Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU – Siapa sangka tulang ikan tenggiri yang selama ini kerap dianggap limbah dan berakhir di tempat pembuangan dapat disulap menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Di sebuah rumah produksi sederhana di Kelurahan Sukarami, Kecamatan Selebar, Kota Bengkulu, aroma gurih khas olahan laut tercium sejak memasuki area produksi.
Di tempat inilah tulang ikan tenggiri yang sebelumnya kurang dimanfaatkan diolah menjadi kerupuk renyah yang kini banyak diburu sebagai camilan maupun oleh-oleh khas Bengkulu.
Berawal dari sebuah kompetisi bisnis, inovasi tersebut kemudian berkembang menjadi usaha rumahan yang menghasilkan Kerupuk Tuiri, camilan khas Bengkulu yang semakin diminati masyarakat hingga luar daerah.
Kerupuk Tuiri merupakan kerupuk kalsium berbahan dasar tulang ikan tenggiri.
Produk ini lahir dari kreativitas pelaku usaha lokal yang melihat potensi besar dari limbah perikanan yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Pemilik rumah produksi Kerupuk Tuiri, Muhammad Rofiq Akbar, mengatakan ide usaha tersebut bermula saat dirinya mengikuti kompetisi bisnis pada 2018.
Kompetisi tersebut mengangkat tema pemanfaatan hasil pertanian dan perikanan agar memiliki nilai guna serta nilai jual yang lebih tinggi.
“Awalnya kita ada kompetisi bisnis bertemakan pemanfaatan hasil pertanian, agar memiliki nilai jual dan nilai guna,” ujar Rofiq saat ditemui di rumah produksinya, Minggu (21/6/2026).
Dari kompetisi tersebut, Rofiq mulai memikirkan potensi limbah tulang ikan tenggiri yang banyak dihasilkan dari usaha pengolahan ikan di Bengkulu.
Selama ini, sebagian besar masyarakat hanya memanfaatkan daging, kulit, maupun kepala ikan, sementara bagian tulangnya sering kali terbuang percuma.
Melihat kondisi tersebut, ia kemudian melakukan berbagai percobaan untuk mengolah tulang ikan menjadi produk yang layak konsumsi dan memiliki nilai ekonomi.
“Dari hasil eksperimen itulah kemudian terciptalah Kerupuk Tuiri ini, yang berbahan dasar tulang ikan tenggiri,” katanya.
Memanfaatkan Limbah yang Melimpah
Sebagai daerah pesisir, Bengkulu memiliki pasokan ikan tenggiri yang cukup melimpah.
Di berbagai usaha pengolahan ikan, daging ikan dimanfaatkan untuk beragam produk makanan, sementara tulangnya masih sering menjadi limbah yang belum banyak dimanfaatkan.
Kondisi inilah yang dilihat sebagai peluang oleh Rofiq.
Menurutnya, tulang ikan tenggiri masih memiliki kandungan gizi yang baik sehingga berpotensi diolah menjadi produk pangan bernilai tambah.
Rumah produksi Kerupuk Tuiri sendiri mulai dirintis pada 2019 atau sekitar satu tahun setelah kompetisi bisnis yang menjadi inspirasi lahirnya produk tersebut.
Sejak saat itu, usaha tersebut terus berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap produk olahan berbahan dasar hasil laut.
Tidak hanya memberikan nilai tambah terhadap limbah perikanan, keberadaan Kerupuk Tuiri juga menjadi salah satu contoh pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
Melalui Proses Panjang dan Higienis
Di lokasi produksi, proses pembuatan Kerupuk Tuiri dilakukan melalui sejumlah tahapan untuk memastikan kualitas produk tetap terjaga.
Perjalanan tulang ikan tenggiri hingga menjadi kerupuk siap konsumsi dimulai dari proses pembersihan bahan baku.
Tahap pertama dilakukan dengan membersihkan tulang ikan tenggiri dari sisa daging dan darah.
