TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG – Aroma es kopi dan manisnya hidangan donat menemani sebuah perbincangan hangat di sebuah rumah yang asri di kawasan Larangan, Kota Tangerang, Banten.
Di luar, matahari tepat berada di atas kepala, menandakan waktu zuhur baru saja masuk.
Di ruang tamu yang cukup luas itulah, Findy Oktavian Apriati (33) duduk dengan senyum semringah.
Dari rumah itu ia mengendalikan FindMeera, sebuah bisnis merek pakaian daily wear dan daster kaftan premium asal Kota Tangerang, yang produknya kini telah melanglang buana hingga ke benua Australia dan Afrika.
Siapa sangka, empat tahun lalu, Findy adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sebuah kementerian dengan masa kerja genap satu dekade.
Namun, panggilan jiwa sebagai seorang kreator dan dorongan untuk mandiri, membuatnya berani mengambil keputusan besar pada tahun 2022: melepas seragam abdi negara dan terjun ke dunia wirausaha.
"Maksudnya kalau di kementerian gitu ya udah, kerja ya begitu aja. Karena kita dulu pernah orang lapangan, awalnya di humas, kemudian pindah ke administratif. Itu kayaknya agak sulit waktu itu. Intinya jiwa lapangan dan seni saya lebih kuat," kenang Findy membuka cerita.
Dari situlah akhirnya muncul FindMeera tahun 2022. "Terus aku resign, akhirnya 'udah lah Bismillah nih.' Belum mulai nih, FindMeera belum mulai. Tapi aku sudah memutuskan resign sebagai PNS," kenangnya.
Findy yang memiliki latar belakang pendidikan S1 Ilmu Komunikasi Jurusan Broadcast di Universitas Budi Luhur di Jakarta Selatan, mengaku menyukai seni desain grafis dan fotografi sejak bangku kuliah.
Karakter dasar itulah yang membuatnya tetap tajam melihat peluang bisnis di tengah masa-masa sulit pasca-pandemi.
Baca juga: Kisah Ipeh Bangkit dari Badai PHK: Modal Rp134 Ribu Menembus Pasar Global bersama Rumah BUMN BRI
Keputusan resign itu diambil setelah Findy melakukan perjalanan dinas di Yogyakarta, yang merupakan dinas pertamanya setelah pelonggaran aturan Covid-19.
Dari perjalanan itulah, sebuah ide bisnis lahir. Saat pandemi, tren bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) meledak.
Perempuan dituntut tetap rapi saat rapat virtual, namun mendambakan kenyamanan maksimal. Pilihan Findy jatuh pada daster—sebuah pakaian rumahan yang kerap dipandang sebelah mata.
"Riset digital kami di marketplace menunjukkan limbah fesyen di Indonesia didominasi oleh daster karena stigma cepat robek dan lusuh, yang dianggap sebelah mata. Kami ingin mendobrak itu agar nantinya bisa sejajar dengan brand fashion yang lain," katanya.
"Kami ingin mengubah daster menjadi pakaian kasual premium yang elegan, timeless berbentuk kaftan, dengan kualitas jahitan stik balik semi-butik, bukan sekadar obrasan biasa," jelas Findy.
Namun, mengubah daster biasa menjadi produk medium-to-high class butuh pondasi kuat.
Findy menghabiskan waktu hingga tujuh bulan untuk berburu kain putih berbahan 100 persen rayon alami yang tersertifikasi OEKO-TEX Standard 100.
Komponen baku ini ia peroleh dari perusahaan global Asia Pacific Rayon (APR) di Sumatra melalui jaringan patungan gulungan kain bersama rekan-rekannya.
Sertifikasi internasional yang ketat ini menjamin kain bebas dari zat kimia berbahaya seperti formaldehida, pestisida, dan pewarna azo yang dapat memicu iritasi pada kulit sensitif atau kulit bayi.
Dengan menggandeng para pengrajin di Solo untuk menerapkan teknik pewarnaan celup ikat (tie-dye) serta lukis tangan (hand painting), lahirlah merek FindMeera, yang diambil dari bahasa Arab yang berarti "Temukan Cantikmu".
