TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Jumat (19/6/2026) menjadi hari terakhir Siti Rokhanah (64) hidup dalam kepungan rob di Kelurahan Balok Kecamatan Kendal.
Bersama putra semata wayangnya, Sisdri Atmoko (37), mereka menutup pintu rumah dengan penuh haru usai 20 tahun terendam rob tak berkesudahan.
Selama itu pula, mereka tetap nekat bertahan di tengah kepungan air dan terisolasi meskipun seluruh tetangganya sudah lama berpindah.
Baca juga: Kisah Siti Rokhanah, Janda yang Bertahan Hidup Selama 20 Tahun dari Kepungan Rob di Kendal
Dibantu Polres Kendal, Sisdri Atmoko (37) mengangkut barang, perabotan dan kenangan menembus jalan berlumpur sepanjang 1 dari total 2 kilometer menuju jalan raya Balok. Salah langkah sedikit, tubuh bisa terjerembab ke tambak dengan kedalaman 1 meter.
Di ujung jalan, Siti Rokhanah tersenyum, juga sesekali terisak menanggalkan kenangan 20 tahun bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi dalam kepungan air rob.
Rokhanah lalu diantar oleh polisi menuju rumah kontrakan yang telah disediakan di perumahan Citra Harmoni Kelurahan Bandengan Kendal.
Setiba di rumah baru yang lebih kering, Rokhanah terus mengusap linangan air mata seusai turun dari mobil polisi.
Dengan wajah berurai air mata dan langkah terbata-bata, Rokhanah secara mantap membuka pintu rumah membawa harapan baru di masa tuanya.
Rokhanah tak banyak bicara, dan langsung sujud syukur di ruang tamu seraya tak henti menangis haru.
"Alhamdulillah terima kasih bapak Kapolres, sekarang saya sudah tidak basah lagi," katanya dengan nada bergetar, Jumat (19/6/2026).
Rokhanah tak berhenti mengucap kata Allah dengan suara yang terus bergetar. Dia mengatakan, dirinya bersama putranya akan tinggal selama setahun di rumah kontrakan sembari menunggu relokasi dari Pemerintah Kabupaten Kendal.
Meskipun semua barang di rumah lama telah dipindahkan ke rumah baru, putra Rokhanah tak berencana sepenuhnya meninggalkan rumah lama yang terendam rob.
Rumah itu akan menjadi tempat singgah sekaligus istirahat siang bagi putranya yang bekerja merawat tambak.
"Di dekat rumah saya ada tambak, karena anak saya kerjanya di tambak, jadi bisa digunakan untuk istirahat siang," sambungnya.
Sementara itu, Sisdri Atmoko mengatakan dirinya sempat menjadi TKI di Malaysia sebelum akhirnya pulang dan merenovasi rumahnya yang mulai reyot pada 2017.
Setelah itu, dia tak lagi mampu berbuat banyak dan membiarkan rumahnya terendam rob.
"Sebelum tak renovasi, itu rumah sudah reyot karena dari papan kayu. Tapi untuk meninggikan saya belum mampu," sambungnya.
Kisah pahit Rokhanah dan putranya itu pun langsung menggugah keprihatinan Kapolres Kendal, AKBP Hendry Susanto Sianipar yang langsung memberikan bantuan sosial serta rumah kontrakan sementara.
Dia mengatakan, pemberian bantuan serta hunian sementara yang layak ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80.
"Semoga ini bisa membantu dan bermanfaat untuk ibu Rokhanah. Kami juga ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat," ungkapnya.
Rumah Subsidi
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kendal, Muntoha mengatakan pihaknya mengubah skema rencana relokasi rumah bagi Siti Rokhanah (64) dan putranya Sisdri Atmoko (37) yang selama 20 tahun terkepung rob di Kelurahan Balok Kendal.
Awalnya, Pemkab Kendal akan menjadikan rumah dinas Lurah Balok sebagai tempat hunian sementara bagi Rokhanah.
