TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
Langkah tersebut diambil menyusul tudingan Teheran bahwa Israel telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dijamin oleh Amerika Serikat.
Otoritas militer Iran menyebut pelanggaran itu sebagai bentuk pengkhianatan terhadap komitmen yang telah disepakati dalam upaya meredakan konflik kawasan.
Penutupan Selat Hormuz diumumkan hanya beberapa hari setelah jalur tersebut sempat dibuka kembali sebagai bagian dari kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat.
Iran menilai serangan dan operasi militer Israel di Lebanon menjadi bukti bahwa kesepakatan perdamaian tidak dijalankan sebagaimana mestinya.
Pemerintah Iran bahkan memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz hanyalah langkah awal dan tidak menutup kemungkinan adanya tindakan lanjutan apabila pelanggaran terus berlanjut.
Di sisi lain, Amerika Serikat membantah klaim bahwa jalur pelayaran tersebut benar-benar ditutup dan menegaskan lalu lintas kapal komersial masih berlangsung.
Perbedaan pernyataan antara Iran dan AS pun memicu kebingungan sekaligus kekhawatiran di pasar global terkait keamanan pasokan energi dunia.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk, sehingga setiap gangguan berpotensi mengguncang harga energi internasional.
Situasi terbaru ini menandai babak baru ketegangan geopolitik yang berisiko memperburuk hubungan Iran, Israel, dan Amerika Serikat di tengah rapuhnya proses perdamaian yang sedang berlangsung.
Baca juga: Langkah Mengejutkan Trump di Tengah Krisis Energi, AS Disebut Siap Ambil Alih Selat Hormuz dari Iran
Seperti diketahui, Iran menutup kembali jalur pelayaran vital Selat Hormuz pada Sabtu (20/6/2026), menyusul serangan udara yang dilancarkan Israel ke Lebanon selatan.
Teheran menilai tindakan Israel sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang di kawasan tersebut.
"Selat Hormuz akan ditutup untuk lalu lintas kapal," demikian pernyataan tegas komando militer pusat Iran, dikutip dari AFP.
Disebutkan sejumlah alasan, yakni pelanggaran kontrak oleh AS, serta pelanggaran gencatan senjata yang terus-menerus dan tanpa henti oleh Israel di Lebanon selatan.
Padahal, selat yang menjadi jalur krusial bagi pengiriman minyak dan gas dunia ini sempat dibuka kembali dalam beberapa hari terakhir, setelah Teheran mencapai kesepakatan awal dengan Washington.
Sebelumnya, blokade Iran di selat tersebut selama perang memicu guncangan hebat pada pasar energi global.
Dampak dari eskalasi ini juga membuat kelanjutan pembicaraan antara AS dan Iran di Swiss—yang semula dijadwalkan pada Jumat (19/6/2026)—terpaksa ditunda tanpa batas waktu.
Penundaan terjadi setelah Israel melancarkan serangkaian serangan mematikan menyusul tewasnya empat tentara mereka dalam pertempuran.
Sebelum ketegangan Sabtu ini pecah, pejabat AS sebenarnya mengumumkan kesepakatan gencatan senjata baru antara Israel dan Hizbullah pada Jumat sore, yang dimediasi oleh AS dan Qatar.
Duta Besar Israel untuk Washington bahkan sempat menyatakan, pihak mereka akan menghormati gencatan senjata jika Hizbullah melakukannya.
Namun, situasi di lapangan berbanding terbalik keesokan harinya.
Pejabat militer Israel mengeklaim, pihaknya terpaksa melancarkan serangan baru karena kelompok yang didukung Iran itu meluncurkan lebih dari 50 proyektil ke pasukan Israel di Lebanon selatan sepanjang malam.
Di sisi lain, Hizbullah membantah dan justru menuduh balik Israel memanfaatkan momentum tersebut untuk menekan posisi mereka.
Hizbullah menyatakan, Israel di bawah perlindungan gencatan senjata melakukan upaya infiltrasi menuju perbukitan Ali Taher, kawasan strategis yang menghadap ke Kota Nabatieh.
Kelompok itu menambahkan bahwa para prajuritnya langsung menghadapi mereka dengan senjata yang sesuai.
Konflik yang kembali membara ini langsung memakan korban jiwa dari warga sipil dan merusak sejumlah wilayah di Lebanon.
Media Pemerintah Lebanon melaporkan serangan udara Israel menghantam sekitar 20 lokasi. Badan pertahanan sipil setempat menyatakan 16 orang tewas di Nabatieh.
Seorang fotografer AFP di lokasi melaporkan kepulan asap tebal membubung di atas kota pascaserangan.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan 7 orang tewas dan 13 lainnya luka-luka akibat serangan yang menyasar sebuah desa di dekat Kota Sidon.
Lalu, jurnalis AFP di sisi perbatasan Israel juga melaporkan visual serupa. Asap mengepul di belakang Kastil Beaufort, posisi strategis dekat Nabatieh yang berhasil direbut Israel bulan lalu.
Saling serang yang terus berlanjut ini kian menyudutkan nasib kesepakatan damai yang baru saja ditandatangani minggu ini oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Padahal, poin utama dari kesepakatan tersebut adalah menghentikan perang regional yang lebih luas di semua lini, termasuk di Lebanon yang menjadi tuntutan utama pihak Teheran.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)