TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Pemerintah Kota Palembang dikabarkan mengeluarkan surat peringatan penataan kota ke para pedagang di depan Stadion Kamboja, Jalan Mayor Santoso, agar segera mengosongkan tempatnya berjualan.
Hal ini menjadi pukulan telak bagi para pedagang sebab sudah belasan tahun lokasi itu menjadi ladangnya mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari.
Dari pantauan Sripoku.com di lapangan pada Senin (22/6/2026), terlihat beberapa pedagang mulai menutup tempatnya berjualan dengan mengangkut barang-barang keluar dari tokonya.
Serta bangku yang biasanya dipasang untuk pembeli kini disusun rapi untuk diangkut.
Terlihat di lapangan pihak kepolisian juga telah berjaga di area sekitar untuk mengantisipasi adanya demonstrasi/unjuk rasa yang dilakukan oleh pedagang.
Terlihat juga meski sudah mendapatkan surat peringatan, namun beberapa pedagang tetap membuka dagangannya.
Beberapa pedagang yang berbincang dengan wartawan Sripoku.com, namun tidak berani untuk menampilkan wajahnya, yakni Rosikin, mengungkapkan ia sudah menjalankan usahanya sejak 15 tahun lalu.
"Sudah lama sekali berjualan di sini, bahkan anak-anak Universitas Tridinanti sudah berganti mahasiswa, kami masih di sini berjualan," ujar Rosikin sambil menunggu anaknya mengangkut barang-barang, pada Senin (22/6/2026).
Menurutnya, beberapa hari yang lalu ia dan beberapa pedagang lainnya menerima surat peringatan dari Dinas Perkimtam Kota Palembang untuk mengosongkan tokonya karena akan adanya penataan kota.
"Intinya dari surat itu bahasa kita digusur kan, kita bingung dan mau menyampaikan keluh kesah sama siapa karena di sini tempat kami cari nafkah, cukup makan cukup minum alhamdulillah," ujar Rosikin yang matanya mulai memerah meratapi nasibnya.
Hal yang sama diungkapkan oleh Nina, mengungkapkan kekecewaannya setelah menerima surat peringatan tersebut pedagang mulai bersiap untuk mengosongkan tempat mencari nafkahnya.
"Kami dukung Pemerintah Kota Palembang ingin membuat rapi Kota Palembang, kami ngerti itu, tapi kami minta tolong kepada Wali Kota Ratu Dewa dan Wakil Wali Kota Prima Salam untuk kasih solusi, carikan kami tempat dagang baru agar kami tidak kehilangan mata pencaharian kami, di sinilah tempat kami cari nafkah," ujar Nina.
Nina juga berharap kepada Wali Kota Palembang untuk menerima keluhan para pedagang karena di sini tidak sedikit masyarakat yang bergantung dari penjualan ini untuk mencari nafkah.
Bahkan beberapa pedagang sempat akan melakukan aksi unjuk rasa.
"Itulah ada pihak kepolisian ke sini untuk berjaga-gaga kalau ada rusuh. Kami kecewa adanya peringatan tanpa adanya solusi, kami tahu ini tanah pemerintah, tapi pikirkan kami rakyat Kota Palembang yang bergantung kepada penjualan ini untuk makan dan minum," tutupnya.
Sementara itu, salah satu mahasiswa Universitas Tridinanti yang biasa nongkrong di "Pojok Kamboja" (sapaan akrab mahasiswa Tridinanti), Rangga, mengungkapkan UMKM yang berada di Jalan Mayor Santoso ini menjadi penenang karena jalan yang semula sepi menjadi ramai.
"Dulu jalan ini sepi nian, nah semenjak ado UMKM ini jadi ramai, di sini kan ado yang bukak sampek jam 12, ini buat jadi aman di sini," ujar Rangga.
Rangga juga mengungkapkan jika Pojok Kamboja ini bukan hanya menjadi tempat makan dan minum, namun juga menjadi pusat hiburan bagi para pembelinya.
"Di sini kita juga main gaplek, sehabis kuliah nongkrong sama kawan-kawan. Ya kalau memang digusur ya harap dipindahkan ke mana gitu kan di sekitar lokasi ini, jangan sampai hilang nian, kasihan juga para pedagang di sini yang sudah tahunan namun harus digusur," tutupnya.
Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp TribunSumsel.com