaimana jiwa Pramuka tetap bergelora dan hidup di hati arek-arek Surabaya. Ke depan, Pemerintah Kota akan berkolaborasi erat dengan Pramuka untuk menggerakkan kegiatan positif dan membangun karakter anak muda di setiap perkampungan," ujar Wali Kota Eri Cahyadi optimis di sela-sela acara.

Skala perhelatan ini terbilang sangat masif karena melibatkan ratusan ribu partisipan. Berdasarkan data resmi panitia, rekor Pengukuhan Garuda diikuti oleh 65.000 peserta dari golongan Siaga, Penggalang, Penegak, hingga Pandega. Sementara itu, momen sakral basuh kaki melibatkan total 130.000 peserta (anak dan orang tua), serta ditutup dengan kekompakan 41.337 peserta yang melakukan Demonstrasi Semaphore bersama.

Penguatan Karakter Melalui Kampung Pancasila dan Bakti Orang Tua

Wali Kota Eri Cahyadi yang juga bertindak sebagai Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Kamabicab) Pramuka Kota Surabaya memimpin langsung jalannya pengukuhan massal. Ia menekankan bahwa janji dan komitmen yang diikrarkan oleh Pramuka Garuda merupakan cerminan dari nilai-nilai luhur Pancasila yang harus diimplementasikan sejak dini.

Secara khusus, Eri memberikan apresiasi emosional terhadap rekor MURI Basuh Kaki Orang Tua. Baginya, visualisasi tersebut bukan sekadar mengejar rekor, melainkan sebuah edukasi moral dan pengingat esensial bagi generasi muda untuk selalu menaruh hormat tertinggi kepada orang tua mereka.

"Ridhonya Gusti Allah adalah ridhonya orang tua. Di dalam ajaran agama apa pun, kita selalu diperintahkan untuk menghormati, menghargai, dan meminta ridho orang tua sebelum melangkah. Pramuka Surabaya hari ini sukses memberikan contoh riil dan tauladan bagi warga lainnya," tutur Cak Eri.

Sebagai bentuk komitmen jangka panjang dalam menyokong eksistensi kepanduan, Cak Eri membocorkan bahwa Pemkot Surabaya tengah mempercepat pembangunan fasilitas Bumi Perkemahan baru. "Kami sudah menyiapkan lahannya di kawasan Jeruk, Kecamatan Lakarsantri. Insyaallah, jika pembangunannya sudah rampung total, Pramuka Surabaya akan memiliki wadah penunjang kegiatan yang representatif di sana," imbuhnya.

Mengikis Citra Monoton, Benteng Generasi Muda dari Hal Negatif

Di tempat yang sama, Ketua Harian Kwarcab Pramuka Kota Surabaya, Siti Mariyam, membeberkan alasan fundamental di balik pengemasan acara kreatif yang memecahkan rekor dunia ini. Menurutnya, gerakan Pramuka harus terus bertransformasi agar tidak ditinggalkan oleh generasi z dan alpha.

"Selama ini ada anggapan di sekolah bahwa pendidikan Pramuka itu monoton, sehingga anak-anak memakai seragamnya hanya karena instruksi, bukan karena cinta di dalam hati. Lewat acara spektakuler ini, kami ingin memantik gairah anak-anak bahwa Pramuka itu seru, tempatnya berkarya, sekaligus wadah membentuk pribadi yang nasionalis, taat agama, dan pandai bermasyarakat," urai Siti Mariyam.

Ia menambahkan, Pramuka terbukti menjadi benteng spiritual dan moral yang efektif bagi anak-anak Surabaya di tengah gempuran arus modernisasi. Dengan menyibukkan diri pada aktivitas kepanduan yang positif, potensi kenakalan remaja atau perilaku buruk di luar lingkungan sekolah dapat ditekan seminimal mungkin.

Menariknya, kemeriahan pemecahan rekor MURI ini tidak hanya tersentralisasi di dalam stadion GBT. Panitia mendesain acara secara hibrida dengan melibatkan ribuan siswa yang tersebar di titik-titik ikonik kota, mulai dari kompleks Monumen Tugu Pahlawan, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, SMK Negeri 5 Surabaya, Kebun Bibit, hingga halaman sekolah-sekolah di seluruh penjuru Surabaya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.