Viral Perkelahian Remaja Perempuan di Buleleng, Polisi Segera Panggil Pihak Terlibat
Ida Ayu Suryantini Putri June 21, 2026 09:03 PM

 


TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Peristiwa perkelahian remaja kembali menjadi perbincangan di media sosial.

Mirisnya, perkelahian ini dilakukan oleh remaja perempuan. 

Video aksi perkelahian ini diunggah pada Sabtu (20/6/2026), dan mendapat ratusan respons dari warganet.

Dari keterangan yang tercantum, perkelahian ini berlokasi di jalan Gunung Lempuyang, Kelurahan Banjar Tegal, Buleleng. 

Baca juga: VIDEO Viral! Dua Remaja Wanita Adu Jotos di Depan Museum Geopark Batur Kintamani Bali

Pada video berdurasi 59 detik itu nampak dua perempuan remaja saling melempar tendangan dan pukulan.

Setelahnya salah satu remaja yang mengenakan celana panjang, mengambil botol berisi air kemudian menyiram ke lawannya sampai dia menangis. 

Kapolsek Kota Singaraja, Kompol Gede Juli saat dikonfirmasi mengaku pihaknya sudah melakukan penyelidikan.

Namun pihak kepolisian belum bisa memberikan keterangan mengenai status mereka, apakah masih pelajar atau tidak.

Baca juga: Malam Pengerupukan di Buleleng Bali, 690 Personel Disiagakan, Antisipasi Mabuk hingga Perkelahian

Demikian pula mengenai masalah apa yang melatarbelakangi pertengkaran itu. 

Rencananya pada Selasa (23/6/2026) atau Rabu (24/6/2026), seluruh pihak yang terkait akan dipanggil ke polsek untuk dimintai keterangan.

"Sudah saya lidik. Rencananya kita panggil nanti. Setelah kita undang baru tahu lebih jelas," ucap Kompol Juli, Minggu (21/6/2026). 

Aksi perkelahian tersebut turut mendapat sorotan dari tokoh publik asal Buleleng, Gede Pasek Suardika.

Baca juga: Dugaan Pelecehan Saat PKB Viral, Ini Tanggapan Satpol PP Bali

Menurutnya, perkelahian satu lawan satu di kalangan anak muda sebenarnya bukan hal baru. 

Dahulu, kata dia, jika terjadi perselisihan, para remaja biasanya menyelesaikannya dengan berkelahi satu lawan satu.

Bahkan kerap diantar oleh teman-temannya ke pantai.

"Kalau zaman dulu biasa ada berkelahi satu lawan satu kalau ada masalah. Teman-temannya mengantar, berkelahinya di pantai. Setelah itu selesai dan kembali lagi. Temannya mendamaikan, masalah selesai. Bahkan banyak yang akhirnya bersahabat. Biasanya sih laki-laki," ujarnya.

GPS menilai perkelahian dua remaja perempuan yang viral tersebut masih berlangsung satu lawan satu.

Namun, ia menyayangkan tindakan salah satu pelaku yang menyiram lawannya menggunakan air setelah perkelahian berakhir.

Menurutnya, tindakan tersebut tidak mencerminkan karakter masyarakat Singaraja yang selama ini dikenal menjunjung sportivitas dan penyelesaian masalah secara baik.

"Mungkin emansipasi, perempuan tidak mau kalah dengan laki-laki. Tapi seharusnya begitu selesai langsung dipisahkan dan selesai. Kalau seperti ini kesannya tidak baik dan tidak sportif. Jauh dari ciri khas gaya Singaraja," imbuhnya.

GPS mengusulkan agar energi para remaja diarahkan ke kegiatan yang lebih positif.

Salah satunya melalui olahraga bela diri sehingga bakat dan kemampuan yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara lebih bermanfaat.

"Sekalian saja anak-anak itu dididik jadi atlet bela diri biar ada manfaatnya, daripada hanya untuk tontonan yang tidak bermanfaat," ucapnya.

Selain itu, GPS menilai kondisi saat ini membuat banyak orang tua kesulitan memantau pergaulan anak-anaknya karena kesibukan mencari nafkah.

Sementara para remaja cenderung mencari lingkungan pergaulan sendiri.

Karena itu, ia menekankan pentingnya keluarga, lingkungan, dan sekolah menyediakan lebih banyak aktivitas positif bagi remaja agar mereka tidak memiliki ruang untuk melakukan hal-hal yang tidak produktif.

"Memang perlu banyak aktivitas positif disiapkan oleh keluarga, lingkungan maupun sekolah, sehingga tidak ada waktu untuk hal-hal yang tidak produktif," pungkasnya. (*)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.