TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Votelta Felda Ahmad Yassin, gadis asal Pancurwening, Wonosobo, menjadi salah satu anak muda yang aktif dan berprestasi di bidang pencak silat.
Lahir pada tahun 2006, Leta sapaan akrabnya telah menekuni olahraga bela diri tradisional tersebut sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Ketertarikannya pada dunia seni dan olahraga sebenarnya sudah muncul sejak kecil.
Sebelum mengenal pencak silat, ia lebih dahulu aktif di dunia tari melalui kegiatan ekstrakurikuler sekolah dan sanggar tari.
Kebiasaan mendengarkan musik membuatnya mudah mengekspresikan gerakan tubuh, yang kemudian menjadi awal perjalanannya di dunia seni gerak.
“Awalnya dari kecil saya suka banget dengar musik terus gerak sendiri, lalu diarahkan orang tua ke sanggar tari,” ujar Voleta kepada Tribun Jateng, beberapa waktu lalu.
Namun perjalanan hidupnya berubah ketika memasuki kelas 6 SD.
Saat itu ia mulai tertarik dengan pencak silat melalui kegiatan ekstrakurikuler sekolah.
Dari rasa penasaran dan keinginan mencoba hal baru, ia akhirnya memutuskan untuk menekuni bela diri tersebut secara serius.
Peralihan dari dunia tari ke pencak silat tidak berjalan mudah.
Ia mengaku sempat kesulitan karena perbedaan yang cukup jauh antara keduanya, baik dari segi teknik maupun fisik.
Namun seiring waktu, ia justru semakin menikmati proses latihan dan mulai jatuh cinta pada dunia pencak silat.
“Awalnya memang susah karena dari tari ke pencak silat itu beda banget, tapi lama-lama saya malah suka,” ungkapnya.
Berprestasi
Dalam perjalanan kariernya di pencak silat, Leta pernah bergabung dengan Perguruan Silat Bakti Negara di Bali sebelum akhirnya melanjutkan latihan di Persaudaraan Pencak Silat (PPS) Kembang Setaman di Wonosobo.
Di bawah bimbingan pelatih, ia terus mengasah kemampuan dan konsistensi dalam berlatih.
Selain aktif latihan, ia juga rajin mengikuti berbagai kejuaraan.
Sejumlah event seperti Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) dan Festival Olahraga Masyarakat Daerah (Forda) pernah ia ikuti, hingga akhirnya berhasil menembus tingkat nasional saat duduk di bangku SMA.
Dengan kekompakan tim, ia bersama rekan-rekannya sukses meraih juara 3 kategori seni grup wiraga dan wirasa pada ajang pencak silat tingkat nasional.
Menurutnya, pencak silat bukan hanya soal teknik bertahan diri, tetapi juga mengandung nilai seni, disiplin, serta rasa persaudaraan yang kuat antaratlet.
“Di pencak silat itu bukan cuma bela diri, tapi juga ada seni, ada persaudaraan, dan banyak hal yang saya dapat,” katanya.
Selain aktif di pencak silat, Leta juga masih memiliki ketertarikan pada dunia tari.
Ia sempat kembali mengembangkan minatnya pada modern dance saat SMA, terutama K-Pop dance yang ia pelajari melalui video dan koreografi di Youyube.
Ia juga beberapa kali mengikuti berbagai event tari seperti Wonosobo Expo, Rita Idol, serta kegiatan di luar kota seperti Magelang, Jogja, Semarang, hingga Solo.
Meski demikian, saat ini fokus utamanya tetap berada di dunia pencak silat, meskipun ia masih sesekali menekuni dunia dance sebagai bentuk ekspresi diri.
Dalam kesehariannya, ia mengaku pola latihan kini lebih fleksibel dibandingkan saat awal bergabung di dunia olahraga tersebut.
Jika dulu latihan bisa dilakukan hampir setiap minggu, kini latihan biasanya disesuaikan dengan jadwal event dan latihan bersama teman.
Perubahan besar
Bagi Leta, dunia pencak silat juga membawa perubahan besar dalam kehidupannya, terutama dalam hal kedisiplinan dan kesehatan.
Ia merasa lebih sadar akan pentingnya menjaga kondisi tubuh, pola makan, serta gaya hidup sehat.
“Setelah ikut pencak silat, saya jadi lebih menjaga kesehatan dan lebih disiplin,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa pencak silat telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat, tidak hanya secara fisik tetapi juga mental.
Lingkungan pertemanan dan komunitas pencak silat yang luas di Wonosobo membuatnya merasa mendapatkan banyak pengalaman berharga.
“Pencak silat tidak hanya membentuk kemampuan bela diri, tetapi juga membuat saya lebih bisa menjaga diri dan lebih waspada sebagai perempuan,” imbuhnya. (Imah Masitoh)