El Nino Diprediksi Picu Lonjakan Harga Pangan di 2026, Inflasi Indonesia Bisa Tembus 4,5 persen
Abdul Rosid June 21, 2026 07:07 PM

 

TRIBUNBANTEN.COM - Ancaman fenomena cuaca ekstrem El Nino diperkirakan kembali menekan perekonomian Indonesia pada 2026, terutama melalui jalur pangan yang berpotensi mendorong kenaikan inflasi nasional hingga menyentuh 4 hingga 4,5 persen di akhir tahun.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menyebut tekanan inflasi tersebut sangat mungkin terjadi apabila dampak El Nino mulai terasa pada sektor produksi dan distribusi pangan dalam negeri.

"Inflasi diperkirakan akan mengarah ke 4 % -4,5 % di akhir tahun 2026," ujar David kepada Kontan, Minggu (21/6/2026).

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak pada perubahan pola cuaca global. 

Baca juga: Hadapi Musim Kemarau, Pemkab Serang Siapkan Pompa Air & Irigasi, Petani Diminta Percepat Masa Tanam

Di Indonesia, kondisi ini umumnya identik dengan berkurangnya curah hujan, musim kemarau yang lebih panjang, hingga meningkatnya potensi kekeringan di sejumlah sentra produksi pertanian.

Sejumlah lembaga meteorologi internasional memperkirakan El Nino mulai berkembang pada periode akhir Juni hingga Juli 2026 dan dapat berlangsung hingga Oktober atau November di tahun yang sama.

Kondisi tersebut dinilai berisiko mengganggu produktivitas pertanian nasional karena keterbatasan pasokan air, sekaligus meningkatkan ancaman gagal panen di berbagai daerah.

David menilai sektor pangan akan menjadi sumber utama tekanan inflasi pada paruh kedua 2026. Penurunan produksi di tingkat petani diperkirakan akan berdampak langsung pada berkurangnya pasokan di pasar.

Sejumlah komoditas strategis yang berpotensi mengalami kenaikan harga antara lain beras, gula, daging ayam, telur, cabai, bawang merah, hingga jagung.

"Dampak El Nino akan mengerek harga bahan pokok seperti beras, gula, ternak seperti ayam dan telur, serta hasil perkebunan seperti cabai, bawang, dan jagung," kata David.

Untuk memitigasi risiko tersebut, David meminta pemerintah memastikan kelancaran distribusi bahan pangan serta menjaga kecukupan pasokan di pasar.

Langkah antisipatif dinilai penting agar kenaikan harga tidak semakin menekan daya beli masyarakat.

"Pemerintah harus memastikan distribusi barang dan jika diperlukan melakukan impor bahan-bahan pokok tersebut agar dapat dipastikan pasokannya," ujarnya.

Peringatan tersebut sejalan dengan kekhawatiran Bank Indonesia yang sebelumnya menyebut fenomena El Nino sebagai salah satu faktor risiko inflasi pada semester II-2026.

Selain gangguan cuaca, tekanan inflasi juga berpotensi berasal dari imported inflation atau rambatan kenaikan harga energi dan komoditas global ke dalam negeri.

"Faktor risiko inflasi yang menjadi perhatian adalah rambatan global, yaitu harga minyak dan komoditas ke dalam negeri atau imported inflation. Yang kedua, ini belum terjadi tetapi kita sudah alert untuk menghadapinya, yaitu gangguan cuaca," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman belum lama ini.

Dengan potensi tekanan dari sisi pasokan pangan dan gejolak harga global, inflasi pada akhir tahun diperkirakan akan bergerak lebih tinggi dibandingkan level saat ini per Mei yang sebesar 3,08 % yoy. 

Karena itu, koordinasi pemerintah, Bank Indonesia, serta pemerintah daerah menjadi krusial untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan menjelang puncak dampak El Nino.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.