Bukan Pusaka, Warga Klaten Jamas Alat Pertanian Saat Bulan Suro, Ini Alasannya
Ryantono Puji Santoso June 22, 2026 06:28 AM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Warga Klaten melakukan ritual jamasi.

Namun, ritual ini bukan menjamas pusaka, melainkan alat pertanian.

Seperti diketahui, memasuki bulan Suro atau Muharram, masyarakat Jawa biasa menggelar ritual jamasan ini.

Biasanya, jamasan dilakukan untuk membersihkan dan merawat benda-benda pusaka peninggalan leluhur.

Bedanya, masyarakat Desa Prawatan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, tidak menjamas pusaka, melainkan alat pertanian.

Kegiatan unik ini digelar pada Jumat (19/6/2026) malam.

Baca juga: Bulan Suro, Museum Keris Nusantara Solo Buka Layanan Jamasan Pusaka untuk Koleksi Pribadi

Kegiatan ini menjadi simbol pembersihan sekaligus pelestarian nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Ritual jamasi dilakukan dengan memandikan benda-benda penting, bersejarah, atau memiliki nilai simbolis menggunakan air.

Pada kesempatan ini, alat pertanian dan sejumlah peralatan pertukangan menjadi objek yang dibersihkan dalam prosesi tersebut.

Kepala Desa Prawatan, Sabiq Muhammad, mengatakan bahwa jamasan bukan sekadar ritual, tetapi juga mengandung pesan mendalam terkait hubungan manusia dengan alam.

“Jamasan merupakan simbol bagaimana kita melestarikan alam dan mengenal kembali pentingnya air sebagai sumber penghidupan. Ini juga menjadi komitmen kami, warga Desa Prawatan, untuk terus menjaga air,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemilihan alat pertanian dalam ritual ini bukan tanpa alasan.

Peralatan tersebut dianggap paling dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, khususnya para petani.

“Alat pertanian ini merupakan bagian dari kehidupan pertanian dan menjadi simbol sumber penghidupan,” jelasnya.

JAMASAN - Jamasi Alat Pertanian. Warga melakukan tradisi jamasan alat pertanian di Desa Prawatan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jumat (19/6/2026) malam.
JAMASAN - Jamasi Alat Pertanian. Warga melakukan tradisi jamasan alat pertanian di Desa Prawatan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jumat (19/6/2026) malam. (TribunSolo.com/Zharfan Muhana)

Air yang Digunakan Berasal dari Sumber Mata Air

Air yang digunakan dalam prosesi jamasi diambil dari berbagai sumber mata air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan pertanian.

Total terdapat tujuh sumber air yang menjadi simbol keberkahan dan keberlanjutan kehidupan warga.

“Air ini terdiri dari tujuh sumber air, yang digunakan warga Desa Prawatan terutama petani untuk mengairi sawahnya,” paparnya.

Sebelum prosesi jamasi dilakukan, masyarakat juga menggelar doa bersama lintas agama sebagai bentuk kebersamaan dan harmoni sosial warga desa.

Sabiq berharap kegiatan ini dapat terus menjadi sarana pelestarian lingkungan sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat, terutama petani, akan pentingnya menjaga sumber daya air.

Rangkaian kegiatan Festival Bumi Sangkara #2 sendiri berlangsung sejak 14 hingga 25 Juni.

Sejumlah agenda turut memeriahkan acara tersebut, mulai dari bersih desa, umbul dungo doa lintas agama, kirab gunungan, festival dolanan anak, lomba masak, hingga pertunjukan seni warga.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.