Represi Teatrikal Kolektif Artjokes, Seniman Duga Alami Kekerasan, ARTJOG Yogyakarta Minta Maaf
ninda iswara June 21, 2026 09:38 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Represi dialami oleh Ayik dari Kolektif ARTJOKES saat menyuguhkan pertunjukan teatrikal, Jumat (19/6/2026).

Ayik mengalami kejadian tak menyenangkan dalam gelaran ARTJOG saat perform di Jogja National Muiseum (JNM).

Aksi yang dilakukan oleh Ayik ini merupakan bentuk protes terhadap keterlibatan Didit Hediprasetyo Foundation (DHF) sebagai sponsor pameran seni tahunan itu.

Kronologi Kejadian hingga Dugaan Kekerasan

Ayik yang merupakan penampil ini terlihat mengenakan pakaian serba hitam dan penutup kepala.

Ia menebar bunga tabur dan berteriak ketika berjalan memasuki pintu utama ARTJOG.

“Sastra telah mati. Seni telah mati. Intelektual tanpa hasrat,” ujarnya sembari menaburkan bunga ke tanah.

Dalam sebuah aksi yang berlangsung di area ARTJOG, Ayik kemudian mengeluarkan spidol dari balik pakaiannya dan menuliskan kata “Art” pada selembar kertas putih.

Baca juga: Intel Kepergok, Diamankan Mahasiswa UMY, Polda Yogyakarta Klarifikasi, JPW: Memalukan Institusi

Tak berselang lama, suasana di lokasi mulai memanas ketika terdengar tiga kali lemparan dari arah belakang menuju dinding utama pintu masuk ARTJOG, hingga cat berwarna merah muda terlihat mengenai dan melumuri tembok.

Insiden tersebut membuat petugas keamanan segera bertindak dan mengamankan Ayi dari lokasi kejadian.

Sebelum dibawa ke pos satpam, sempat terjadi perdebatan yang disertai aksi saling dorong antara petugas keamanan dan seniman tersebut.

Setelah situasi mereda, Ayi yang didampingi beberapa rekannya akhirnya dipertemukan dengan pihak panitia ARTJOG untuk dimintai keterangan.

Ayik juga mengaku mendapatkan kekerasan dari petugas keamanan yang membawanya.

"Woi, jangan pakai kekerasan! Ini (aksi) kesenian, jangan pakai kekerasan. Enggak ada kekerasan di sini," teriak seseorang dari kerumunan tersebut.

"Kalau di dalam (saat dialog dengan penyelenggara pascaaksi) aman. Cuma waktu (setelah) pentas (teatrikal), lalu ditangkap, terjadi beberapa pemukulan," ucapnya malam itu saat dijumpai awak media di lokasi kejadian, dikutip dari TribunJogja.

Ia menjelaskan bahwa penampilan teater tunggal tersebut berangkat dari keresahan pribadinya, terutama terkait kehadiran DHF sebagai sponsor ARTJOG 2026.

“Ya memang dari saya pribadi emang resah dan ya nggak relevan aja sama ARTJOG sekarang. Apalagi ada Didit dan lain sebagainya itu, sponsor-sponsor yang di belakangnya,” ujarnya kepada awak media.

Menurutnya, aksi tersebut merupakan bentuk ekspresi simbolik atas kegelisahan yang ia rasakan terhadap situasi tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa simbol-simbol seperti bunga, cat, dan kertas digunakan sebagai medium penyampaian pesan.

“Ya, seperti yang disaksikan sama teman-teman tadi memang. Dengan bunga-bunga dan juga cat serta kertas buat mengekspresikan hal-hal yang saya resahkan tadi. Jadi bunga-bunga kayak seakan, ya memang seni itu udah mati,” ulasnya.

Penyesalan Pihak ARTJOG hingga Dukung Kebebasan Berekspresi

Melalui akun X @artjog, dinyatakan jika penyelenggara memahami kekhawatiran dan perhatian yang muncul akibat peristiwa tersebut.

"ARTJOG sangat menyesalkan peristiwa yang terjadi terhadap aksi penyampaian pendapat di area fasad setelah seremoni pembukaan," tulisnya, Sabtu (20/6/2026) malam.

ARTJOG menyatakan memiliki standar prosedur operasional yang tidak memperkenankan tindakan represif maupun bentuk kekerasan terhadap kejadian apa pun.

