BANJARMASINPOST.CO.ID - Tusuk ayah tiri hingga terkapar dan tewas, seorang pemuda rupanya tak terima adiknya dimarahi.
Kini, Kepolisian Resor Garut telah berhasil menangkap pemuda yang diduga melakukan penganiayaan terhadap ayah tirinya hingga meninggal dunia itu.
Peristiwa ini terjadi di kawasan Jalan Cimanuk Maktal, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Penangkapan dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam setelah kejadian.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Garut, Ajun Komisaris Polisi Herman Saputra, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (19/6/2026) sore di kawasan Jalan Maktal.
Pelaku berinisial RH (32) diduga melakukan penganiayaan terhadap korban Wawan Setiawan (52), yang merupakan ayah tirinya.
Baca juga: Ganggu Kelotok Wisata, Aksi Bocah di Jembatan Pasar Lama Banjarmasin Bikin Wisatawan Tak Nyaman
Penganiayaan terjadi tidak lama setelah korban pulang dari bekerja. Situasi yang semula biasa berubah menjadi konflik yang berujung kekerasan.
"Terduga pelaku berhasil kami amankan dalam waktu kurang dari satu hari setelah kejadian," kata Herman, Minggu (22/6/2026) dikutip dari Antara.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, aksi penganiayaan tersebut dipicu oleh perselisihan antara pelaku dan korban.
Pelaku diduga tidak terima adiknya dimarahi oleh korban, sehingga memicu emosi yang kemudian berujung pada pertengkaran.
"Diduga karena tersinggung dan tidak terima, terduga pelaku sempat terlibat adu mulut dengan korban, setelah itu, pelaku meninggalkan lokasi," katanya.
Namun, konflik tersebut tidak berhenti pada adu mulut. Pelaku kemudian melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam berupa pisau dapur.
Korban yang mengalami luka tusukan langsung terkapar di lokasi kejadian.
Warga kemudian berupaya memberikan pertolongan dengan membawa korban ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Slamet Garut.
Meski sempat mendapatkan penanganan medis, korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia akibat luka yang dideritanya.
Peristiwa ini menunjukkan betapa fatalnya dampak kekerasan dalam konflik rumah tangga, terutama ketika melibatkan senjata tajam.
Setelah menerima laporan kejadian, pihak kepolisian segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan sejumlah bukti. Tim Sancang kemudian diterjunkan untuk memburu pelaku.
Dalam waktu kurang dari satu hari, pelaku berhasil ditangkap di kawasan Jalan Cimanuk, Kecamatan Tarogong Kidul, pada Sabtu malam.
Selain menangkap pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti berupa satu bilah pisau yang digunakan dalam aksi penganiayaan tersebut.
"Saat ini yang bersangkutan telah diamankan di Mapolres Garut untuk menjalani pemeriksaan dan proses hukum lebih lanjut," kata Herman.
Akibat perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 467 KUHP tentang penganiayaan yang direncanakan. Pasal tersebut mengatur ancaman hukuman maksimal hingga sembilan tahun penjara.
Banyak orang bilang, orangtua tiri tidak akan bisa akur dengan anak tirinya.
Bahkan ada yang bilang, ibu tiri itu biasanya membenci anak tirinya dan hanya sayang pada anak kandungnya.
Padahal, ini tidak sepenuhnya benar. Anda bisa menjalin hubungan yang baik -bahkan akrab- dengan anak tiri.
Yang diperlukan adalah strategi yang tepat dan dukungan yang mantap dari orang-orang di sekitar. Inilah yang Anda perlukan:
1. Kerjasama tim
Ketimbang berusaha menyelesaikan masalah sendirian, lebih baik hadapi bersama-sama.
"Kunci kesuksesan membaurkan keluarga ada di tangan pasangan suami-istri yang solid dan stabil," kata psikoterapis Sandra Pribanic.
Mintalah bantuan suami untuk menerapkan disiplin bagi anak-anak tiri di rumah.
Dan jika mereka melakukan sesuatu yang Anda pikir perlu mendapat teguran, diskusikan terlebih dahulu dengan suami, kemudian nyatakan bersama-sama.
Di samping itu, berusahalah agar kedua orangtua dapat sama-sama menjadi teladan yang tepat bagi anak.
2. Jangan diambil ke hati
Pernikahan atau hubungan yang baru bisa menciptakan begitu banyak kebahagiaan. Tapi, kebanyakan anak bisa dilanda kebingungan, merasa ditinggalkan oleh orangtua kandungnya, bahkan merasa marah atas terjadinya perubahan yang besar ini.
"Ketika ada orangtua yang menikah kembali, anak-anak akan merasakan dampaknya, terlepas berapa pun usia mereka," kata Pribanic.
"Sebaiknya diskusikan fungsi dan posisi Anda di keluarga dengan pasangan dan juga mantannya, sehingga anak-anak tidak seperti terjebak di tengah-tengah."
Ketika emosi anak-anak tiri yang sedang mudah meluap ini terwujud melalui kata-kata tajam pada Anda, hindari melontarkan kemarahan balik atau merasa tersinggung. Cobalah berempati terhadap perasaan mereka.
3. Luangkan lebih banyak waktu
Kalau bisa, miliki waktu lebih banyak bersama anak-anak tiri Anda, mengingat pasangan Anda sudah melewatkan lebih banyak waktu bersama mereka sebelum kehadiran Anda.
Namun, jangan lupa juga untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak berinteraksi hanya bersama ayahnya, tanpa Anda.
Dan, mengingat terbentuknya keluarga baru ini bisa cukup menyita waktu dan perhatian Anda, ingatlah juga untuk menghabiskan waktu berkualitas besama pasangan. Misalnya, dengan pergi berduaan menonton di bioskop atau bahkan liburan tanpa anak-anak.
4. Dengarkan dan belajarlah
Begitu sudah menikah, tugas Anda adalah untuk mengenal lebih dalam tentang anak tiri Anda. Tugas ini tidak bisa dihindari lagi.
Cobalah mengajukan berbagai pertanyaan, dengarkan jawaban mereka, lalu lanjutkan dengan berbicara dari hati ke hati.
Tidak perlu dimulai dengan topik yang berat. Cukup dari hal-hal yang remeh dan berhubungan dengan keseharian. Itu saja sudah cukup untuk membangun rasa saling percaya.
5. Berpikir jauh ke depan
Terkadang, anak-anak itu tidak bisa segera menerima Anda sebagai orangtua tiri. Baru ketika mereka dewasa, hal itu bisa terjadi.
Tapi tentu saja, menjalin kedekatan dengan mereka tidak bisa baru dilakukan begitu mereka besar, karena ini harus dibangun selama bertahun-tahun.
Mungkin dari pihak anak akan ada penolakan, sementara Anda sendiri dapat segera menyayangi mereka bak anak sendiri.
Tapi lambat laun, dengan niat yang baik dan usaha yang keras, hubungan yang dekat akan bisa terjadi.
(Banjarmasinpost.co.id/Kompas.com)