TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Di saat sebagian mahasiswa semester akhir disibukkan dengan penyusunan skripsi dan persiapan kelulusan, Najmudin justru harus membagi waktunya antara menyelesaikan pendidikan dan mencari nafkah.
Pemuda asal Desa Cilangkap, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak itu kini menjalani hari-harinya menjual es kelapa muda di kawasan Ciwaktu, Kelurahan Sumurpecung, Kecamatan Serang, Kota Serang, Banten.
Sejak pagi hingga malam hari, Najmudin melayani pelanggan yang datang ke lapaknya. Aktivitas tersebut bukan sekadar usaha mencari keuntungan, melainkan bagian dari perjuangannya untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menyelesaikan kuliah.
Sebelum membuka usaha es kelapa muda, Najmudin sempat bekerja di Tangerang. Saat itu, sistem perkuliahan yang masih banyak dilakukan secara daring membuatnya tetap bisa bekerja sambil mengikuti kegiatan akademik.
Namun, ketika memasuki semester akhir, keadaan berubah. Kewajiban menyusun skripsi dan menjalani bimbingan dengan dosen mengharuskannya lebih sering berada di kampus.
Kondisi itu membuatnya harus meninggalkan pekerjaan sebelumnya dan mencari sumber penghasilan yang lebih fleksibel.
"Tadinya saya bekerja di Tangerang, namun karena saya sekarang semester akhir kuliah jadi harus sering ke kampus untuk menyusun dan bimbingan skripsi. Kalau dulu kan pembelajarannya masih banyak yang online, jadi saya bisa tetap bekerja di Tangerang," ujar Najmudin di Serang, Senin (22/6/2026).
Baca juga: Detik-detik Roy Suryo-Dokter Tifa Naik Mobil Tahanan, Kasus Dugaan Ijazah Pulsa Jokowi Masuk Tahap 2
Di tengah tuntutan ekonomi dan pendidikan yang berjalan bersamaan, Najmudin memutuskan membuka usaha es kelapa muda.
Baginya, berjualan menjadi pilihan yang paling memungkinkan karena waktu kerjanya dapat menyesuaikan dengan jadwal kuliah dan bimbingan skripsi.
"Ya mau gimana lagi, saya harus punya cara untuk membiayai kebutuhan saya. Hitung-hitung belajar mandiri juga," katanya.
Meski usaha tersebut baru berjalan sekitar dua bulan, Najmudin tidak pernah memandangnya sebagai pekerjaan sampingan semata.
Ia menjadikan usaha itu sebagai sarana belajar mandiri dan membangun mental wirausaha sejak masih berstatus mahasiswa.
Saat ini, rata-rata sekitar 15 butir kelapa muda terjual setiap hari. Angka itu memang belum besar, tetapi cukup untuk menumbuhkan optimisme bahwa usaha yang dirintisnya memiliki peluang berkembang.
"Karena saya baru sekitar dua bulan buka, jadi baru sekitar 15 kelapa muda yang terjual per harinya," ucap Najmudin.
"Satu kelapa itu bisa dijadikan lima cup. Satu cup saya jual lima ribu rupiah, jadi kalau dikali bisa sekitar tiga ratus tujuh puluh lima ribu rupiah per hari. Tapi tidak tentu juga karena suka ada yang beli satuan," sambungnya.
Semangat Najmudin juga semakin bertambah berkat dukungan teman-teman kampus yang kerap menjadi pelanggan.
Tak jarang, mereka mampir ke lapaknya setelah mengikuti perkuliahan atau bimbingan skripsi.
Bagi Najmudin, mahasiswa akhir Universitas Primagraha ini menyampaikan, perjalanan yang sedang dijalaninya bukan hanya tentang mencari penghasilan, melainkan juga tentang membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah pada keadaan.
Ia percaya setiap pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh memiliki nilai dan kehormatan.
"Mudah-mudahan ke depannya bisa stabil penjualannya setiap hari. Insya Allah akan terus saya tekuni jualan ini, karena prinsip saya pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang dilakukan oleh tangan sendiri," ungkapnya.