UMB Jadi Satu-satunya Kampus Bengkulu di Global Sustainable Development Congress 2026
Rita Lismini June 22, 2026 10:39 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) menjadi satu-satunya perguruan tinggi asal Provinsi Bengkulu yang hadir dalam The 5th Global Sustainable Development Congress (GSDC) 2026.

Kongres berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, pada 22 sampai 25 Juni 2026. 

Kehadiran UMB menegaskan keseriusan kampus ini dalam menerjemahkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) ke dalam praktik yang nyata.

UMB datang membawa bukti kerja yang sudah berjalan di Bengkulu, bukan sekadar paparan di atas panggung. 

Dari ribuan delegasi yang memenuhi ruang kongres, nama UMB tercatat sebagai wakil tunggal dari bumi Rafflesia. Posisi itu memberi kampus ruang untuk memperkenalkan diri di hadapan komunitas akademik global.

GSDC merupakan kongres tahunan yang digagas oleh Times Higher Education (THE), lembaga pemeringkat pendidikan tinggi yang berbasis di Inggris.

Tahun ini kongres memasuki penyelenggaraan kelima dan untuk pertama kalinya digelar di Indonesia. Acara mempertemukan lebih dari lima ribu delegasi dari sekitar seratus dua puluh negara, mulai dari pemimpin universitas, peneliti, pejabat pemerintah, hingga pelaku industri.

Selama empat hari, peserta membahas bagaimana perguruan tinggi dapat mempercepat pencapaian SDGs lewat riset, pendidikan, dan kemitraan. 

Kongres juga menjadi ajang penilaian dampak keberlanjutan kampus serta pameran praktik baik dari berbagai negara. Bagi UMB, forum sebesar ini membuka pintu jejaring yang sebelumnya sulit dijangkau dari Bengkulu.

Direktur UMB Global Engagement, Andi Azhar, menilai kehadiran UMB di panggung sebesar GSDC menandai arah baru kampus.

Ia menyebut kongres ini sebagai tempat UMB menunjukkan bahwa kampus daerah pun mampu berbicara dalam isu global. 

"Kami sengaja datang membawa hal yang konkret, bukan sekadar janji di atas kertas," ujar Andi. 

Menurutnya, banyak universitas hadir dengan presentasi yang indah, tetapi tidak semua memiliki aset dan kerja nyata untuk ditunjukkan.

Andi menambahkan bahwa UMB ingin dikenal sebagai kampus yang mengerjakan keberlanjutan, bukan yang hanya membicarakannya. Ia berharap perkenalan di Tangerang berlanjut menjadi kolaborasi jangka panjang.

Times Higher Education dikenal luas sebagai penerbit pemeringkatan universitas dunia yang menjadi rujukan banyak negara.

Selain World University Rankings, THE menyusun Impact Rankings yang khusus mengukur kontribusi kampus terhadap pencapaian SDGs.

Bagi UMB, keikutsertaan dalam GSDC menjadi langkah awal untuk masuk ke dalam radar pemeringkatan tersebut. UMB memang belum tercatat dalam Impact Rankings, dan kampus ini terbuka mengakui hal itu. 

Justru dari titik itulah UMB memulai, dengan membangun basis data dampak dan menjalin mitra yang dapat membantu mengukur capaiannya secara terukur. Kehadiran di kongres menjadi sinyal bahwa UMB serius menapaki jalan menuju pengakuan global.

Wakil Rektor Bidang Kerjasama UMB, Onsardi yang ditemui di sela-sela acara kongres, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari mandat kampus untuk tumbuh menjadi perguruan tinggi unggul berskala global.

Ia memandang keberlanjutan sebagai jati diri yang melekat pada kerja UMB sehari-hari, bukan sekadar program tambahan.

"Menjadi kampus unggul tidak cukup diukur dari dalam negeri saja. Kami harus berani diuji di forum internasional," kata Onsardi.

Ia menjelaskan bahwa UMB sudah mengantongi akreditasi unggul di tingkat institusi, dan kini saatnya membawa capaian itu ke panggung yang lebih luas. Onsardi menyebut SDGs sebagai bahasa bersama yang memudahkan UMB berbicara dengan mitra dari berbagai negara.

Tanpa keterlibatan semacam ini, menurutnya, UMB berisiko tertinggal dari perguruan tinggi lain yang lebih dahulu mengglobal.

UMB ikut serta dalam kongres dengan membuka stand pameran yang memajang capaian keberlanjutannya. Di hadapan delegasi dari berbagai negara, kampus memilih menonjolkan enam dari tujuh belas tujuan SDGs, yakni bidang yang paling kuat buktinya.

Keenam tujuan itu adalah ekosistem darat, aksi iklim, kehidupan laut dan pesisir, kesehatan masyarakat, pendidikan bermutu, serta kemitraan global.

UMB sengaja tidak mengklaim seluruh tujuh belas tujuan agar pesan yang dibawa tetap jujur dan dapat dipertanggungjawabkan. 

Stand UMB tidak hanya berisi panel data dan foto. Dua produk hasil pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan KHDTK ikut dibawa ke Tangerang dan menjadi magnet yang menarik pengunjung untuk singgah.

Keunggulan UMB dalam SDGs bertumpu pada satu aset yang jarang dimiliki kampus lain, yaitu hutan. Sejak Agustus 2025, UMB memegang hak kelola atas 1.992,69 hektar hutan lindung Bukit Daun melalui skema Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dari Kementerian Kehutanan.

