Sering Dianggap Malas, Ternyata Ini Penyebab Anak Tidak Mau Belajar
Abd Rahman June 22, 2026 01:47 PM

TRIBUN-SULBAR.COM- Orangtua kerap dibuat bingung ketika anak menunjukkan sikap enggan belajar, sulit fokus, hingga lebih tertarik bermain gadget dibanding buku. Kondisi ini sering kali langsung dilabeli sebagai “malas belajar”.

Namun, pandangan berbeda disampaikan praktisi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Ester Terviana. 

Menurutnya, anak yang tampak malas belajar belum tentu benar-benar malas, melainkan bisa jadi belum matang secara sistem sensori dan regulasi tubuh.

Baca juga: Bau Akram Hadiri Puncak Upacara Adat Pattera Pappuangan Limboro Rambu-Rambu Majene

Baca juga: Libur Sekolah Dimulai Juni 2026, Simak Jadwal Lengkap dan Tanggal Masuk

“Kalau anak mampu tapi tidak mau belajar, kita perlu lihat masalahnya ada di mana, apakah pada anak, orangtua, sekolah, atau sistem belajarnya,” ujar Ester, melansir Tribunnews.com, Senin (22/6/2026) 

Ester menjelaskan, anak yang terlihat malas umumnya justru sedang kelelahan dalam mengatur dirinya untuk belajar. 

Hal itu bukan karena kurang cerdas, melainkan karena sistem sensori dan fungsi otak yang belum berkembang optimal.

Ia menyebut, sistem sensori seperti penglihatan, pendengaran, sentuhan, keseimbangan, hingga proprioseptif berperan penting sebagai pintu masuk proses belajar. 

Jika belum matang, anak akan kesulitan menerima dan mengolah rangsangan dengan baik.

“Yang kita lihat sebagai perilaku, seringkali adalah sinyal dari sistem sensori yang belum tertata,” jelasnya.

Akibat kondisi tersebut, anak bisa tampak tidak fokus, mudah lelah, sering bergerak, menunda tugas, atau justru tidak mau bergerak sama sekali saat belajar.

Ester menegaskan, belajar bukan dimulai dari membaca, melainkan dari kesiapan otak dalam menerima informasi. Anak perlu merasa aman dan nyaman secara sensori sebelum mampu berkonsentrasi.

Selain itu, fungsi eksekutif otak seperti kemampuan mengatur diri, merencanakan, hingga memecahkan masalah juga belum terbentuk sempurna jika tidak distimulasi sesuai tahap perkembangan.

“Fungsi eksekutif tidak dibangun lewat latihan akademik saja, tetapi melalui pengalaman hidup sesuai tahap perkembangan anak,” ujarnya.

Ia menambahkan, anak dengan fungsi eksekutif yang baik akan lebih mampu mengelola emosi, mengontrol perilaku, serta menyelesaikan tugas dengan lebih terarah.

Dengan demikian, orangtua diharapkan tidak terburu-buru memberi label “malas” pada anak, melainkan memahami bahwa setiap perilaku bisa menjadi sinyal perkembangan yang berbeda pada setiap anak.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.