Jamasan Air 7 Sumber hingga Curhat Bareng Warga, Desa Prawatan Rawat Alam, Toleransi dan Masa Depan
Delta Lidina June 21, 2026 05:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM, KLATEN – Sekitar 670 warga dari 13 RW di Desa Prawatan, Kecamatan Jogonalan, Klaten, berkumpul dalam kegiatan Umbul Donga Lintas Iman, Jamasan, dan Jagongan Refleksi Desa, Jumat (19/6/2026) malam. 

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Bumi Sangkara Fest Vol. 2 yang mengusung tema pelestarian lingkungan, penguatan toleransi, sekaligus penyusunan arah pembangunan desa.

Suasana Balai Desa Prawatan malam itu berlangsung khidmat. Tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, dan Hindu duduk berdampingan memanjatkan doa secara bergantian. Di depan mereka berjajar kendi berisi air dari tujuh sumber mata air, sementara sejumlah alat pertanian, alat pertukangan, hingga perlengkapan siaga bencana ditata untuk menjalani prosesi jamasan.

Kepala Desa Prawatan Sabiq Muhammad mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya mengumpulkan seluruh warga melalui pendekatan budaya dan lingkungan.

"Agenda malam ini adalah Umbul Donga Lintas Iman, Jamasan dan Jagongan Refleksi Desa. Ini merupakan rangkaian dari kegiatan Bumi Sangkara Fest tahun 2026 di mana ini salah satu kegiatan yang mengumpulkan semua warga dalam upaya melestarikan lingkungan melalui kegiatan kebudayaan," ujarnya.

Menurut Sabiq, rangkaian kegiatan sebenarnya telah dimulai sejak 14 Juni 2026 melalui gerakan bersih desa. Warga bergotong royong membersihkan jalan, fasilitas umum, sungai, dan saluran air di lingkungan masing-masing.

"Kegiatan ini mulai sejak 14 Juni yaitu seluruh warga Desa Prawatan membersihkan wilayahnya termasuk jalan, tempat-tempat umum, dan juga sungai yang menjadi sumber kehidupannya," katanya.

Puncak kegiatan ditandai dengan prosesi jamasan menggunakan air dari tujuh sumber mata air yang selama ini menjadi penopang pertanian warga.

JAMASAN ALAT PERTANIAN - Kepala Desa Prawatan Sabiq Muhammad bersama tokoh lintas agama melakukan prosesi jamasan alat pertanian menggunakan air dari tujuh sumber mata air dalam kegiatan Umbul Donga Lintas Iman, Jamasan, dan Jagongan Refleksi Desa, di Balai Desa Prawatan, Jumat (19/6/2026) malam.
JAMASAN ALAT PERTANIAN - Kepala Desa Prawatan Sabiq Muhammad bersama tokoh lintas agama melakukan prosesi jamasan alat pertanian menggunakan air dari tujuh sumber mata air dalam kegiatan Umbul Donga Lintas Iman, Jamasan, dan Jagongan Refleksi Desa, di Balai Desa Prawatan, Jumat (19/6/2026) malam. (TribunSolo/Ibnu Dwi Tamtomo)

"Air ini berasal dari tujuh sumber air yang digunakan warga desa perawatan, terutama petani untuk mengairi sawahnya," jelas Sabiq.

Ia menegaskan, jamasan bukan sekadar ritual penyiraman alat pertanian. Sebelum kegiatan berlangsung, pemuda dan anak-anak desa diajak menelusuri sumber-sumber air untuk memahami kondisi lingkungan yang sebenarnya.

"Sebenarnya tujuan utamanya bukan hanya jamasan mengalirkan air, tapi ada proses di mana muda-mudi dan anak-anak kita ajak untuk keliling desa melihat sendiri selama ini air mana yang digunakan dan bagaimana keadaan perairan saat ini," terangnya.

Dari pemantauan tersebut, warga menemukan debit sejumlah mata air dan sungai mulai menurun. Kondisi itu menjadi perhatian karena diperkirakan akan muncul ancaman kekeringan pada musim kemarau tahun ini.

"Dan ternyata di beberapa bendung yang kami temui debit mata air sudah semakin menurun. Sekarang juga aliran-aliran sungai sudah semakin mengecil," katanya.

