TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Terkadang, rezeki dan pertemuan yang tak terduga adalah pengingat terindah dari semesta. Dalam video spesial Jestham kali ini, sebuah kebetulan yang menyentuh hati terjadi saat Ia tidak sengaja bertemu kembali dengan seorang Bapak pemulung di pelataran minimarket. Pertemuan ini bukanlah yang pertama kalinya, namun "Jestham Traktir" kali ini dijalankan dengan cara yang berbeda dan penuh ketulusan. Tanpa terburu-buru, Jestham dengan teliti mengajak kita semua untuk turut serta dalam perjalanannya mengumpulkan berbagai kebutuhan pokok, yang nantinya akan disusun menjadi sebuah kejutan hangat untuk Bapak tersebut.(20/10/25)
Dengan niat yang tulus, Jestham pun memulai misi belanjanya. Didampingi oleh Bang Riki, Ia dengan cermat memilihkan barang-barang yang kiranya paling dibutuhkan. Dimulai dari beras sebagai kebutuhan paling pokok, lalu berlanjut ke mi instan berbagai rasa, sarden, roti, hingga sabun mandi. Setiap barang yang dimasukkan ke dalam keranjang bukan hanya sekadar item, tetapi adalah representasi dari perhatian dan kepedulian.
Setelah semua barang terkumpul, momen yang paling dinantikan pun tiba. Dengan hati-hati, Jestham menghampiri Bapak pemulung yang sedang menunggu di luar dan mengajaknya masuk ke minimarket. Sapaan hangatnya, "Sudah makan, Pak?" dijawab dengan singkat, "Belum." Dialog sederhana ini membuka gerbang menuju cerita hidup yang lebih dalam.
Saat melihat tumpukan barang belanjaan yang ditujukan untuknya, raut wajah Bapak pemulung berubah. Mata berkaca-kaca, Ia pun tak bisa menahan haru. "Kenapa sedih, Pak?" tanya Jestham. Dengan suara bergetar, Bapak itu menjawab, "Awak enggak pernah dikasih saudara begini." Kalimat itu menyiratkan sebuah kesendirian yang panjang, sebuah perasaan bahwa dalam susahnya, tidak ada keluarga yang peduli. Ia pun mengungkapkan bahwa Ia memiliki empat orang anak, namun mereka telah sibuk mengurus keluarga masing-masing.
Yang membuatnya semakin terharu adalah ketika terungkap bahwa bantuan sembako yang diberikan Jestham sebelumnya tidak habis untuknya sendiri. Dengan hati yang lapang, Bapak itu membagikan sebagiannya kepada tetangga yang Ia anggap lebih susah darinya. "Susah awak, ada lagi yang lebih susah ya kan. Awak kasih juga ke orang," ujarnya. Filosofi hidupnya yang sederhana namun penuh makna ini mengajarkan kita tentang arti berbagi yang sesungguhnya, bahkan di tengah kekurangan sendiri.
Percakapan kemudian mengalir kepada kondisi sehari-hari Bapak tersebut. Penghasilan dari memulung hanya sekitar Rp 30.000 per hari, yang harus Ia bagi dengan istrinya yang juga bekerja sebagai pemulung. Di tengah keterbatasan itu, mereka kerap kali hanya makan nasi putih tanpa lauk jika tidak ada uang. Meski memiliki BPJS, Bapak ini memilih untuk tidak berobat karena tidak tahan dengan efek obat untuk sakit asam urat yang dideritanya. Ia memilih untuk "jalan baik sendiri," berserah pada takdir sambil terus berusaha.
Menyaksikan ketabahan dan kemurahan hati Bapak ini, Jestham pun memberikan tambahan bantuan secara sukarela. Doa-doa yang dipanjatkan Bapak pemulung itu begitu tulus "Sehat-sehat kalian sekeluarga, dimurahkan Tuhan rezekinya." Doa dari seorang yang hatinya bersih, yang justru di tengah kesusahannya, Ia mendoakan kebaikan untuk orang lain. Jestham pun mengingatkannya untuk tetap salat dan menitipkan salam untuk sang istri.
Pertemuan ini diakhiri dengan jabat tangan dan ucapan terima kasih. Bapak pemulung itu tidak bisa menyembunyikan air matanya. Ia berkata, "Ada yang menolong awak, banyak saudara tapi tidak ada yang menolong." Kata-katanya ini menunjukkan betapa berharganya perhatian tulus yang diterimanya. Kisah sederhana ini mengingatkan kita bahwa kebaikan kecil bisa sangat berarti bagi orang yang sedang membutuhkan. Berbagi tidak hanya membantu secara materi, tetapi juga menghangatkan hati dan menguatkan semangat.(*)
Referensi
https://www.youtube.com/watch?v=ylSNB3iVAmw&t=11s