Sampah Kelapa Jadi Campuran Pakan, Biaya Pembesaran Unggas Turun 60 Persen
Choirul Arifin June 22, 2026 10:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Sampah kelapa bisa diubah menjadi campuran pakan ternak untuk menekan biaya pembesaran unggas sekaligus menciptakan manfaat ekonomi baru bagi masyarakat.

Melalui program Sakeladera (Sampah Kelapa untuk Desa Sejahtera), sekitar 60 ton limbah kelapa per bulan diolah menjadi cocopeat (serbuk halus dari sabut kelapa) untuk campuran pakan ternak.

Langkah ini berhasil menekan biaya pakan peternak unggas hingga 60 persen sekaligus mengurangi emisi karbon dari pembakaran sampah.

Adapun program tersebut dijalankan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) melalui melalui unit usahanya, PT Solusi Bangun Andalas.

Inovasi program Sakeladera dilatarbelakangi timbulan sampah kelapa dari aktivitas pariwisata di Pantai Lampuuk, Aceh, mencapai kurang lebih 60 ton per bulan yang dibiarkan membusuk atau dimusnahkan dengan cara dibakar sehingga menghasilkan emisi karbon hingga 34,8 ton CO₂ per bulan.

Di sisi lain, para peternak unggas lokal mengalami kesulitan mendapatkan pakan dan bergantung pada pasokan dari luar daerah. Kondisi ini membuat tingginya biaya pakan yang mencapai Rp48 juta per bulan.

Dalam pelaksanaannya, perusahaan kembali menggandeng komunitas Bank Sampah Generasi Milenial (Basagemil) yang sebelumnya telah bekerja sama dalam program Sobat Si Abes (Solusi Bangun Andalas Sahabat Pesisir) sejak 2022.

Corporate Secretary SMGR, Vita Mahreyni mengatakan, melalui Program Sakeladera, timbulan sampah berhasil diturunkan menjadi 20–24 ton per bulan dari sebelumnya 60 ton  per bulan.

Baca juga: Pinsar Minta Pemerintah Perketat Penggunaan Gandum Food Grade untuk Pakan

"Inovasi ini juga membantu sejumlah kelompok ternak unggas di Lhoknga, Aceh, dalam menurunkan biaya pakan hingga 60 persem atau sekitar Rp28,2 juta per bulan, sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah," papar Vita dikutip Senin (22/6/2026).

Menurutnya, program Sakeladera juga menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat lokal. Program ini melibatkan 28 orang dalam proses rantai pasok, mulai dari pengumpulan sampah kelapa di pantai, proses pemilahan dan pengolahan menjadi cocopeat, hingga distribusi.

Produk cocopeat juga telah lulus uji laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri terkait kandungan kalsium dan protein.

Baca juga: Mentan Amran: Pasokan Cukup, Tahun Ini Tak Perlu Impor Jagung Pakan

"Program Sakeladera menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan dengan rasio Social Return on Investment (SROI) sebesar 2,5. Artinya, setiap Rp1 investasi, menghasilkan Rp2,5 manfaat bagi masyarakat," ujar Vita.

Salah seorang masyarakat penerima manfaat program Sakeladera, Muhammad Ikhsan menyampaikan, Program Sakeladera sangat inovatif dan memberikan banyak manfaat, sebab program ini telah membawa perubahan yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Sekarang sampah kelapa tidak lagi dibuang percuma. Kami bisa mengolahnya menjadi produk yang bernilai ekonomi, bahkan membantu menekan biaya produksi pakan ternak," papar Ikhsan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.