TRIBUNNEWS.COM - Gelandang andalan Maroko di Piala Dunia 2026 berusia 18 tahun, Ayyoub Bouaddi, memiliki sisi menarik, sekaligus berkesinambungan atas performa impresifnya di lapangan.
Dalam sebuah program La Dazoneta, jurnalis DAZN Juan Arroita menceritakan bagaimana Ayyoub Bouaddi memiliki sisi unik yang beda dari bocah seusianya.
Siapa sangka, Ayyoub Bouaddi yang berstatus penggawa klub Ligue 1 LOSC Lille, menenteng buku aritmatika menemani perjuangannya di Piala Dunia 2026.
Kesukaannya terhadap matematika disinyalir menjadi kunci sukses Ayyoub Bouaddi mengontrol lini tengah permainan, khususnya timnas Maroko pada Piala Dunia edisi 23 ini.
Sedikit disampaikan oleh Football Enthusiast Bayu Ajianto, dalam podcast Super Taktik berjudul "Prediksi Grup A-F Piala Dunia 2026 & Last Dance Ronaldo vs Messi" di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah, Maroko merupakan kekuatan sebagai wajah baru perkembangan sepak bola Afrika.
"Maroko itu mewakili masa depan sepak bola Afrika. Di edisi sebelumnya, Maroko sangat hebat banget," terang Bayu Ajianto.
Penilaian serupa juga terlontar dari Richardo Liwang (anggota Indo Barca).
"Secara peluang lolos, Maroko masih fifty-fifty dengan Skotlandia. Maroko, menang tipis secara prediksi dari Skotlandia untuk lolos ke fase gugur," ujar pria yang akrab disapa Ado.
"Dengan pengalaman menjadi semifinalis di tahun 2022, mereka (Maroko-red) memiliki keyakinan untuk melaju lebih jauh lagi," sambungnya.
Salah satu masa depan sepak bola Afrika, khususnya Maroko, tak lain adalah Ayyoub Bouaddi.
Pemain kelahiran 2 Oktober 2007 ini bermain full 2 kali 90 menit, tepatnya saat menahan imbang Brasil 1-1 dan mengalahkan Skotlandia 1-0.
Mohamed Ouahbi jelas memiliki alasan khusus, mengapa mempercayakan lapangan tengah kepada Bouaddi yang bahkan tengah menempuh pendudukan di bangku mahasiswa.
Usut punya usut, kecemerlangan Bouaddi mengatur tempo permainan Maroko di Piala Dunia 2026 tak lepas dari kejeniusannya, khususnya dalam pelajaran matematika.
Baca juga: Mesir Raih Kemenangan Perdana di Piala Dunia, Mohamed Salah Tabuh Genderang Perang ke Iran
Juan Arroita menceritakan bahwa Bouaddi kecil memang suka dengan kegiatan yang berbau sport.
"Dia berusia 18 tahun dan dia tidak hanya menonjol sebagai pemain sepak bola, dia juga menonjol karena dia seorang jenius di luar lapangan," kisah Juan Arroita kepada DAZN.
"Sejak kecil dia telah menekuni senam artistik, renang, tenis, bulu tangkis... pada usia 15 tahun, dia memenangkan kompetisi pidato. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana sainsnya dengan nilai tertinggi dan setahun lebih cepat dari jadwal," kata Arroita.
Tentu saja Bouaddi berbeda dengan pemain muda lainnya.
"Di waktu luangnya, dia tidak suka bermain video game, menonton TV, atau melakukan hal-hal lain yang biasa dilakukan anak berusia 18 tahun. Dia suka belajar matematika, membaca, dan sedikit belajar. Dia juga kuliah di universitas mengambil jurusan matematika."
"Ketika tiba untuk Piala Dunia 2026, dia membawa buku-buku aritmatika tingkat lanjutnya untuk belajar," jelasnya selama analisis program tersebut.
Jika berbicara soal sumbangan gol atau assist, musim 2025/2026 memang belum ditunjukkan dari Bouaddi. Bersama Lille, dia mengemas nir gol dan satu assist dalam 42 pertandingan di lintas kompetisi.
Namun kematangan permainannya tidak perlu diragukan. Salah satu alasannya mengapa dia begitu brilian, tak lepas dari kesenangannya terhadap perhitungan matematika.
"Dia menyatakan bahwa matematika membantunya memahami permainan lebih cepat. Saya sangat menyukainya karena dia mematahkan stereotip pesepakbola ," nilai Arroita.
Seperti prediksi dalam podcast Super Taktik Tribunnews, Maroko bersama Brasil difavoritkan untuk lolos ke 32 Besar.
Saat ini Maroko menghuni peringkat kedua berkat raihan jumlah angka yang sama dengan Brasil, yakni 4 poin, disusul Skotlandia (3), dan Haiti (0) di tabel klasemen Grup C.
(Tribunnews.com/Giri)