TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Suasana Kampung Wisata Sayidan, Prawirodirjan, Kemantren Gondomanan, Kota Yogyakarta tampak begitu semarak pada Minggu (21/6/26) sore.
Masyarakat lokal setempat bersama para wisatawan tampak memadati Ruang Publik RW 04 Sayidan untuk mengikuti gelaran bertajuk Sayidan Pasaran.
Acara ini menghadirkan beragam rangkaian kegiatan menarik, mulai dari menyusuri jejak sejarah kampung melalui heritage walking tour, lokakarya eco print totebag, hingga sesi melukis gypsum pada malam hari.
Kegiatan tersebut menjadi ajang strategis untuk melestarikan sekaligus mengenalkan kekayaan budaya dan potensi tersembunyi dari Kampung Sayidan.
Dalam sesi Heritage Walking Tour, peserta diajak berjalan kaki menyusuri sejumlah titik bersejarah ikonik, mulai dari Jembatan Sayidan, Klenteng Fuk Ling Miau, hingga Rumah Gothic yang terkenal dengan arsitektur unik bergaya Eropa.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyampaikan, penyelenggaraan festival berbasis kampung semacam ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kota Yogyakarta dalam menguatkan identitas sebagai Kota Festival.
"Selama ini kita sudah mendeklarasikan Yogya sebagai Kota Festival. Setelah berkeliling ke berbagai kemantren, ternyata masing-masing wilayah memiliki potensi yang sangat baik untuk dikembangkan menjadi festival unggulan," ujarnya.
Lebih lanjut, Wawan berharap pada peringatan Hari Jadi Kota Yogyakarta tahun 2027 mendatang, seluruh 14 kemantren dapat memiliki festival andalan yang menampilkan kekhasan wilayah masing-masing.
Menurutnya, festival kampung tidak hanya menjadi ruang ekspresi budaya masyarakat, tetapi juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pengembangan produk unggulan dan potensi wisata.
"Kami ingin masyarakat ikut terlibat aktif. Kuliner khas, produk lokal, hingga sejarah kampung harus terus dieksplorasi. Hal-hal seperti ini justru banyak diminati wisatawan, baik lokal maupun mancanegara," katanya.
Sementara itu, Ketua Kampung Wisata Sayidan, Diajeng Endah Pramita Wardani, menjelaskan, Sayidan memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
Salah satu paling menonjol adalah keberadaan produksi kain crinkle yang telah bertahan selama puluhan tahun dan masih terus berjalan hingga saat ini.
Selain itu, generasi muda Sayidan juga aktif berkarya di bidang seni musik dengan menciptakan karya-karya original yang menjadi bagian dari identitas kampung.
"Ke depan kami ingin berkolaborasi dengan kampung lain di wilayah Gondomanan. Setiap kampung memiliki potensi yang berbeda sehingga dapat saling melengkapi untuk menghadirkan paket wisata yang lebih menarik," ujarnya.
Lebih lanjut, Diajeng memaparkan, rute walking tour sengaja dipilih karena merepresentasikan karakter dan sejarah kuat Kampung Sayidan.
Jembatan Sayidan menjadi simbol penghubung kawasan Keraton Yogyakarta dan Pakualaman, sedangkan Klenteng Fuk Ling Miau mencerminkan keberagaman budaya yang telah lama hidup berdampingan di kawasan tersebut.
Selain lokasinya yang strategis di pusat Kota Yogyakarta, keberadaan homestay di kampung tersebut turut menarik wisatawan mancanegara yang ingin merasakan suasana kampung yang autentik.
Ia berharap dukungan promosi dari pemerintah dan berbagai pihak terus diperkuat agar Kampung Wisata Sayidan semakin dikenal luas dan mampu menarik lebih banyak wisatawan.
“Kami berusaha memperkenalkan Kampung ini dengan baik, nanti saat sudah eksis kami berharap ada dukungan dan support yang baik dari pemerintah,” pungkasnya. (aka)