Pemerintah Desa Prawatan bahkan telah memetakan potensi lahan terdampak kekeringan.

"Memperhatikan debit saat ini, kemungkinan di beberapa lahan ada di dua kelompok yaitu di Saribuana 1 dan Saribuana 2. Kemungkinan akan terdampak kekeringan dan tidak mendapatkan akses air dari bendung," ujarnya.

Menurutnya, luas lahan yang berpotensi terdampak mencapai sekitar 42 hektare.

JAGONGAN REFLEKSI DESA - Ratusan warga mengikuti Jagongan Refleksi Desa di Balai Desa Prawatan, Jogonalan, Klaten, Jumat (19/6/2026), untuk menyampaikan aspirasi pembangunan desa tahun 2027.
JAGONGAN REFLEKSI DESA - Ratusan warga mengikuti Jagongan Refleksi Desa di Balai Desa Prawatan, Jogonalan, Klaten, Jumat (19/6/2026), untuk menyampaikan aspirasi pembangunan desa tahun 2027. (TribunSolo/Ibnu Dwi Tamtomo)

"Yang terdampak kemungkinan sekitar 42 hektar," katanya.

Meski demikian, kondisi air saat ini masih relatif aman.

"Kondisi untuk saat ini masih aman sampai di minggu ketiga bulan Juni. Kalau kita memperhatikan debit air yang ada di sungai di bendung saat ini, kemungkinan masih bisa bertahan sampai minggu ke-3 bulan Juli," jelasnya.

Jika kondisi memburuk, petani terpaksa menggunakan sumur bor. Namun langkah itu berusaha dihindari.

"Yang sebenarnya sumur tancap (bor) itu sangat kami hindari karena sumur tancap itu sebenarnya air yang menjadi hak anak cucu 50 tahun ke depan," tegasnya.

Selain alat pertanian, warga juga menjamasi alat siaga bencana dan alat pertukangan sebagai simbol mata pencaharian utama masyarakat desa.

"Sebenarnya alat pertanian ini bagian dari pertanian, ini merupakan simbol dari sumber penghidupan. Manusia tidak akan bisa hidup kalau tidak makan. Pertanian ini adalah sumber utama penghidupan yaitu makan dan minum," paparnya.

Kegiatan malam itu juga menjadi ruang memperkuat toleransi antarumat beragama.

"Lintas iman sebenarnya ini upaya kami dalam menjamin bahwa semua keimanan di Desa Prawatan, kepercayaan apapun punya hak yang sama untuk hidup dan tinggal di desa perawatan. Tidak ada diskriminasi dan juga tidak ada perbedaan," ujarnya.

"Yang hadir pada malam hari ini yang terkumpul dalam PKUB yaitu ada Islam, ada Kristen, Katolik dan Hindu," lanjutnya.

Menariknya, seluruh konsumsi yang disajikan dalam kegiatan tersebut berasal dari swadaya masyarakat.

"Dan snack pada malam hari ini warga iuran sendiri," katanya.

Setelah doa bersama dan jamasan selesai, warga mengikuti Jagongan Refleksi Desa. Forum tersebut menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik, saran, hingga harapan pembangunan.

"Kegiatan malam ini ditutup agenda terakhir adalah jagongan refleksi desa."

"Ini momen pertama kali seluruh warga desa perawatan berkumpul, bukan untuk menonton pertunjukan, tapi untuk saling berkeluh kesah, memberi kritik, memberi saran dan bagaimana kita pada malam hari ini bersama-sama membangun Desa Prawatan seperti apa yang kita kehendaki," ujarnya.

Sabiq mengatakan hasil forum tersebut akan menjadi bahan penyusunan program pembangunan tahun 2027, terutama di tengah keterbatasan anggaran desa.

"Maka dengan cara kita mengumpulkan, kita berkeluh-kesah, kita ngobrol bareng ini sebagai upaya yang menurut kami di Pemerintah Desa Prawatan lebih efektif untuk menjaring harapan-harapan pembangunan," jelasnya.

"Mengingat dana desa saat ini hanya tersisa 30 persen dari biasanya. Pembangunan akan terganggu dan juga bantuan keuangan dari Kabupaten Provinsi juga tentu saja akan semakin menipis," pungkasnya. (TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.