Namun langkah itu urung terlaksana, seusai Rokhanah memilih menempati rumah kontrakan di perumahan Citra Harmoni di Kelurahan Bandengan.
Muntoha menuturkan, pihaknya akan mengusulkan bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi) rumah subsidi ke Kementerian Sosial bagi Rokhanah dan putranya.
Dalam usulan itu, nantinya akan disediakan rumah subsidi bagi Rokhanah dan putranya. Selain itu, Rokhanah akan digratiskan untuk pembayaran uang muka.
"Kita bantu bisa mandiri melalui usaha peluang wirausaha untuk dapat pendapatan lebih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena kan selama ini ibu Rokhanah tidak bekerja, hanya anaknya saja," tuturnya, Sabtu (20/6/2026).
Muntoha menambahkan, Pemkab Kendal juga akan membantu menyiapkan skema bantuan unit usaha agar keluarga tersebut bisa mandiri secara ekonomi.
Terlebih, saat ini Rokhanah tercatat di Desil 1 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi (DTSEN). Selain itu, Rokhanah juga rutin menerima bantuan dari Dinsos.
"Ya harapannya Bu Rokhanah dan putranya bisa hidup berkecukupan tidak mengandalkan bantuan. Kalau selama ini, keluarga ini selalu dapat bantuan karena masuk Desil 1,"
"Jadi kalau Desil 1 ini berpeluang besar untuk dapat bantuan dari pemerintah pusat." tukasnya.
Giant Sea Wall
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari menuturkan, saat ini Kendal masuk dalam prioritas pembangunan giant sea wall bersama wilayah Semarang dan Demak untuk mengatasi persoalan rob di Pantura yang rencananya akan dimulai pada 2027.
"2 bulan kemarin kita diundang rapat kick off penanganan rob, dan groundbreaking itu rencana 2027," jelasnya, Senin (22/6/2026).
Bupati yang akrab disapa Tika pun meminta warga bersabar sembari menunggu realisasi pembangunan giant sea wall tersebut.
"Itu kalau pakai APBD Kendal berat sekali dan bahkan tidak cukup, karena menghabiskan anggaran sekitar Rp 1 T," terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kendal, Hudi Sambodo menambahkan pihaknya belum mengetahui titik awal pembangunan giant sea wall di Kendal akan dimulai.
"Berdasarkan hasil rapat sewaktu bersama bapak Menteri Agus Harimurti Yudhoyono beberapa waktu lalu, Kendal masuk rencana pembangunan tanggul raksasa atau giant sea wall," ungkapnya.
Meski begitu, saat ini pihaknya sudah mulai melakukan sosialisasi kepada masyarakat pesisir terkait tata ruang pembangunan sebagai langkah awal perlindungan kawasan daratan dan warga dari ancaman rob.
"Kami juga sudah sosialisasi ke warga terkait rob dan penanganannya dari pemerintah pusat ini," pungkasnya.
2030 Rob Capai Alun-alun?
Tokoh Pelestari Lingkungan Kendal, Wasito memprediksi rob akan meluas hingga ke Alun-alun Kendal mulai tahun 2030-an.
Prediksi itu didasari atas hilangnya garis pantai di hampir seluruh pesisir di Kendal yang berkurang setiap tahunnya.
Selain itu, Wasito juga menyebut terjadinya penurunan permukaan tanah atau land subsidence akibat penyedotan air tanah secara berlebihan, serta keberadaan aktivitas industri yang semakin meluas turut berpengaruh pada rob.
"Kalau prediksi saya di tahun 2030-an itu rob mencapai Alun-alun Kendal," kata Wasito, Senin (22/6/2026).
Prediksi Warsito itu juga diperkuat penelitian yang dilakukan oleh B. Fadhlurrohman, Yoga Prasetyo, dan Nurhadi Bashit dari Universitas Diponegoro pada 2020.