Baca juga: Dari Dapur Kontrakan ke Rak Swalayan, Lompatan Cuan Kebab Endul Berkat Rumah BUMN BRI
Sebagai mantan pekerja kantoran dan abdi negara yang tidak memiliki latar belakang bisnis dasar, Findy mengaku sempat buta arah mengenai strategi pemasaran dan manajemen bisnis di tahun pertama.
"Company profile ada, katalog beres, tapi saya bingung mau dibawa ke mana produk ini. Mau sewa buzzer di media sosial, harganya selangit untuk ukuran modal awal," kata Findy jujur.
Pada tahun pertama, Findy hanya memproduksi daster dalam jumlah sangat kecil, sekitar 25 meter kain yang hanya menghasilkan 10 hingga 20 baju.
Produk tersebut ia tawarkan secara terbatas di circle terdekat seperti teman, saudara, dan mantan rekan kantor, dengan target utama mengenalkan identitas Findy sebagai penjual daster.
Titik balik FindMeera terjadi di awal tahun 2023 ketika Findy melihat unggahan di Instagram mengenai wadah belajar bagi UMKM.
Tanpa ragu, ia mendaftarkan diri dan berhasil lolos kurasi untuk mengikuti BRIncubator 2023, sebuah program inkubasi intensif yang diselenggarakan oleh Rumah BUMN BRI.
Selama satu bulan penuh, Findy bolak-balik mengikuti pelatihan berjenjang di Rumah BUMN.
Di sana, ia dibedah dan diajarkan dasar-dasar bisnis profesional, mulai dari pemisahan keuangan pribadi dan usaha, digitalisasi, hingga cara menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) yang benar.
"Ternyata selama ini cara kami menghitung HPP salah, produk kami kemurahan. Di Rumah BUMN kami diajarkan strategi pricing dan marketing yang tepat untuk target pasar premium," ungkap Findy, yang kemudian sukses menyabet Juara 3 Kategori Fesyen pada ajang BRIncubator 2023.
Prestasi tersebut langsung membuka pintu pameran perdana FindMeera di Sarinah, Jakarta, sebuah ruang pamer bergengsi yang difasilitasi penuh oleh BRI tanpa biaya sewa.
Koordinator Rumah BUMN BRI Jakarta, Jajang Rohmana, menjelaskan bahwa Rumah BUMN BRI di wilayah Jabodetabek dan Banten saat ini telah menaungi dan membina sedikitnya 11.000 pelaku UMKM.
Melalui model pendampingan hulu-ke-hilir, Rumah BUMN diposisikan sebagai inkubator produktif untuk mencetak pengusaha lokal agar memiliki daya saing global.
Jajang memahami, bagi pelaku usaha mikro, meninggalkan tempat usaha untuk mengikuti pelatihan berhari-hari adalah tantangan berat karena berisiko menurunkan omzet harian yang seharusnya didapat dari waktu produksi.
Oleh karena itu, BRIncubator menerapkan sistem kurasi ketat dan menjanjikan insentif nyata berupa akses pasar.
"Kalau pelatihan-pelatihan saja, sebenarnya buat mereka juga harus menghabiskan waktu. Omzet yang biasanya dipakai produksi, ini dialihkan untuk mengikuti pelatihan. Karena itu, goal utama kami adalah membawa mereka ke pameran-pameran, baik lokal maupun skala internasional seperti Trade Expo," tegas Jajang Rohmana.
Bekal ilmu dari BRI tersebut menjadi batu loncatan besar. Pada tahun 2024, FindMeera sukses meraih Juara 2 UMKM Award di Kota Tangerang.
Komitmen pengembangan digitalnya juga berbuah manis pada tahun 2025, saat FindMeera dilirik oleh Bank Indonesia dan dinobatkan sebagai UMKM Terbaik Kategori Digital di tingkat provinsi.