Saat ini pihaknya tengah melakukan penelusuran dan pengumpulan informasi dari berbagai pihak yang berada di lokasi kejadian untuk dapat memahami kronologi insiden tersebut secara utuh.

"ARTJOG berkomitmen untuk menjaga dan mendukung kebebasan berekspresi yang tidak merugikan orang lain," tulis penyelenggara.

Baca juga: Intel Diamankan di Yogyakarta, Wakil Rektor UMY Kritik, Harus Izin: Jangan Gerak-Gerik Mencurigakan

KERICUHAN ARTJOG YOGYAKARTA - Seorang seniman teater, Ayik saat melakukan pertunjukan tunggal sebagai protes keterlibatan DHF dalam ARTJOG 2026 di JNM, Yogyakarta, Jumat (19/6/2026). (TribunJogja.com/Almurfi Syofyan)

Permintaan Maaf

Direktur Program ARTJOG 2026, Gading Paksi, menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang terjadi terhadap Ayik dan kolektif ARTJOKES.

Ia menegaskan bahwa pihaknya akan terlebih dahulu melakukan koordinasi internal dengan tim penyelenggara dan keamanan untuk menelusuri kronologi kejadian.

"Saya mohon waktu untuk bicara kepada tim kami, kepada tim keamanan juga, sebenarnya kronologinya tadi (insiden pascaaksi) seperti apa," jelasnya, Jumat (19/6/2026) malam.

Gading menekankan bahwa ARTJOG selalu membuka ruang seluas-luasnya bagi kebebasan berekspresi.

Menurutnya, seluruh bentuk ekspresi, termasuk kritik melalui pertunjukan teatrikal, tetap dihormati oleh penyelenggara.

"Kami tekankan kepada seluruh tim bahwa kami membuka seluas-luasnya ruang berekspresi seperti yang Mas Ayik lakukan tadi," imbuhnya.

Ia juga menegaskan bahwa ARTJOG tidak pernah memiliki niat untuk menghalangi kritik dalam bentuk apa pun.

Bahkan, ia menyebut tindakan represif seperti pemukulan tidak pernah menjadi bagian dari standar prosedur penyelenggara.

Atas insiden tersebut, pihak ARTJOG meminta waktu untuk melakukan investigasi secara menyeluruh.

Gading memastikan bahwa hasil penelusuran akan segera disampaikan kepada publik setelah proses selesai.

Terkait protes mengenai keterlibatan DHF sebagai sponsor ARTJOG 2026, ia menjelaskan bahwa festival ini bergantung pada dukungan berbagai pihak.

Ia menyebut ARTJOG bukan institusi dengan modal besar, sehingga keberlangsungan acara sangat dipengaruhi oleh sponsor tahunan.

“Oh, ya. Kami sebenarnya memang peristiwa seni yang juga bertahan, gitu ya. Bertahan bagaimana kami melaksanakan festival kami setiap tahun, gitu. Tentu saja kami bukan dari korporasi yang punya modal yang sangat kuat, punya kekuatan yang sangat kuat untuk bagaimana kami bisa berjalan setiap tahunnya,” ulasnya.

Gading juga menegaskan bahwa pihaknya mendengar seluruh kritik publik terkait keterlibatan sponsor tersebut.

“Pasti akan menjadi bahan evaluasi kami, bahan pembicaraan kami. Komitmen kami tentu saja selalu berpijak pada kebebasan berekspresi teman-teman semuanya. Teman-teman seniman dan teman-teman yang mungkin mengaku bukan seniman,” ujarnya.

DHF dan Isu Artwashing

Munculnya nama Didit Hediprasetyo sebagai salah satu sponsor di ARTJOG 2026 sontak menjadi sorotan publik.

Hal ini terjadi di tengah kondisi kebangsaan yang dinilai belum stabil dan masih menghadapi berbagai persoalan kompleks.

Sejumlah isu seperti ekonomi, politik, sosial, hukum, hingga lingkungan turut memperkuat perhatian terhadap situasi tersebut.

Dalam konteks ini, isu “artwashing” atau pencitraan melalui jalur seni mulai mencuat dan menjadi perbincangan.

Kondisi tersebut kemudian memicu munculnya resistensi terhadap pelaksanaan ARTJOG 2026 yang menuai pro dan kontra.

Padahal, ARTJOG selama ini dikenal sebagai salah satu ruang penting bagi perkembangan seni kontemporer di Indonesia.

(TribunTrends/Ninda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.