Oleh:
Mujiburrahman
Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID - SAYA senantiasa mengagumi orang-orang yang berani mengatakan apa yang menurutnya benar di hadapan penguasa, entah dia mahasiswa, cendekiawan, ulama, atau orang biasa. Sebagian mereka itu selamat, dan sebagian lagi lenyap. Sebagian lagi konsisten hingga akhir hayat, dan sebagian lagi berubah bahkan berkhianat. Mengapa ini semua terjadi?
Dalam keberanian, kita temukan kesanggupan untuk berkorban demi sebuah cita-cita, meskipun seseorang harus menderita bahkan mati untuknya. Ada semacam pertaruhan hidup dalam diri orang yang “berbakat” jadi pemberani. Seperti dikatakan oleh Pendana Menteri pertama kita, Sutan Sjahrir, yang semula berasal dari filsuf Jerman, Friedrich Schiller, “Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan.” Selaras dengan ini, cendekiawan Mesir, Hassan Hanafi, mengatakan, seorang pemikir sejati adalah saksi sekaligus syahid bagi zamannya.
Menurut KBBI, berani adalah “mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi kesulitan, bahaya dan sebagainya.” Dengan ungkapan lain, hati yang mantap itu adalah hati yang yakin, yang tak tergoyahkan. Keyakinan berawal dari pemahaman, yang diperkuat oleh bukti yang disaksikan dan kemudian dialami sendiri oleh si pelaku. Dalam istilah tasawuf, keyakinan itu bertingkat, yakni bermula dari ilmu (‘ilm al-yaqîn), lalu penyaksian oleh mata (‘ain al-yaqîn), dan terakhir berdasarkan pengalaman langsung si subjek (haqq al-yaqîn).
Menurut para filsuf kuno, keberanian adalah wujud dari upaya manusia mempertahankan diri, yang didorong oleh daya marah dalam dirinya. Menurut Aristoteles, yang juga diaminkan oleh para filsuf Muslim, berani adalah posisi tengah antara pengecut dan nekat. Pengecut adalah orang yang tidak berani menanggung risiko sama sekali, sedangkan nekat sebaliknya, yakni berani buta, tidak peduli apapun, tanpa perhitungan sama sekali. Namun, jika kita lihat berdasarkan garis spektrumnya, keberanian tampaknya lebih dekat kepada nekat ketimbang kepada pengecut.
Jika keberanian lahir dari keyakinan, maka keyakinan seperti apa yang dapat membuat orang sangat berani? Salah satu pembentuk keyakinan yang amat penting adalah tujuan yang jelas dan diyakini kebenarannya. Seperti dikatakan oleh filsuf Jerman, Friedrich Nietzche, “Siapapun yang tahu ‘mengapa’ ia hidup, akan mampu mengatasi sebarang bagaimana yang dipaparkan hidup kepadanya”. Mengetahui ‘mengapa’ berarti mengetahui tujuan. Semakin bernilai dan berharga tujuan itu, semakin siap seseorang menanggung beban dan bahaya dalam upaya meraihnya.
Namun, jika direnungkan lebih jauh, orang tidak akan bisa mendapatkan tujuan yang sejati jika dia tidak tahu dari mana dia berasal, mengapa dia hadir di dunia ini dan ke mana kelak dia akan kembali. Bagi Nietzche yang menolak keberadaan Tuhan, mungkin akan sulit menjawab pertanyaan ini sehingga tujuan hidup yang meyakinkan juga sulit ditemukan. Sebaliknya, bagi kaum beriman, pertanyaan ini bisa dijawab dengan tegas: kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Tugas kita di dunia ini adalah berbuat baik, beramal saleh. Inilah makna dan tujuan hidup kita.
Memang harus diakui, mengatakan bahwa kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya terasa terlalu sederhana sekaligus kabur. Apa maksudnya bahwa tujuan hidup kita adalah “bertemu” Allah? Karena itu, sebagian pemikir mengatakan maksudnya adalah dalam menjalani hidup ini, kita senantiasa berbuat baik dengan mengharap rida-Nya.
Bagi manusia sekuler modern, pandangan keagamaan di atas masih terlalu abstrak dan teosentris, berpusat pada Tuhan semata. Seolah agama itu untuk Tuhan, bukan manusia. Bahkan seolah Tuhan itu membutuhkan pengabdian manusia. Karena itu, titik tekan makna hidup bagi manusia sekuler adalah semata tentang pengabdian kepada kemanusiaan. Seseorang rela hidup susah, masuk penjara, disiksa bahkan dihukum mati, demi memperjuangkan keadilan bagi dirinya dan sesamanya.
Sebenarnya, pandangan yang berpusat pada Tuhan (teosentris) atau pada manusia (antroposentris) semata, sama-sama berat sebelah. Jika teosentris bisa membuat orang mengabaikan kemanusiaan, maka antroposentris bisa membuatnya mengabaikan Tuhan. Jika manusia mengabaikan Tuhan, maka dia akan menuhankan dirinya sendiri. Cita-cita mulia, yang semula demi kemanusiaan dan keadilan untuk semua orang, dapat berubah menjadi semata untuk kepentingan diri sendiri. Karena dia tak mampu mengendalikan egonya.
Karena itu, para pemikir muslim mengatakan, perlu keseimbangan antara menjadi hamba Allah (abdullah) dan wakil Tuhan (khalifatullah) di muka bumi. Sebagai ‘hamba’, kita tak memiliki apa-apa karena kita berasal dari-Nya. Sebagai wakil-Nya, kita punya tanggung jawab moral, memilih yang baik, benar dan adil, meninggalkan yang buruk, salah dan zalim. Pertarungan moral ini, mula-mula di dalam diri kita masing-masing. “Adil sejak dalam pikiran” seperti kata Pramoedya, kiranya adalah pengakuan bahwa pertarungan moral itu berawal dari dalam diri sendiri, baru keluar.
Seseorang harus memulai dengan mengalahkan kecenderungan-kecenderungan buruk dan rendah dalam dirinya sendiri. Untuk itu, dalam bahasa agama, dia harus menjadi ‘hamba Allah’ bukan hamba nafsu dan setan. Menjadi hamba Allah berarti mematuhi perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, yakni melaksanakan yang baik, benar dan adil dan meninggalkan yang sebaliknya. Seperti kata Rumi, orang pintar ingin mengubah dunia, tetapi orang bijak ingin mengubah dirinya sendiri. Sebelum memperbaiki masyarakat, maka perbaikilah diri sendiri terlebih dahulu.
Alhasil, keberanian lahir dari keyakinan. Keyakinan paling kuat adalah berbasis iman yang diperolah melalui pemahaman, kesaksian mata hingga pengalaman langsung. Pemberani yang teguh biasanya adalah sosok yang berhasil mengendalikan nafsunya dan egonya sendiri.
Dalam istilah agama, dia adalah hamba sekaligus khalifah Allah. Jika tidak, mungkin suatu hari dia akan berkhianat! (*)