TRIBUNJOGJA.COM - Penulis dan kolumnis Kalis Mardiasih resmi merilis novel perdananya berjudul Makamkan Ibu di Samping Ayah, sebuah karya fiksi yang mengangkat tema luka antargenerasi atau intergenerational trauma dalam keluarga.
Melalui kisah yang dibangun dari enam sudut pandang, novel ini mengajak pembaca menelusuri hubungan keluarga yang rumit, penuh kasih, tetapi juga menyimpan luka yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Cerita bermula dari sebuah wasiat tak terduga. Seorang ibu yang tengah menghadapi ajal meminta dimakamkan di samping mantan suaminya, sosok yang telah lama meninggalkan keluarga dan membangun kehidupan baru bersama orang lain. Permintaan tersebut memaksa tiga anaknya, Aji, Vikra, dan Lini, membuka kembali berbagai rahasia, konflik, serta kenangan yang selama ini tersimpan rapat.
Kalis menjelaskan bahwa novel ini berfokus pada benturan cara pandang antara generasi orang tua dan anak. Perbedaan tersebut hadir dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pilihan pekerjaan, status sosial, hingga harapan terhadap masa depan.
"Novel ini bercerita tentang intergenerational trauma dalam keluarga. Ada sudut pandang anak-anak yang lahir di masa kini berhadapan dengan sudut pandang orang tua dari generasi sebelumnya yang tentu memiliki cara pandang berbeda terhadap kehidupan," kata Kalis, saat ditemui Minggu (21/6/2026) kemarin.
Menurutnya, keluarga kerap menjadi sumber cinta sekaligus tempat lahirnya luka yang paling dalam. Karena itu, memaafkan keluarga sering kali terasa lebih sulit dibanding memaafkan orang lain.
"Kita biasanya bisa memaafkan orang lain, tetapi sering kali justru berat untuk memaafkan keluarga sendiri. Padahal mereka adalah tempat kita bertumbuh sejak kecil," ujarnya.
Dalam novel ini, setiap tokoh memikul beban emosional yang berbeda. Aji sebagai anak sulung harus menanggung tanggung jawab sejak remaja, Vikra memilih diam sebagai mekanisme bertahan hidup, sementara Lini tumbuh tanpa kenangan bersama ayah kandungnya. Namun Kalis menegaskan bahwa cerita ini tidak dibangun dengan pembagian hitam dan putih.
"Ini bukan novel tentang siapa yang benar atau salah. Ini novel tentang apakah kita sanggup melihat orang-orang yang menyakiti kita sebagai manusia, dan apa yang ingin kita lakukan dengan pemahaman itu," katanya.
Ia juga menyebut novel tersebut sebagai surat cinta bagi generasi muda Indonesia. Melalui para tokohnya, Kalis berharap pembaca dapat menemukan ruang refleksi terhadap pengalaman masing-masing.
"Kalau kamu anak sulung, anak tengah, atau anak bungsu yang sedang menghadapi dinamika keluarga dan membawa beban emosional yang berat, mungkin kamu perlu bertemu dengan tokoh-tokoh dalam novel ini. Mereka tidak akan mengajarimu, tetapi mungkin bisa menjadi temanmu," ujar Kalis.
Tema keluarga yang diangkat dalam novel ini menjadi salah satu alasan penerbit Shira Media tertarik bekerja sama. Perwakilan Shira Media, Puput Alvia, mengatakan pihaknya telah lama mengenal gaya penulisan Kalis melalui karya-karya nonfiksinya dan melihat kesesuaian tema novel tersebut dengan fokus penerbit.
"Kami tertarik dengan temanya. Shira menerbitkan banyak genre, termasuk buku-buku bertema keluarga. Kebetulan tema yang diangkat Kalis sejalan dengan kampanye yang kami lakukan, sehingga kami memutuskan untuk menerbitkannya," kata Puput.
Respons pembaca pun terbilang positif. Puput mengungkapkan cetakan pertama novel tersebut sebanyak 2.000 eksemplar telah habis terjual.
Melalui Makamkan Ibu di Samping Ayah, Kalis tidak menawarkan jawaban instan atas persoalan keluarga. Sebaliknya, ia mengajak pembaca memahami bahwa luka yang diwariskan tidak selalu lahir dari kebencian, melainkan sering kali berasal dari orang-orang yang juga tidak pernah diajarkan cara menyembuhkan dirinya sendiri.(nto)