TRIBUNJAKARTA.COM, YOGYAKARTA - Mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, merespons pertanyaan netizen terkait pengawalan saat dirinya mengikuti Mandiri Jogja Marathon 2026 kategori Half Marathon yang digelar di kawasan Candi Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.
Respons tersebut muncul di tengah ramainya perbincangan di media sosial mengenai etika dan aturan dalam ajang lari, termasuk penggunaan Body Identification Number (BIB) sebagai identitas wajib peserta.
Saat ditanya soal siapa yang mengawal atau mendampinginya selama mengikuti lomba, Ganjar menjawab singkat bahwa dirinya tidak mendapatkan pengawalan khusus.
"Pak njenengan enggak bawa pengawal?" tanya salah satu netizen.
"Istri saya yang ngawal saya," jawab Ganjar singkat di Threads.
Ada juga netizen yang mengucapkan selamat kepada Ganjar setelah berhasil menyelesaikan Half Marathon.
Netizen itu juga penasaran apakah Mantan Gubernur Jawa Tengah tersebut didampingi pengawal saat berlari.
"Keren pak! Penasaran Pak Ganjar ada pengawalnya juga enggak ya?" tanyanya.
"Ada, istri saya. Ngawal saya terus," jawab Ganjar.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi sorotan warganet yang menyoroti suasana di ajang lari tersebut yang turut ramai diperbincangkan publik.
Di sisi lain, Dokter Tirta turut menanggapi insiden yang melibatkan seorang perwira tinggi TNI dan petugas marshal dalam ajang Mandiri Jogja Marathon 2026 melalui unggahan di media sosial Threads.
Dalam unggahannya, ia menyinggung pengalaman saat berada di area lomba dan bertemu sejumlah tokoh publik yang ikut berlari, termasuk Bima Arya Sugiarto dan Ganjar Pranowo.
Ia menyebut keduanya mengikuti lomba secara normal tanpa pengawalan yang berlebihan.
"Tadi pas cheering ketemu pak @bimaaryasugiarto dan pak @ganjar_pranowo. Beliau2 lari biasa aja ga ada pengawal yg aneh2 gimana gitu. Soale aku bisa nyalami beliau pas cheering km akhir bareng regul," tulisnya.
Ia juga menyoroti pentingnya ketegasan marshal dalam menegakkan aturan di lintasan, terutama terkait peserta yang tidak sesuai ketentuan.
"Itu yg marah2, minimal kalo mau bawa pengawal, dibeliin slot larinya la. Hahaha. Kalo sampe marshall yg disalah2in pelari itu, pokoke kudu dibela. Marshall tegas!" lanjutnya.
Unggahan tersebut kemudian turut memicu diskusi publik di media sosial terkait aturan dalam event lari dan peran marshal di lapangan.
Menanggapi hal tersebut, Ganjar Pranowo juga memberikan respons singkat terkait aturan dalam race lari. Ia menegaskan bahwa penggunaan Body Identification Number (BIB) merupakan ketentuan umum yang wajib dipatuhi seluruh peserta.
"Sudah jadi ketentuan umum, kalau race harus pakai BIB," tulis Ganjar dalam tanggapannya di status Dokter Tirta.
Korem 072/Pamungkas akhirnya buka suara terkait video viral yang memperlihatkan seorang ajudan Danrem ditegur petugas marshal saat ajang Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2026 di kawasan Candi Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Minggu (21/6/2026).
Insiden tersebut menjadi sorotan publik setelah beredar video yang menunjukkan adanya cekcok antara marshal dan rombongan peserta terkait keberadaan seorang ajudan yang berada di lintasan tanpa mengenakan Body Identification Number (BIB) atau nomor dada.
Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 072/Pamungkas, Mayor Infanteri Suwito, menyatakan permasalahan tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan.
"Terjadi kesalahpahaman saja, sudah bertemu dan saling memaafkan," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Senin (22/6/2026).
Dalam video klarifikasi yang dibagikan Korem, ajudan Danrem 072/Pamungkas menyampaikan permintaan maaf atas kelalaiannya saat mengikuti ajang lari tersebut.
"Saya ingin menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian saya saat mengikuti lari, dengan menggunakan jersey namun tidak menggunakan BIB. Saya menyadari bahwa tindakan tersebut merupakan kesalahan dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku," ujar ajudan dalam video yang diterima.
"Saya memohon maaf kepada penyelenggara, seluruh petugas dan relawan, serta peserta yang terdampak oleh kejadian ini saya bertanggung jawab penuh atas kekeliruan tersebut dan menjadikannya sebagai pembelajaran ke depan," imbuhnya.
Sementara itu, salah seorang marshal yang terlibat dalam insiden tersebut juga menyampaikan permohonan maaf dan menyebut persoalan itu telah dianggap selesai.
"Saya juga memohon maaf atas atas tindakan saya yang berlebihan dan saya juga menganggap masalah ini telah selesai," kata dia.
Korem 072/Pamungkas menjelaskan, mediasi antara kedua belah pihak telah dilakukan pada Minggu (21/6/2026) petang di Hotel Tentrem, Kota Yogyakarta.
Dalam keterangan resminya, Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono menyebut dirinya mengikuti Mandiri Jogja Marathon bersama keluarga, yakni istri, satu anak, dan seorang ajudan.
Danrem mengaku memiliki empat tiket umum dan satu tiket undangan Muspida.
Menurutnya, sejak awal perlombaan dirinya dan ajudan telah menggunakan nomor dada resmi.
Korem menyebut ajudan beberapa kali berlari lebih dulu untuk mengambil dokumentasi foto dan video.
Saat kondisi lintasan padat, nomor dada yang dikenakan ajudan diduga terlepas dan terjatuh tanpa disadari.
Penjelasan tersebut menjadi fakta baru di tengah ramainya perbincangan publik terkait dugaan pelanggaran aturan lomba. Pasalnya, seluruh peserta dan pihak yang berada di lintasan diwajibkan mengenakan BIB sebagai identitas resmi sekaligus alat verifikasi peserta.
Meski sempat menuai sorotan luas di media sosial, kedua belah pihak memastikan persoalan tersebut telah diselesaikan dan diharapkan tidak berlanjut.
Korem 072/Pamungkas menyatakan insiden tersebut telah diselesaikan melalui mediasi dan kedua pihak saling memaafkan.
Dalam keterangan Korem, ajudan sering lari mendahului Danrem dan keluarga, untuk mengambil foto dan ajudan masih menggunakan kaus atau kostum lari dari panitia.
Kemungkinan saat di jalan padat, ajudan melaksanakan lari nomor dadanya terjatuh dan ajudan tidak menyadarinya.