Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Ajang balap Pertamina Mandalika Recing Series 2026 putaran kedua, sukses digelar dengan antusiasme tinggi talenta muda Indonesia, Sabtu (20/6/2026).
Sebanyak 106 starter tercatat berpartisipasi dalam enam kelas yang diperlombakan, terdiri dari empat kelas kejurnas dan dua sporting race.
Kompetisi ini tidak hanya sekadar ajang adu kecepatan, tetapi menjadi wadah bagi pembalap lokal untuk beradaptasi dengan standar balap dunia.
Head of Organizing Committee of Pride, Arief Syahbani, menjelaskan, pada putaran kedua ini, pihaknya melakukan penyesuaian regulasi yang mengacu pada aturan Federasi Balap Motor Internasional (FIM).
Langkah ini diambil guna memberikan edukasi dini kepada para pembalap mengenai aturan main di level global.
“Kita mulai pelan-pelan mengacu pada FIM. Ada beberapa aturan baru yang kita terapkan seperti hukumannya adalah double long lap penalty bagi yang melanggar jam start,” ucap Arief Syahbani kepada wartawan di Sirkuit Mandalika.
Baca juga: Pertamina Belum Pastikan Masa Kontrak dengan Sirkuit Mandalika
Aturan teknis lainnya seperti kewajiban melapor ke race direction jika motor rusak pada saat kualifikasi. Dengan begitu mereka tetap bisa ikut balapan meskipun harus memulai dari pit lane.
Selain aspek teknis mesin, penyelenggara juga menekankan pentingnya perilaku dan etika profesional di area sirkuit.
Pit lane merupakan area yang memisahkan trek balapan dengan pit box. Menjadi jalur keluar masuk pembalap ke lintasan.
Mengingat banyak pebalap Indonesia yang akan berlaga di Asia Road Racing Championship (ARRC) bulan depan, pemahaman mengenai aturan pit lane sangat krusial.
“Kita terus mengedukasi pemahaman mereka, attitude, kemudian juga perlakuan mereka di sirkuit karena kita sudah mulai terapkan aturan dilarang merokok di sepanjang pit. Hal-hal kecil ini bisa membawa nama baik Indonesia ketika bertanding di luar negeri,” ujar Arief.
Meskipun regulasi ini baru diterapkan secara bertahap pada putaran kedua, para pembalap dinilai mulai bisa beradaptasi dengan baik demi menambah wawasan internasional mereka.
Keberhasilan pembalap Indonesia seperti Veda Ega Pratama, Ramadipa, Arai Agaska, hingga Felix PM di kancah internasional menjadi inspirasi utama dalam gelaran ini.
Melalui kelas pembinaan seperti Junior Sport 250 U-18 dan Indonesia Junior Talent Cup 150 (U-15), diharapkan lahir bintang-bintang baru yang akan mengharumkan nama bangsa.
Lebih jauh Arief optimis bahwa melalui standarisasi regulasi dan pembinaan usia dini ini, masa depan balap motor Indonesia akan semakin cerah.
“Diharapkan dari pembinaan pembalap-pembalap muda itu akan lahir generasi-generasi penerus dari Veda, Ramadipa, Arai, dan Felix di level internasional,” pungkasnya.