Baca juga: Kisah Sebatang Duri Emas dari Jelambar: Dirawat Bak Anak, Dibesarkan Rumah BUMN BRI
Lompatan besar FindMeera tidak berhenti di pasar domestik. Findy mulai memanfaatkan fasilitasi pameran untuk membaca selera pasar internasional.
Melalui pameran Asia-Afrika di Bali pada akhir 2023, ia mulai mempelajari karakteristik selera konsumen global yang berbeda-beda.
"Karakter pasar Afrika menyukai warna-warna berani yang mencolok, sedangkan pasar Asia dan Timur Tengah lebih menyukai warna soft," katanya.
"Di Malaysia, seleranya berbeda lagi. Mereka memiliki motif khas tersendiri bernama Bunga Raya Malaysia. Kami bahkan membuat custom kain putih bermotif tersebut yang sudah memiliki HAKI untuk keperluan penjualan skema B2B ke tengkulak dan butik di sana," papar Findy.
Kini, FindMeera telah mengikuti berbagai ajang internasional, mulai dari bazar di TRX Mall Kuala Lumpur yang diinisiasi oleh KBRI, hingga pameran Global Sourcing tekstil di Sydney dan Melbourne, Australia.
Di pameran Australia, Findy menyadari keunggulan mutlak produk handmade Indonesia di tengah gempuran produk massal Tiongkok.
"Di seberang paviliun Indonesia ada China Textile yang areanya seluas ballroom. Namun untuk produk handmade seperti tie-dye dan lukis tangan, mereka tidak mau bikin karena prosesnya pelan dan cuaca mereka tidak mendukung. Mereka lebih memilih fokus pada efisiensi teknologi cetak print cepat. Di situ keunikan dan potensi besar UMKM Indonesia masih sangat menjanjikan," tuturnya penuh optimisme.
Keunikan desain daster lukis tangan premium FindMeera dibanderol dengan harga kisaran Rp175.000 hingga Rp225.000 per potong.
Kualitas premium ini diakui langsung oleh para penggunanya. "Bajunya bagus-bagus, nyaman banget dipakai. Bisa dipake santai di rumah atau buat pergi-pergi," puji Dilla Sigit, salah satu konsumen FindMeera.
Kenyamanan produk ini pula yang membuat FindMeera laris manis di toko fisik offline Galeria Anara, Bandara Soekarno-Hatta, yang menjadi kanal penjualan tersuksesnya karena sangat diminati oleh wisatawan mancanegara yang transit.
Dalam mengelola usaha, Findy membagi peran secara harmonis dengan suaminya yang berstatus pekerja swasta.
Sang suami mendedikasikan waktu cutinya khusus untuk mengurus negosiasi pasar luar negeri, buyer internasional, dan skema B2B, sementara Findy fokus penuh pada pengembangan produk dan pengelolaan B2C di dalam negeri dengan dibantu dua karyawan kontrak serta tiga tenaga lepas untuk keperluan penjaga stan bazar bulanan.
Baca juga: Dari Korporat ke Keripik Sehat, Kisah Irvan Wijaya Naik Kelas Bersama Rumah BUMN BRI
Ketika peluang ekspor dan permintaan pameran ke luar negeri meningkat tajam pada tahun 2024, FindMeera sempat membentur tembok keterbatasan permodalan untuk mengejar kapasitas produksi massal yang diminta oleh Kementerian Perdagangan untuk keperluan eksibisi di Melbourne.
Di saat mendesak itulah, fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI hadir menjadi solusi.
"Tahun 2024 kita perlu ke Melbourne, kita butuh dana cepat. Kita ambil tuh, sempat ambil KUR BRI 100 juta. Prosesnya cepat banget karena memang BRI juga udah tahu track record kita di Rumah BUMN," ujarnya.
"Saya mengajukan, besoknya survei, sorenya langsung cair karena mereka melihat cash flow dan potensi pasar kita aman. Bunganya so far masih aman dan bisa dimasukkan ke harga produksi tanpa membebani HPP. Kita tinggal menaikkan target penjualan saja," kata Findy.
