Kemendikdasmen Ingin Hapus Stigma 'Ospek' di MPLS 2026, Tak Boleh Ada Kekerasan
GH News June 22, 2026 05:09 PM
Jakarta -

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meluncurkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026. MPLS 2026 mengusung pesan pesan Ramah, Hari Baru, Aman, dan Nyaman di Sekolah.

Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyebut MPLS Ramah bukanlah sekedar perubahan istilah belaka. Melalui pesan ini, ia berharap cara pandang dalam menyambut murid baru di MPLS bisa berubah.

"Tetapi perubahan cara pandang dalam menyambut murid baru dari kegiatan MPLS yang rentan dengan kekerasan, perpeloncoan, dan yang kurang bermakna, menjadi MPLS penuh kasih sayang, memulaikan, dan budaya damai," tutur Mendikdasmen dalam Webinar Solusi MPLS Ramah Tahun 2026 yang disiarkan secara daring, Senin (22/6/2026).

Tak Boleh Ada Kekerasan

Lebih lanjut, Menteri Mu'ti menegaskan bila pelaksanaan MPLS Ramah harus bebas dari perpeloncoan, kekerasan, pungutan, dan segala bentuk kegiatan yang tidak memiliki nilai edukatif. Pelaksanaan MPLS juga tidak boleh membebani murid dan orang tua.

"Seluruh rangkaian kegiatan wajib dilaksanakan sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan agar setiap anak memperoleh pengalaman pertama di sekolah yang aman dan nyaman," ucapnya.

Ia juga mengingatkan agar Pemerintah Daerah (Pemda) perlu memastikan bila kebijakan ini terlaksana dengan baik. Sebagai catatan pada sekolah, MPLS yang berhasil menurut Mendikdasmen tidak diukur dari banyak dan meriahnya kegiatan yang dilaksanakan.

"Tapi dari bagaimana setiap anak merasa diterima, merasa aman, dan merasa nyaman berada di sekolah," papar Menteri Mu'ti lagi.

Tujuan MPLS Ramah yang tercapai, tergambar ketika murid pulang dari sekolah membawa cerita tentang guru dan teman-teman barunya ke rumah. Jika hal itu terjadi, semangat murid untuk kembali belajar ke sekolah keesokan harinya pasti akan besar.

"Mari kita jadikan hari pertama sekolah sebagai hari baru yang aman dan nyaman di sekolah, tempat setiap anak disambut dengan hangat, belajar dengan gembira, bertumbuh dengan percaya diri, dan melangkah lebih dekat untuk meraih cita-citanya. Inilah semangat yang kita bangun melalui MPLS Ramah 2026," imbuhnya.

Pelaksanaan MPLS Sesuai Usia Murid

Hadir di kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen Paud Dasmen) Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto menjelaskan bila cara menyambut murid baru perlu disesuaikan dengan usia murid. Murid baru jenjang TK/PAUD perlu diberikan materi sambil bermain dan eksplorasi.

Sedangkan murid SD perlu diberi materi yang berkaitan dengan membangun kebiasaan baik dan penanaman pendidikan karakter. Berlanjut ke jenjang SMP, murid mulai memasuki masa remaja, sehingga mereka perlu dukungan lebih untuk bisa percaya diri hingga mampu menjalani pertemanan yang sehat.

"SMA dan SMK perlu menyesuaikan juga dengan psikologi dan perkembangan anak-anak," paparnya.

Bagi Gogot, MPLS tidak hanya bermanfaat bagi murid tapi juga orang tua. Manfaat MPLS bagi orang tua berkaitan dengan proses membangun rasa percaya mereka bahwa anak-anak berada di lingkungan sekolah yang aman, nyaman, peduli, dan siap mendukung tumbuh kembangnya.

"Di sinilah kemitraan antara sekolah dan keluarga harus dibangun bersama-sama," pesannya.

Melengkapi Gogot, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Dirjen Pendidikan Vokasi PKPLK) Kemendikdasmen Tatang Mutaqin mengajak orang tua, kepala sekolah, guru, dan panitia MPLS untuk menghadirkan hari pertama sekolah menjadi hari penuh senyuman bukan tekanan.

"Kita ingin setiap anak pulang ke rumah sambil bercerita dengan gembira, bukan dengan air mata. Sekolah yang baik bukanlah sekolah yang membuat murid takut, melainkan sekolah yang membuat mereka yakin bahwa di tempat inilah mimpi mereka akan tumbuh," ungkap Tatang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.