TRIBUNMANADO.CO.ID - Pelita, renungan Pria Kaum Bapa (P/KB) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) dalam sepekan mulai 21 - 27 Juni 2026.
Pembacaan alkitab terdapat pada Kejadian 9:1-17.
Tema perenungan adalah Inilah Tanda Perjanjian yang Kuadakan Antara Aku dan Segala Makhluk yang Ada di Bumi.
Khotbah:
Sahabat-sahabat Pria/Kaum Bapa yang dikasihi dan diberkati Tuhan,
Ada banyak perjanjian yang dibuat Tuhan dengan manusia. Ada perjanjian Tuhan dengan keluarga Abraham,
tandanya adalah sunat.
Ada perjanjian Tuhan dengan umat Israel di Sinai, tandanya adalah perayaan hari Sabat.
Dan saat ini kita merenungkan tentang perjanjian Tuhan dengan keluarga Nuh, tandanya adalah pelangi.
Lalu mengapa pelangi disebut perjanjian? Ceritanya panjang yakni berawal dari dosa manusia:
Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata" (Kejadian 6:5).
Kejahatan mereka begitu besar hingga Allah menjatuhkan penghakiman atas dunia.
Namun, Allah tetap penuh belas kasih kepada manusia. Para ahli memperkirakan pembangunan bahtera memakan waktu sekitar 75 tahun - cukup panjang untuk memberi kesempatan bagi manusia untuk menanggapi penghukuman yang akan datang.
Manusia lebih suka hidup dalam kejahatan dan akhirnya dunia telah dihukum dengan air bah karena dosa manusia, tetapi Nuh dan keluarganya diselamatkan karena memilih hidup dalam kebenaran dan ketaatan di tengah dunia yang penuh kejahatan.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Siapa yang taat ada berkat. Nuh dan keluarganya mendapatkan berkat.
Allah mengulangi berkat yang pertama kali diberikan kepada Adam: "Beranak cuculah dan bertambah banyaklah, penuhilah bumi."
Ini adalah pemulihan martabat manusia sebagai gambar Allah. Namun, ada aturan baru:
Manusia boleh memakan daging, tetapi darah tidak boleh dimakan karena darah adalah lambang kehidupan (ayat 4).
Darah yang tertumpah akan diminta pertanggungjawabannya (ayat 5-6). Hidup kita pun harus menjadi berkat yang melindungi, bukan merusak kehidupan orang lain terutama keluarga dan sesama yang lemah.
Allah berkata: "Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan segala makhluk yang hidup, burung-burung, ternak, binatang
binatang liar.
"Ini unik! Alkitab menunjukkan bahwa Allah peduli pada seluruh ciptaan. Keselamatan bukan hanya untuk manusia,
tetapi untuk bumi dan segala isinya. Kita pun dipanggil menjadi penatalayan atas alam.
Dengan menjaga lingkungan di seki, rumah, gereja, dan tempat kerja. Kita tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, atau mengurangi penggunaan plastik.
Karena jika kita merusak alam, kita melukai hati Allah yang mengikat perjanjian dengan segala makhluk.
Sesudah air bah, Allah menaruh pelangi di awan sebagai lambang pengharapan, sekaligus janji-Nya untuk tidak lagi
menghancurkan dunia dengan air bah.
Di sinilah Allah mengambii inisiatif untuk mengikat perjanjian bukan hanya dengan Nuh, tetapi dengan segala makhluk hidup di bumi.
Jemaat yang diberkati Tuhan,
Allah berjanji tidak akan lagi memusnahkan bumi dengan air bah. Dia berkata.
"Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi" (ay. 16).
Tanda perjanjian itu adalah pelangi (bahasa Ibrani: qeshet), yang juga berarti "busur perang".
Pelangi adalah busur perang yang digantungkan Allah sebagai tanda bahwa perang terhadap dosa sudah berakhir.
Pelangi adalah perjanjian antara dua pihak, namun kedua pihak itu sama sekali tidak sederajat.
Tuhanlah yang membuat prakarsa, manusia yang menerima, "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi."
Pelangi bukan hasil pertobatan manusia melainkan hasil anugerah Tuhan. Isi perjanjian itu pun bersifat anugerah: Allah
mau berdamai dengan kita juga makhluk yang hidup.
Janji ini bersifat kekal dan tanpa syarat dengan sepenuhnya didasarkan pada perlindungan dan pemeliharaan-Nya, bukan pada apa yang diperbuat manusia.
Hari ini, apa pun yang kita hadapi, mungkin kita berjalan sendiri di tengah dunia yang berjalan bersama untuk hidup dalam
kejahatan, namun kiranya kita diyakinkan pada tanda kehadiran dan kesetiaan Allah.
Kita mungkin tidak setalu mendapat jawaban berupa pelangi yang terbentang di iangit, tetapi kita memiliki jaminan bahwa dalam setiap musim kehidupan, Tuhan selalu hadir bagi kita.
Kiranya kita dikuatkan dan dihiburkan oleh kehadiran-Nya yang setia. Amin.
Pertanyaan Untuk PA:
1. Mengapa Allah menyertakan seluruh ciptaan dalam perjanjian ini?
2. Dalam konteks keluarga dan persekutuan P/KB, bagaimana kita dapat menjadi 'pelangi' bagi istri, anak, dan sesama?