Hutan ini menjadi laboratorium hidup untuk riset konservasi sekaligus habitat asli bunga Rafflesia arnoldii, ikon Provinsi Bengkulu. Di dalamnya terdapat mata air jernih yang kini memasok Perumda Tirta Raflesia, perusahaan air minum milik Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah.

Masyarakat di sekitar hutan juga menanam kopi dan memelihara lebah tanpa sengat yang madunya dipasarkan dengan nama Madu Kopi.

Dari satu kawasan hutan, UMB sekaligus menyentuh SDG 15 tentang ekosistem darat, SDG 6 tentang air bersih, serta SDG 1 dan 8 tentang pengentasan kemiskinan dan pekerjaan layak.

Dua produk yang dibawa ke stand itu adalah kopi hutan dan madu kopi. Kopi hutan ditanam oleh masyarakat di dalam kawasan KHDTK Bukit Daun.

Tanaman kopi itu tumbuh di bawah naungan pohon-pohon hutan tanpa menebang tegakan, sehingga panen kopi dan kelestarian hutan berjalan beriringan. Madu kopi dihasilkan oleh lebah tanpa sengat yang dikenal warga dengan nama klanceng. Sarang lebah itu diletakkan di antara pohon kopi, dan karena lebahnya mengisap nektar bunga kopi, madunya memiliki aroma khas yang tidak dijumpai pada madu biasa. 

Keduanya memperlihatkan bahwa menjaga hutan dapat sekaligus menghidupi warga di sekitarnya. Selama kongres, secangkir kopi hutan dan cicipan madu kopi sering menjadi pembuka percakapan antara tim UMB dan pengunjung, yang lalu berlanjut ke pertanyaan tentang hutan dan peluang riset bersama.

Kontribusi UMB tidak berhenti di hutan. Pada isu iklim, peneliti UMB menggarap kajian dampak kesehatan dari pembangkit listrik tenaga batu bara bersama NGO lokal. Di sisi pesisir, UMB memiliki garis pantai sepanjang lebih dari lima ratus kilometer yang membuka peluang ekonomi biru, penelitian Pulau Enggano, serta kajian ketangguhan bencana di wilayah yang dilintasi patahan gempa.

Pada bidang kesehatan, Program Studi Kesehatan Masyarakat UMB meraih akreditasi unggul dari LAM-PTKes pada 2026. Mutu pendidikan kampus juga diperkuat akreditasi institusi unggul dari BAN-PT dan sertifikasi ISO 21001:2018. Sampai saat ini empat program studi telah menyandang akreditasi unggul, dan UMB menargetkan seluruh program studinya meraih predikat serupa paling lambat pada 2035.

Bagi Andi Azhar, deretan capaian itu menjadi modal yang membuat UMB percaya diri di forum internasional. Ia mengingatkan bahwa setiap klaim yang dibawa UMB ke kongres dapat ditelusuri dan dibuktikan.

"Kalau kami bicara hutan, hutannya ada. Kalau kami bicara air bersih, ada perusahaan daerah yang memakainya. Kalau kami bicara pemberdayaan, ada kopi dan madu yang dijual warga," kata Andi.

Ia menilai kejujuran semacam ini justru lebih dihargai calon mitra dibanding angka yang dibesar-besarkan. Andi menyebut banyak peserta kongres tertarik karena UMB menawarkan lokasi riset yang nyata dan tim lokal yang siap bekerja. Hal-hal seperti itu, menurutnya, sulit ditemukan di banyak proposal kerja sama.

Pada acara kongres di hari pertama, UMB sudah menerima sejumlah tawaran kerja sama untuk pengembangan SDGs dan academic mobility.

Tercatat lebih dari 20 institusi, baik perguruan tinggi maupun organisasi non-pemerintah dari berbagai negara, menyatakan minat menggarap kerja sama SDGs dengan UMB karena tertarik pada KHDTK Bukit Daun yang dikelola kampus. Minat sebesar itu tidak datang tiba-tiba. 

UMB sudah menjalin kerja sama dengan lebih dari empat puluh negara dan kini mendidik mahasiswa dari sembilan negara, dengan ribuan pelamar mahasiswa asing yang masuk setiap tahun. Tawaran yang mengemuka di kongres mencakup riset keanekaragaman hayati, perhitungan karbon, sampai pengembangan ekowisata berbasis konservasi.

Onsardi menyatakan kampus menyambut baik setiap peluang itu, namun tetap akan menyeleksi mitra yang benar-benar sejalan dengan nilai dan kebutuhan UMB. "Kami tidak kekurangan tawaran. 

Tugas kami sekarang memilih mana yang membawa manfaat paling nyata bagi Bengkulu," ujarnya. Onsardi menambahkan bahwa pertukaran dosen dan mahasiswa menjadi salah satu skema yang paling cepat dapat diwujudkan.

UMB memandang GSDC 2026 sebagai langkah awal dari perjalanan yang lebih panjang. Kampus berencana menindaklanjuti setiap perkenalan di kongres dengan komunikasi lanjutan dan penyusunan nota kesepahaman.

Langkah berikutnya adalah membangun sistem pendataan dampak yang memungkinkan UMB mengikuti THE Impact Rankings pada masa mendatang. 

Andi Azhar berharap keikutsertaan ini menumbuhkan keberanian kampus daerah lain untuk tampil di panggung global. Onsardi menutup dengan keyakinan bahwa keberlanjutan akan terus menjadi arah utama UMB.

"Kami ingin Bengkulu dikenal bukan hanya karena Rafflesia, tetapi juga karena kampusnya yang menjaga bumi," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.