Suntikan modal KUR tersebut berhasil mendongkrak kapasitas produksi ekspor FindMeera hingga menyerap bahan baku sebanyak 10.000 yard atau setara 5.000 potong daster per bulan.
Menariknya, FindMeera menerapkan sistem kemitraan yang luas untuk menjaga fleksibilitas operasional.
Di Solo, FindMeera memberdayakan sekitar 20 pekerja pabrik dan rumahan untuk proses pewarnaan kain, sementara contoh pola dibuat di Tangerang dan dijahit berkolaborasi dengan jaringan mitra penjahit lokal di kawasan Cipadu serta para penjahit custom semi-butik di sekitar rumahnya yang kekurangan pemasukan akibat pergeseran tren pasar ke pakaian siap pakai.
Keberhasilan FindMeera merupakan potret nyata dari keberhasilan program pemberdayaan ekonomi kerakyatan secara makro yang dijalankan oleh BRI melalui instrumen pembiayaan KUR.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menjelaskan bahwa sebagai penyalur KUR terbesar di tanah air, BRI terus memperkuat kontribusinya terhadap roda ekonomi produktif nasional, termasuk mendukung ketahanan pangan dalam program Asta Cita ke-2 Pemerintah melalui swasembada pangan.
Hingga periode April 2026, BRI mencatatkan total penyaluran KUR sebesar Rp65,95 triliun kepada sekitar 1,3 juta debitur di seluruh Indonesia, di mana porsi terbesar yakni 66,47 persen diarahkan langsung ke sektor produksi yang meliputi pertanian, perikanan, dan industri pengolahan.
"KUR merupakan instrumen pembiayaan BRI dalam mendukung sektor usaha mikro dan sektor produktif. BRI pun senantiasa menyalurkan KUR dengan memperluas akses permodalan, yang tidak hanya berdampak pada penciptaan lapangan kerja, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas usaha serta perputaran ekonomi di berbagai wilayah," terang Akhmad Purwakajaya dalam keterangannya.
Sektor pertanian menjadi penyerap terbesar dengan porsi mencapai Rp27,95 triliun atau setara 42,38%, yang di dalamnya menjangkau 558 ribu petani dan 23 ribu nelayan dalam empat bulan pertama tahun 2026.
Dalam pelaksanaannya, BRI tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan akuntabilitas guna menjaga kualitas kredit tetap sehat, mengingat dana KUR bersumber sepenuhnya dari penghimpunan dana masyarakat di perbankan.
Indikator keberhasilan penyaluran modal ini tercermin dari tingginya angka debitur yang berhasil menaikkan kapasitas skala bisnisnya.
Hingga April 2026, tercatat sebanyak 307 ribu debitur BRI telah berhasil naik kelas, atau telah mencapai 31,96ri target tahunan sebesar 962 ribu debitur.
Di sisi lain, jangkauan fasilitas pembiayaan ini terus meluas di level domestik, di mana kini tercatat sekitar 19 dari setiap 100 rumah tangga di Indonesia telah mengakses fasilitas KUR BRI, meningkat dari tren tahun 2025 (18 rumah tangga) dan 2024 (17 rumah tangga).
Menutup perbincangan di ruang tamu rumahnya siang itu, Findy yang kini juga kerap diundang menjadi pembicara dalam workshop binaan Rumah BUMN membagikan pesan mendalam bagi masyarakat yang ingin memulai usaha.
"Buat yang baru kepengin usaha, pertama cari produk yang disukai dan temukan masalahnya untuk diberikan solusi bernilai tambah atau value pemberdayaan. Kalau bingung mau mulai dari mana, gas aja dulu!" katanya.
"Sekarang UMKM tidak sulit mendapat akses pembinaan seperti dulu. Datang saja ke Rumah BUMN BRI untuk belajar dan duduk di sana. Persiapkan kualitas produk dan profil usaha sebaik mungkin sejak awal, karena ketika kita sudah mempersiapkan diri dengan benar, kesempatan-kesempatan besar pasti akan datang membukakan jalannya sendiri," pungkas Findy menyudahi obrolan sore itu.