SURYAMALANG.COM, BANYUWANGI - Kemacetan parah kembali melanda jalur nasional dari arah Situbondo menuju Pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada awal momen libur panjang sekolah, Senin (22/6/2026).
Antrean kendaraan yang didominasi oleh truk logistik serta lonjakan mobil pribadi wisatawan dilaporkan sempat mengular panjang hingga menyentuh jarak antara 2 kilometer hingga 4 kilometer dari pintu masuk pelabuhan.
Akibat stagnasi jalur utama tersebut, sejumlah sopir angkutan barang mengeluhkan kerugian materi lantaran harus tertahan berjam-jam di jalanan sebelum bisa menyeberang menuju Bali.
Berdasarkan pantauan pada Senin (22/6/2026), kemacetan melanda jalur dari arah Situbondo menuju Pelabuhan Ketapang.
Ekor kemacetan pada sore hari terpantau mencapai sekitar 2 kilometer (km), setelah sebelumnya pada pagi hari ekor antrean sempat mengular lebih panjang.
Kendaraan yang terjebak didominasi oleh truk besar angkutan logistik yang berjejer di sepanjang jalan.
Sebelum bisa masuk ke pelabuhan, truk-truk tersebut harus singgah terlebih dahulu di kantong parkir Dermaga Bulusan.
Baca juga: Tipu 53 Janda Berkedok Haji, Sindikat Love Scamming WNA di Jatim Pura-pura Cari Ibu buat 2 Anaknya
Dari titik tersebut, armada truk baru mengantre untuk bisa masuk secara bergilir ke Pelabuhan Ketapang.
Kondisi macet parah ini memicu sejumlah pengemudi mobil pribadi nekat melakukan aksi "ngeblong" atau melaju melawan jalur demi menghindari antrean yang panjang.
Tindakan nekat tersebut justru memperparah keadaan hingga menyebabkan beberapa kali jalur utama di jalan nasional itu stagnan total.
Lukman, salah satu sopir truk, mengaku sudah terjebak macet sejak pukul 06.00 WIB. Ia mulai tertahan sejak berada di area Pantai Watudodol atau sekitar 5 km dari pintu masuk Pelabuhan Ketapang.
"Sampai jam segini masih belum masuk area parkir Bulusan. Belum tahu bisa masuk kapal jam berapa," kata Lukman yang mengangkut pakan dari Surabaya menuju Bali saat ditemui setelah terjebak macet selama 8 jam.
Bagi Lukman yang menyeberang dari Jawa ke Bali hampir setiap pekan, kemacetan di jalur ini sudah seperti makanan sehari-hari.
Lukman dan rekan sesama sopir lainnya mengeluhkan kemacetan di Pelabuhan Ketapang yang selalu berulang di momen-momen krusial seperti libur panjang.
"Bagi sopir, macet begini kerugian. Bahan bakar keluar lebih banyak. Uang saku juga berkurang. Padahal di saat ekonomi sulit begini, rasanya sulit meminta uang saku tambahan dari bos," keluh Lukman.
Baca juga: Sambil Tabuh Panci, Massa di Grahadi Tuntut Prabowo-Gibran Turun Bersamaan Aksi Mahasiswa Mojokerto
Nasib apes juga menimpa Budi, seorang penumpang bus asal Bandung yang hendak menuju Bali untuk bekerja bersama beberapa rekannya. Perjalanan mereka terhambat akibat kemacetan ini.
"Tadi bus memutar di jalan lingkar untuk menghindari macet parah. Sekarang sampai pelabuhan, bus malah trobel. Ada gangguan di mesinnya," keluh Budi.
Sementara itu, pemandangan berbeda terlihat di area parkir bagian dalam Pelabuhan Ketapang.
Kendaraan yang hendak menyeberang justru didominasi oleh mobil pribadi.
Kondisi tersebut memperlihatkan potret tahunan yang sama, di mana mulai banyak wisatawan asal Jawa yang hendak berlibur ke Bali saat libur panjang sekolah.
Data ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang menunjukkan, jumlah kendaraan yang menyeberang dari Jawa ke Bali saat awal libur sekolah ini naik sekitar 21 persen dibandingkan hari biasa.
"Jumlah kendaraan yang sebelumnya sekitar 7.000 unit meningkat menjadi 9.600 unit pada Minggu kemarin," kata GM ASDP Ketapang Arief Eko, Senin (22/6/2026).
Arief menjelaskan, lonjakan volume paling besar terjadi pada sektor mobil pribadi. Kenaikan jumlah mobil pribadi pada hari Minggu kemarin jika dibanding hari biasa menyentuh angka sekitar 30 persen.
"Kenaikan kendaraan mobil pribadi ini turut mempengaruhi total jumlah kendaraan yang datang ke Pelabuhan Ketapang," lanjutnya.
Menurut Arief, lonjakan jumlah kendaraan tersebut langsung berdampak pada kemacetan di jalur utama menuju Pelabuhan Ketapang.
Pada hari Senin, kemacetan di lapangan sempat menyentuh jarak sekitar 4 km hingga 2 km dari pintu masuk pelabuhan. Faktor alam di selat Bali ikut memperkeruh keadaan.
"Selain itu, tadi malam sekitar pukul 22.00 hingga 02.00 dini hari, terjadi arus laut yang cukup deras di perairan Ketapang disertai ombak pantai yang tinggi" jelasnya.
"Kondisi tersebut menyebabkan beberapa kapal mengalami gagal sandar di Pelabuhan Ketapang. Hal ini memengaruhi waktu bongkar muat kendaraan dan berdampak pada bertambahnya antrean," lanjut Arief.
Baca juga: Pengelolaan Velodrome Sawojajar Kota Malang Segera Diperjelas dalam Perjanjian Kerja Sama
Sebagai upaya taktis untuk mengurai kemacetan, sebanyak 29 kapal dikerahkan untuk beroperasi pada hari Senin.
Armada tersebut terdiri dari 28 kapal reguler dan satu kapal bantuan. Khusus untuk kapal perbantuan, manajemen menerapkan skema tiba-bongkar-berangkat (TBB).
"Sebanyak sembilan kapal lain menerapkan pola TBB secara bergantian, sedangkan satu kapal melaksanakan TBB penuh," lanjut dia.
Di sisi lain, Arief menyebut kondisi penyeberangan di Pelabuhan Gilimanuk, Bali, terpantau relatif lenggang.
Situasi tersebut berbanding terbalik dengan kondisi di Pelabuhan Ketapang yang padat merayap.