TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menggelar Exhibition "Narrating Humanity" yakni pameran karya fotografi, animasi, film, televisi, dan media digital.
Dekan FSMR ISI Yogyakarta, Edial Rusli, berujar, pameran itu digelar di Galeri Pandeng FSMR dan Gedung AUVI ISI Yogyakarta pada 22-26 Juni 2026 dengan menghadirkan sekitar 150 karya dari berbagai program studi di lingkungan FSMR.
"Pameran ini mengangkat berbagai perspektif mengenai kehidupan, identitas, budaya, serta isu-isu kemanusiaan melalui pendekatan visual dan audiovisual," katanya, di Galeri Pandeng FSMR dan Gedung AUVI ISI Yogyakarta, Senin (22/6/2026).
Disampaikannya, pameran tersebut tak terlepas dari perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan terhadap sebuah karya seni. Sebab, derasnya perkembangan teknologi, membuat manusia berpikir lebih keras terutama dalam menciptakan sebuah karya.
Apalagi, setiap ada perubahan teknologi, bidang pendidikan di FSMR ini terus merasakannya. Namun, kehadiran AI harus dapat disikapi sebagai tools atau alat sebagai proses dan bukan sebagai pemeran utama. Dengan begitu, para seniman harus mampu memperkuat pondasi artistik.
"Sebenarnya yang menjadi permasalahan kita adalah ruang dan waktu dalam artificial ini. Kecepatan ruang waktu ini menjadi tantangan untuk kita semua. Semua teknologi apapun harus didalami dan dipelajari tanpa meninggalkan sesuatu yang positif," tuturnya.
Koordinator Dies FSMR ISI Yogyakarta, Yusuf David, mengatakan ada banyak karya yang ditampilkan, mulai dari karya animasi, buku cerita anak, game, ilustrasi digital, desain karakter, poster, dan story bible.
"Karya-karya tersebut menunjukkan perkembangan praktik animasi yang tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi juga pendidikan, interaktivitas, dan pengembangan narasi visual," jelas dia.
Selain itu, terdapat pula karya film, dokumenter, video art, film tari, naskah, dan program televisi yang ditampilkan. Bahkan, ada pula karya fotografi produk dan komersial yang ditampilkan dalam gelaran tersebut.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital dan AI telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia seni dan industri kreatif. Kehadiran AI tidak hanya mempengaruhi cara manusia berkarya, tetapi juga mengubah pola komunikasi, distribusi karya, hingga relasi antara seniman dan masyarakat.
Di tengah perkembangan tersebut, seni tetap memiliki posisi penting sebagai medium refleksi kemanusiaan, kritik sosial, dan ruang ekspresi kreatif. Maka, seni diharapkan tidak hanya beradaptasi dengan perkembangan AI, tetapi juga mampu menjaga nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan kesadaran sosial dalam proses penciptaannya.
"Seluruh kegiatan tersebut diusung untuk menegaskan posisi ISI Yogyakarta sebagai pusat pengembangan seni media rekam yang terus bergerak dinamis dalam merespons perkembangan teknologi, memperkuat kolaborasi internasional, serta menghasilkan karya-karya yang relevan dengan kebutuhan masyarakat," tutupnya. (nei)