Pameran Seni 'Post-Machine Algorithm', Hadirkan Karya Seniman Lintas Negara
Yoseph Hary W June 21, 2026 03:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Ratusan karya seni dari tangan mahasiswa dan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta hingga seniman asal Thailand, Malaysia, Jepang, dan Australia ditampilkan melalui pameran Post-Machine Algorithm: Resonansi Rasa dalam Jejaring Biner di Galeri R.J. Katamsi ISI Yogyakarta selama 20–26 Juni 2026. 

Pameran ini dikuratori oleh Nadiyah Tunnikmah, Lily Elserisa, dan Khoirul Anam. Nadiyah menyampaikan bahwa pameran ini, dihadirkan sebagai ruang pembacaan kritis terhadap perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi, dan perubahan lanskap kreatif kontemporer.

"Ada ratusan karya yang ditampilkan. Ada karya tugas, karya alumni. Karena ini kan semua Fakultas Seni Rupa dan Desain ya. Jadi, ada dari Seni Murni, Kriya, Desain, Konservasi. Karena latar belakang mahasiswa kami macam-macam, ada dari luar Jogja. Jadi, mereka bawa pengalaman sendiri terkait budayanya," ucapnya, Minggu (21/6/2026).

Ruang apresiasi

Pameran ini terbuka sebagai ruang apresiasi bagi sivitas akademika dan publik untuk melihat bagaimana seni bekerja di tengah zaman yang semakin digerakkan oleh data, mesin, dan kecerdasan buatan.

Dengan menghadirkan karya-karya yang memadukan refleksi konseptual, kekuatan visual, dan kedalaman gagasan, Post-Machine Algorithm menjadi penegasan bahwa di era Artificial Intelligence (AI), seni tetap memiliki peran sentral dalam menjaga rasa, empati, imajinasi, dan martabat kemanusiaan.

"Jadi memang, masing-masing peserta memiliki latar belakang budaya, sehingga diekspresikan dalam karya mereka. Dan mereka mampu mendefinisikan seni di tengah perkembangan AI dengan perspektif masing-masing. Karena, dari kota besar pengalaman tekonologinya berbeda dengan di desa," tuturnya.

Melalui pendekatan para kuratorial, Post-Machine Algorithm dapat membaca relasi manusia dan mesin dalam lanskap pasca-digital. Karya seni tidak semata diposisikan sebagai hasil akhir, melainkan sebagai proses yang menyimpan intuisi, pengalaman hidup, memori kolektif, dan jejak kemanusiaan yang tidak sepenuhnya dapat direplikasi oleh mesin.

Gagasan utama pameran ini berangkat dari pertanyaan mendasar tentang posisi manusia ketika teknologi semakin mampu mengambil alih sebagian proses kreatif. Dalam pameran ini, seni dipahami sebagai ruang negosiasi antara 'Rasa' sebagai representasi tradisi, tubuh, intuisi, dan pengalaman manusia, dengan 'Logika' sebagai representasi sistem, kode, data, dan algoritma.

Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta, Muhamad Sholahuddin, menyebut, beberapa program studi di ISI Yogyakarta ada yang menggunakan AI secara masif. Sebagai contoh Prodi Desain Interior telah menugaskan mahasiswanya dalam menggunakan AI.

"Tapi, penggunaan AI itu di bagian brainstorming. Jadi, mahasiswa ketika mencari ide-ide itu dibantu AI, sehingga mereka semakin kreatif dan banyak ide-ide yang dibantu oleh AI. Setelah itu, mereka baru mengembangkan lewat yang lain, sehingga diakhir bisa lebih bagus," katanya.

Dengan demikian, penggunaan AI dalam seni ini hanya sebagai tools atau alat yang membantu mereka. Namun, pilot tetap berada di tangan manusia atau siswa yang menciptakan karya seni. 

Dalam konteks perkembangan AI, praktik artistik diposisikan sebagai ruang untuk merespons, menegosiasi, sekaligus memulihkan hubungan manusia dengan lingkungan sosial dan budaya yang terus berubah.

Membawa dampak

Sementara itu, Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi, berujar, di era kecerdasan buatan, seni melalui kekuatan manusia diharapkan terus berdampak. Untuk itu, ada berbagai jenis karya yang ditampilkan dengan eksplorasi seni berlandaskan kekuatan ide manusia.

"Tentu kita tetap mengantisipasi dengan perkembangan AI, sehingga kalau dilihat ada karya yang beragam dan menunjukkan berbagai potensi untuk perkembangan ke depan. Karena, secara garis besar, kami mempersiapkan diri terhadap disrupsi AI dari sisi algoritma dan lainnya," tutur dia.

Pameran itu sendiri sudah dibuka sejak Sabtu (20/6/2026) malam. Sebelumnya, terdapat pertunjukan musik hingga peragaan busana kontemporer guna mengembangkan kreativitas, inovasi, dan pelestarian budaya melalui praktik pendidikan seni yang relevan dengan perkembangan zaman.

Salah satu pengunjung dari Australia yang datang untuk program kolaborasi musik di ISI Yogyakarta, Jo Redfearn, mengaku senang melihat potensi seni di ISI Yogyakarta. Demikian pula dengan karya seni rupa yang dinilai sangat menginspirasi.

"Ada banyak kreativitas dan kemahiran. Ini sangat menyenangkan untuk saya berada di sini. Dan saya sudah berada di sini (Jogja) selama seminggu, karena saya bekerja dengan pelajar ISI Yogyakarta dalam departemen musik, sehingga saya bisa mengetahui kalau ada pameran di sini," tutup dia.(nei)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.