Dalam judul penelitian "Studi Penurunan Muka Tanah di Kawasan Industri Kendal dengan Metode Permanent Scatterer Interferometric Synthetic Aperature Radar (PS InSAR) menggunakan Citra Satelit Sentinel 1-A Tahun 2014-2019," menyebutkan, wilayah pesisir utara Kabupaten Kendal mengalami penurunan permukaan tanah dengan laju rata-rata antara 2,8 hingga 3 cm per tahun.
Penelitian lain juga dilakukan oleh Lutfiyatul Kamilan, tentang Analisis Proyeksi Penurunan Muka Tanah dan Sebaran Banjir Rob di Kabupaten Kendal Jawa Tengah tahun 2025.
Dalam penelitian itu, disebutkan jika penurunan muka tanah yang terjadi di Kabupaten Kendal memiliki laju yang beragam, mulai dari 0,79 cm hingga 5,53 cm per tahun.
Adapun rata-rata laju penurunan muka tanah adalah 2,87 cm per tahun.
Adapun Wilayah yang mengalami penurunan muka tanah dengan laju tertinggi yaitu area pemukiman dan industri.
Hal ini menandakan beban bangunan dapat mempercepat laju penurunan muka tanah.
Penelitian itu juga menyebut proyeksi pada tahun 2030 berdasarkan hasil analisis penurunan muka tanah pada tahun 2025, menunjukkan secara akumulatif tanah mengalami penurunan hingga 14,36 cm.
Selain itu, berdasarkan proyeksi penurunan muka tanah dan kenaikan muka air laut, diprediksi kedalaman banjir rob pada tahun 2030 mencapai 138,23 cm dan menggenangi 10,68 persen dari wilayah Kabupaten Kendal.
Menurut Wasito, pembangunan giant sea wall merupakan langkah strategis untuk mengurangi dampak rob.
Meski begitu, pembangunan itu tetap akan menimbulkan dampak positif dan negatif.
"Dampak positifnya, rob teratasi tetapi dia akan bergeser mencari tempat yang lebih rendah. Dampak negatifnya, ya kalau banjir air tidak bisa keluar, jadi harus disediakan juga kolam retensi dan pompanya," paparnya.
Perkuat Tanam Mangrove
Sebagai bentuk kepedulian untuk menjaga lingkungan pesisir, Wasito yang juga menjadi pegawai Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kendal itu terus melakukan penanaman mangrove sejak 2006 dengan jumlah lebih dari 248 ribu tanaman di pesisir pantai utara Jawa.
Dalam setiap kegiatannya, Wasito mengajak masyarakat sekitar dan pelajar serta mahasiswa, juga pecinta alam, untuk bersama-sama menanam mangrove di sabuk pantai.
"Saya ngajak sama yang mau, kalau enggak mau ya tidak apa-apa, tidak ada paksaan," ujarnya.
Baca juga: Bupati di Pantura Curhat ke Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Ratusan Hektare Lahan Hilang Tergerus Rob
Wasito yang tinggal di Desa Kartikajaya
mengaku prihatin dengan kondisi garis pantai pantai semakin mundur. Apalagi ia merasakan kampungnya sering tergenang air rob.
"Konservasi pesisir harus dilakukan secara berkelanjutan melalui penanaman mangrove, pembangunan sabuk pantai, serta pengaturan kawasan pesisir yang lebih ramah lingkungan," sambungnya.
Kegigihan Wasito dalam merawar wilayah pesisir membuatnya diganjar penghargaan dari Pemkab Kendal pada 2015. Selang 5 tahun kemudian, dia juga memperoleh penghargaan Kalpataru dari Menteri Siti Nurbaya.
Bagi Wasito, penghargaan itu turut memacu dirinya dalam merawat dan mencintai alam terutama kawasan pesisir.
"Dulu saya kan pegawai di Pemkab Demak. Baru kemarin 2024 saya dipindah ke Kendal. Nah selama itu, setiap libur akhir pekan, saya bolak balik Demak-Kendal untuk nanam mangrove," tandasnya. (ags)