BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Kenaikan harga sejumlah bahan pendukung usaha, seperti kantong plastik dan styrofoam, mulai dirasakan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) bidang kuliner di Kabupaten Tapin.
Salah satunya dialami pemilik Dapur Aisyah, Mita Rosati, yang berjualan di kawasan Rantau Baru, Kelurahan Rantau Kiwa, Kecamatan Tapin Utara.
Saat ditemui, Minggu (21/6/2026), Mita mengaku terpaksa melakukan penyesuaian harga pada sebagian menu yang dijualnya untuk menutupi meningkatnya biaya operasional.
"Kalau tambah lauk menjadi Rp 15 ribu," ujarnya.
Mita menjelaskan, sebelumnya seluruh menu yang dijual dibanderol Rp 10 ribu per porsi.
Namun kini, menu nasi mandai dan nasi campur mengalami kenaikan harga menjadi Rp 13 ribu per porsi.
Baca juga: Lowongan Kerja Terbaru PT Konimex, Terbuka Bagi Lulusan SMA/SMK, D3 dan S1, Cek Lokasi Penempatan
Baca juga: MAN 1 Tapin Uji Coba Praktik Ibadah Selama Libur Sekolah, Siswa Diminta Salat Berjamaah
Sementara itu, menu nasi ayam geprek masih dipertahankan pada harga lama, yakni Rp 10 ribu per porsi.
Menurutnya, kenaikan harga tersebut sudah diberlakukan sejak setelah Hari Raya Idul Adha dan berlangsung hingga sekarang atau sekitar dua bulan terakhir.
Selain kenaikan harga bahan makanan, meningkatnya biaya pembelian kantong plastik dan styrofoam juga menjadi salah satu faktor yang mendorong penyesuaian harga jual.
Meski demikian, Mita bersyukur pelanggan Dapur Aisyah masih tetap datang membeli menu yang disajikan.
Ia menilai sebagian besar pelanggan, khususnya kalangan perempuan, memahami kondisi yang dihadapi pelaku usaha sehingga dapat menerima kenaikan harga tersebut.
"Para pembeli dari kaum lelaki yang biasanya kaget dan bertanya karena sebelumnya semua menu hanya Rp 10 ribu," ungkapnya.
Mita berharap harga bahan kebutuhan usaha dapat kembali stabil sehingga pelaku UMKM tidak perlu terus melakukan penyesuaian harga yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat.
(Banjarmasinpost.co.id/Mukhtar Wahid)