Dugaan Pungli dan Penganiayaan Siswa di Sikka, Yanto Flores: Sekolah Harus Jadi Tempat Aman
Nofri Fuka June 22, 2026 05:46 PM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Kasus dugaan pungutan liar (pungli) dan penganiayaan terhadap siswa yang melibatkan seorang guru PPPK di SDN Napungbiri Pante, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, mendapat sorotan dari pegiat literasi dan pemerhati pendidikan.

Pendiri Pondok Baca Kampung Kabor, Yohanes Kia Nunang atau yang akrab disapa Yanto Flores, mengaku tersentuh sekaligus merasa terpanggil untuk menyuarakan keprihatinannya setelah mendengar kabar dugaan kekerasan terhadap seorang siswa di sekolah tersebut.

Menurut Yanto, kasus yang diduga dipicu oleh persoalan iuran perpisahan berupa uang, beras, dan kayu bakar itu bukan sekadar persoalan kedisiplinan, melainkan menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan, khususnya di tingkat akar rumput.

"Sekolah seharusnya menjadi tempat yang paling aman dan nyaman setelah rumah. Ketika bilah bambu menjadi alat komunikasi antara guru dan murid, ada kegagalan besar dalam cara kita memandang pendidikan," kata Yanto Flores kepada TribunFlores.com, Senin (22/6/2026).

 

Baca juga: Mai Hang Resto & Cafe Hidupkan Demam Sepak Bola di Labuan Bajo Manggarai Barat

 

 

Ia menegaskan bahwa kekerasan fisik, apa pun alasannya, tidak memiliki tempat dalam dunia pendidikan, terlebih jika dipicu oleh beban ekonomi yang dibebankan kepada peserta didik.

Menurutnya, tradisi perpisahan yang semestinya menjadi momen sukacita dan perayaan keberhasilan belajar justru berubah menjadi pengalaman traumatis bagi anak-anak.

"Membebani siswa dengan tuntutan materi yang bukan bagian dari kurikulum pembelajaran merupakan cerminan lemahnya etika pendidik dan kurangnya empati terhadap kondisi sosial ekonomi orang tua siswa," ujarnya.

Sebagai pemerhati pendidikan, Yanto menawarkan sejumlah langkah konstruktif agar kasus serupa tidak terulang di kemudian hari.

Pertama, Dinas Pendidikan Kabupaten Sikka perlu melakukan audit dan memperketat pengawasan terhadap segala bentuk pungutan di sekolah. Menurutnya, sekolah tidak boleh membebani siswa dengan iuran yang bersifat memaksa, terutama yang tidak berkaitan langsung dengan proses belajar mengajar.

Kedua, perlu adanya penguatan kapasitas psikososial bagi para guru melalui pendampingan berkelanjutan terkait manajemen emosi dan penerapan disiplin positif.

"Pendidik harus memahami bahwa wibawa guru tidak dibangun melalui rasa takut atau kekerasan, melainkan melalui keteladanan," katanya.

Ketiga, peran komite sekolah perlu diaktifkan kembali sebagai mitra kritis yang mampu mengawasi dan mengingatkan pihak sekolah agar setiap program atau kegiatan, termasuk acara perpisahan, tidak membebani ekonomi orang tua siswa.

Keempat, seluruh sekolah di Kabupaten Sikka didorong untuk membangun budaya Sekolah Ramah Anak secara nyata dan berkelanjutan.

"Ini bukan sekadar slogan atau papan nama, tetapi komitmen nyata untuk menghapus segala bentuk kekerasan, baik fisik, psikis, maupun intimidasi ekonomi di lingkungan sekolah," tegasnya.

Yanto juga meminta pihak berwenang mengusut kasus tersebut secara transparan dan berkeadilan agar tidak menjadi preseden buruk bagi dunia pendidikan di Kabupaten Sikka.

"Jangan biarkan luka yang diderita anak menjadi noda permanen bagi wajah pendidikan di Kabupaten Sikka. Mari kita kembalikan sekolah sebagai tempat bertumbuh, tempat anak-anak belajar mencintai ilmu pengetahuan, bukan takut kepada gurunya," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia.

Dugaan Penganiayaan dan Pungli

Berdasarkan informasi yang diterima TribunFlores.com, dugaan kekerasan itu terjadi pada Kamis (11/6/2026). Saat itu, para siswa diminta mengumpulkan uang sebesar Rp110.000 per anak, satu kilogram beras, dan satu ikat kayu bakar untuk kebutuhan acara perpisahan seorang guru yang akan memasuki masa pensiun.

Sumber TribunFlores.com menyebutkan masih banyak siswa yang belum mampu memenuhi permintaan tersebut. Akibatnya, oknum guru diduga mengambil tindakan dengan memukul siswa menggunakan bilah bambu pada bagian betis.

Dari foto yang diperoleh TribunFlores.com, terlihat bekas kemerahan pada kaki seorang siswa yang diduga akibat pukulan tersebut.

"Tindakan memukul berlangsung selama dua hari berturut-turut. Ada juga siswa yang disuruh pulang untuk mengambil uang dan beras," ujar sumber tersebut.

Sumber yang sama mengklaim tindakan kekerasan oleh oknum guru tersebut bukan kali pertama terjadi dan sebelumnya juga pernah memicu konflik dengan orang tua murid.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.