Dinsos PMD Tana Tidung Dorong Desa Kembangkan Potensi Ketahanan Pangan, Produksi Disesuaikan Wilayah
Junisah June 22, 2026 08:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Pemkab Tana Tidung melalui Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsos PMD) Tana Tidung terus mendorong desa-desa untuk mengembangkan program Ketahanan Pangan sesuai dengan potensi dan karakteristik wilayah masing-masing.

Kepala Dinas Sosial PMD Tana Tidung, Arief Prasetiawan, menyampaikan desa memiliki peran penting dalam mendukung upaya pemerintah mewujudkan ketahanan pangan daerah.

Menurutnya, program Ketahanan Pangan selama ini memang menjadi salah satu fokus yang dijalankan pemerintah desa melalui pemanfaatan anggaran yang tersedia.

“Di desa itu memang ada yang namanya program ketahanan pangan. Desa ini kan diharapkan oleh pemerintah untuk menjadi salah satu pelaku dalam mewujudkan Ketahanan Pangan,” ujar Arief kepada TribunKaltara.com, Senin (22/6/2026).

Baca juga: Dukung Ketahanan Pangan, Polsek Sebatik Barat Dampingi Kelompok Tani Mega Abadi Jaya Panen Jagung

Ia mengatakan, pada tahun-tahun sebelumnya terdapat ketentuan penggunaan anggaran yang mewajibkan sebagian Alokasi Dana Desa (ADD) diarahkan untuk mendukung program Ketahanan Pangan.

“Memang dulu ada anggaran mandatori dari ADD, kalau tidak salah 20 persen anggaran itu sudah harus difokuskan peruntukan ketahanan pangan, tapi semenjak efisiensi kemarin kayaknya sudah tidak ada, tapi memang masih dilaksanakan desa,” katanya.

Pantauan di sejumlah desa di Kabupaten Tana Tidung, berbagai program Ketahanan Pangan masih terus berjalan dengan komoditas yang berbeda-beda sesuai kondisi wilayah masing-masing.

Arief Prasetiawan mencontohkan Desa Buong Baru yang dinilai berhasil mengembangkan sektor pangan melalui produksi beras lokal.

“Sebagai contoh Desa Buong Baru itu memang kami apresiasi karena sudah berhasil ketahanan pangannya produksi beras,” ujarnya.

Ia menjelaskan, beras yang diproduksi masih berupa beras lokal atau beras gunung yang dikembangkan masyarakat setempat.

“Yang diproduksi itu masih jenis beras lokal, beras gunung bukan beras sawah. Saya belum tahu berapa ton hasilnya, tapi intinya kami menyambut positif dan harapan kami semua desa juga sama bisa menghasilkan produk-produk seperti kebutuhan pokok kita,” jelasnya.

Selain Buong Baru, Arief menyebut hampir seluruh desa di Tana Tidung telah memiliki program ketahanan pangan dengan komoditas yang beragam.

“Sebenarnya hampir semua desa ada ketahanan pangannya. Misalnya Desa Sebidai itu ada programnya, kemudian kemarin Limbu Sedulun juga panen jagung,” ungkapnya.

Menurut Arief, harapan pemerintah daerah adalah hasil produksi yang dikembangkan desa dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Tana Tidung sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat berkurang.

“Secara umum harapan kami bahwa apa yang dihasilkan desa itu bisa mencukupi kebutuhan kita sendiri di sini,” tuturnya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah juga siap membantu apabila desa mengalami kendala dalam pemasaran hasil produksi atau proses hilirisasi.

Baca juga: Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Empat Kawasan Persawahan di Tana Tidung Bakal Dibangun Irigasi

“Nanti pemerintah daerah akan mengupayakan kalaupun mereka kesulitan di hilirisasinya, penjualannya, kita akan coba bantu mereka. Bisa nanti lewat Disperindagkop, bisa ke Bulog atau ke tempat yang lain,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menilai pengembangan potensi desa tersebut juga sejalan dengan konsep one village one product atau satu desa satu produk yang saat ini mulai dipetakan oleh pemerintah daerah.

Namun demikian, Arief menegaskan konsep tersebut tidak hanya terbatas pada sektor pertanian, melainkan dapat mencakup berbagai sektor usaha sesuai potensi masing-masing desa.

“Ini juga bisa dibilang mengarah ke one village one product, tapi ini masih kita petakan sesuai dengan kategori masing-masing. Tidak mungkin desa pantai disuruh nanam semua kan tidak mungkin, dan potensi wilayah kita kondisi tanahnya juga beda-beda, ada yang rawa, ada yang gunung,” lanjutnya.

Menurutnya, setiap desa memiliki karakteristik yang berbeda sehingga pengembangan potensi harus dilakukan berdasarkan kondisi lapangan.

“One village one product itu tidak harus pertanian. Bisa lebih ke usaha, bisa ke produksi apa, bisa juga ternak. Jadi masih dalam tahap pemetaan potensi desa masing-masing,” ujarnya.

Arief mengatakan ke depan pemerintah daerah ingin mendorong desa memiliki fokus pengembangan yang lebih jelas agar program yang dijalankan dapat memberikan hasil yang maksimal.

“Kalau konsep kami ke depan mungkin lebih kepada fokus. Dulu ada banyak mandatori yang harus ini dan harus itu. Mungkin ke depannya kami coba fokuskan misalnya desa A fokusnya ke mana, desa B fokusnya ke mana,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan arah pengembangan potensi desa tidak sepenuhnya ditentukan pemerintah daerah. Menurutnya, pemerintah juga membutuhkan masukan dan inisiatif dari pemerintah desa maupun masyarakat setempat.

“Sebenarnya tidak menunggu dari kami Pemda saja. Dari desa juga ada feedback-nya. Mereka harus menyampaikan bagaimana sih potensi mereka,” katanya.

Arief mencontohkan Desa Bandan Bikis yang saat ini mulai berkembang melalui budidaya ikan keramba dan telah memasarkan hasil produksinya hingga ke Kabupaten Berau.

“Informasinya di Bandan Bikis mereka sekarang lagi gencar-gencarnya ikan keramba. Itu sudah sampai ke Berau mereka jual. Sekarang kami coba akomodir seperti apa produksi mereka,” ungkapnya.

Menurut Arief, pendekatan tersebut dilakukan agar program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan kondisi masyarakat di desa.

“Artinya kita tidak memaksakan dari pemerintah, tapi dari mereka sendiri ini maunya apa. Saya rasa kalau seperti ini mereka lebih komit karena sesuai dengan kebutuhan mereka dan sesuai dengan kemampuan mereka. Pemda memberikan ruang bagaimana mengoptimalkan itu,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah desa dapat lebih aktif menyampaikan potensi yang dimiliki sehingga dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun program pengembangan desa ke depan.

“Semoga desa-desa memahami itu, jadi bisa menyampaikan ke kami bahwa potensi kami ini apa sehingga nanti bisa kita dorong dan kembangkan bersama,” pungkasnya.

(*)

Penulis : Rismayanti 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.