Proses ini dilakukan secara menyeluruh agar bahan baku tetap higienis dan tidak menimbulkan aroma yang mengganggu.
Setelah bersih, tulang ikan kemudian digiling menggunakan mesin hingga menghasilkan tekstur yang sangat halus.
Hasil gilingan tersebut selanjutnya dicampur dengan berbagai bumbu pilihan hingga membentuk adonan yang merata.
Adonan kemudian dibentuk memanjang menyerupai lontong dan dikukus selama satu hingga dua jam hingga matang.
Setelah dingin, adonan diiris tipis-tipis lalu dijemur hingga kadar airnya berkurang.
Tahapan terakhir adalah proses penggorengan hingga kerupuk mengembang sempurna dan menghasilkan tekstur renyah yang menjadi ciri khas Kerupuk Tuiri.
Dari proses tersebut, lahirlah camilan gurih yang kini menjadi salah satu produk unggulan usaha rumahan tersebut.
Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini
Tantangan Meyakinkan Konsumen
Meski kini telah dikenal luas, perjalanan usaha Kerupuk Tuiri tidak selalu berjalan mulus.
Pada masa awal pengembangan usaha, Rofiq mengaku menghadapi berbagai tantangan, mulai dari urusan kemasan, perizinan, hingga produksi.
Selain itu, tantangan terbesar adalah membangun kepercayaan masyarakat terhadap bahan baku yang digunakan.
Banyak konsumen awalnya mempertanyakan keamanan dan kebersihan tulang ikan yang digunakan sebagai bahan utama produk.
“Kita juga sudah BPOM. Kita meyakinkan bahwa tulang yang kita gunakan bukan yang sudah dibuang, melainkan memang tulang yang sudah disiapkan untuk kita,” ujar Rofiq.
Menurutnya, edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting untuk mengubah persepsi bahwa limbah perikanan tidak selalu identik dengan bahan yang tidak layak konsumsi.
Melalui proses produksi yang higienis dan pengawasan kualitas yang ketat, Kerupuk Tuiri akhirnya mampu mendapatkan kepercayaan konsumen.
Diminati hingga Luar Daerah
Seiring berjalannya waktu, Kerupuk Tuiri semakin dikenal masyarakat.
Produk ini tidak hanya menjadi camilan favorit warga lokal, tetapi juga banyak dibeli sebagai buah tangan khas Bengkulu.
Permintaan biasanya meningkat saat hari-hari besar dan musim liburan.
Kondisi tersebut membuat rumah produksi Kerupuk Tuiri harus meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Rofiq mengatakan pemasaran produknya kini tidak lagi terbatas di Kota Bengkulu.
“Selain di dalam kota kita juga sudah mulai memasarkan keluar juga seperti di Jakarta dan Palembang,” katanya.
Peningkatan permintaan tersebut menjadi bukti bahwa produk lokal berbasis inovasi mampu bersaing dan diterima oleh konsumen di berbagai daerah.
Kreativitas Mengubah Limbah Menjadi Peluang
Kisah Kerupuk Tuiri menunjukkan bahwa peluang usaha dapat lahir dari sesuatu yang selama ini sering dianggap tidak bernilai.
Berawal dari tulang ikan tenggiri yang kerap terbuang, produk ini tumbuh menjadi salah satu olahan khas yang diminati masyarakat.
Melalui kreativitas dan keberanian berinovasi, limbah tulang ikan tenggiri berhasil diubah menjadi produk unggulan yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi limbah perikanan.
Dari sebuah kompetisi bisnis hingga berkembang menjadi usaha rumahan yang mampu menjangkau pasar luar daerah, Kerupuk Tuiri menjadi contoh nyata bahwa inovasi sederhana dapat menciptakan peluang besar.
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan produk lokal yang unik dan bernilai tambah, Kerupuk Tuiri membuktikan bahwa limbah bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari lahirnya peluang usaha yang menjanjikan.