AS Sensor Istilah 'Perubahan Iklim', Negara Lain Keberatan
GH News June 22, 2026 12:08 PM
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggambarkan perubahan iklim sebagai "tipuan". Ia juga meminta pemerintahannya menghapus referensi tentang bahaya perubahan iklim dari situs web pemerintah sejak awal 2026.

Terbaru, hasil laporan forum internasional tentang Antarktika mengungkap bahwa AS menyarankan istilah "perubahan iklim" tidak lagi dipakai, dan diganti dengan "perubahan lingkungan yang spesifik".

Usulan ini disambut keberatan dari Prancis dan mayoritas negara peserta forum lainnya, seperti tertuang dalam laporan yang dirilis pertengahan Juni 2026 tersebut.

Keberatan soal Penyensoran 'Perubahan Iklim'

Sikap Trump menuai kecaman serius dari para aktivis konservasi yang tergabung dalam The Antarctic and Southern Ocean Coalition (ASOC). ASOC menegaskan, perubahan iklim tidak boleh disensor dari diskusi atau laporan.

Direktur Eksekutif ASOC, Claire Christian menyebut bukti yang beredar tentang wilayah Antarktika adalah nyata. Saat ini, wilayah itu sudah mengalami perubahan iklim yang cepat dan sudah berdampak pada sistem planet kita.

"Jika kita tidak mengurangi emisi karbon kita dengan cepat, dampak-dampak ini hanya akan menjadi lebih parah dan sulit diprediksi," tuturnya, dilansir ABC.

Bukti AS Tidak Sejalan dengan Negara Lain di Dunia

Peneliti Antarktika yang juga mantan diplomat AS, Evan Bloom, menilai sikap Negeri Paman Sam itu tidak mengejutkan. AS memang enggan menggunakan istilah "perubahan iklim" pada forum global seperti Pertemuan Konsultatif Perjanjian Antarktika.

"Posisi AS pada Pertemuan Konsultatif Perjanjian Antartika menunjukkan betapa tidak sejalannya AS dengan sebagian besar negara lain di dunia mengenai perubahan iklim," kata Bloom.

Kebijakan pemerintahan Trump disebutnya kerap menentang berbagai hal tentang iklim dalam pertemuan internasional. Mendengar hal ini, pihak lain yang hadir dalam pertemuan internasional seperti sudah terbiasa.

"Tentu saja, mereka tidak setuju dan kecewa dengan pendekatan tersebut," sambungnya.

AS Dikecam Negara Lain di Forum Antartika Global

Diketahui, forum Pertemuan Konsultatif Perjanjian Antartika digelar pada 11-21 Mei 2026 di Hiroshima, Jepang. Forum ini diikuti berbagai negara termasuk AS dan Prancis.

"Prancis menyatakan keprihatinannya yang mendalam tentang hilangnya referensi mengenai perubahan iklim secara bertahap dalam pekerjaan Komite Perlindungan Lingkungan. Prancis menekankan bahwa perubahan iklim adalah realitas yang memengaruhi semua negara, tanpa memandang batas wilayah," tulis laporan tersebut.

Prancis juga menyoroti penyebutan perubahan iklim sebagai preseden berbahaya. Hal ini dianggap sebagai perkembangan yang mengkhawatirkan bagi kredibilitas komite.

"Prancis menganggap ini sebagai perkembangan yang mengkhawatirkan bagi kredibilitas komite yang pekerjaannya didasarkan pada fakta ilmiah dan mengirimkan pesan negatif untuk masa depan," sambung laporan tersebut.

Hingga saat ini, para ilmuwan telah melakukan penelitian substansial yang menyatakan dengan jelas soal adanya hubungan antara perubahan iklim dan degradasi ekosistem Antarktika.

Jika isu perubahan iklim ditepis, mereka menilai, ilmu pengetahuan ke depan akan dapat dipertanyakan.

Di laporan itu, sebagian besar negara pendukung pernyataan Prancis dan meminta negara anggota Pakta Antarktika untuk memerangi dampak buruk perubahan iklim.

Ingin Tindakan Spesifik

Lebih lanjut, laporan itu menyatakan AS menyetujui pentingnya menggunakan ilmu pengetahuan terbaik yang tersedia saat ini. Namun, AS ingin fokus pada perubahan lingkungan spesifik, seperti pengurangan es laut atau dampak pada penguin kaisar dibanding terminologi yang luas.

"Amerika Serikat menekankan perlunya memfokuskan upaya pada pemahaman dan penanganan dampak dari perubahan spesifik terhadap lingkungan Antartika, daripada pada diskusi luas yang belum tentu mengarah pada tindakan," tulis laporan itu lagi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.