Eropa Membara! Gelombang Panas Ekstrem Tembus 40 Derajat, Korban Jiwa Berjatuhan
Arif Tio Buqi Abdulah June 23, 2026 03:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Gelombang panas ekstrem berkekuatan mengerikan tengah menyapu wilayah Eropa.

Suhu udara tercatat telah melapaui angka 40 derajat Celcius, memicu situasi darurat di sejumlah negara.

Prancis merupakan salah satu negara Eropa yang terdampak paling parah.

Otoritas setempat melaporkan gelombang panas ini telah memicu jatuhnya korban jiwa.

Di wilayah Bordeaux, tiga orang warga lanjut usia (lansia) berumur antara 80 hingga 95 tahun dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi kesehatan yang dipicu oleh sengatan panas ekstrem.

Tak hanya itu, dua bocah berusia 2 dan 4 tahun ditemukan tewas di dalam mobil yang terparkir di halaman rumah mereka.

Situasi kian mencekam setelah belasan orang dilaporkan tenggelam di berbagai tempat di Prancis karena mencoba mendinginkan diri di sungai atau danau.

"Kita sedang menghadapi situasi di mana cuaca akan menjadi sangat, sangat panas selama beberapa hari ke depan."

"Kami belum bisa memprediksi kapan suhu ekstrem ini akan mulai turun," ujar Menteri Kesehatan Prancis, Stéphanie Rist, mengutip Reuters.

Mengantisipasi bahaya nyata bagi kesehatan, pemerintah Prancis mengambil langkah drastis dengan menutup atau mengubah jadwal operasional di hampir 2.700 sekolah.

Badan Meteorologi Prancis, Meteo France, juga telah menaikkan status kedaruratan ke tingkat tertinggi, dengan mengeluarkan "Peringatan Merah" gelombang panas yang mencakup 49 wilayah administratif.

Di Bordeaux, suhu udara bahkan diprediksi meroket hingga menembus 42 derajat Celsius.

Baca juga: Gelombang Panas Eropa, Transportasi dan Acara Dibatalkan

Spanyol dan Inggris Juga 'Memanas'

Kondisi serupa terjadi di negara tetangga, Spanyol.

Badan Cuaca Nasional Spanyol, Aemet, langsung merilis alarm siaga merah untuk wilayah Basque — area bagian utara yang biasanya dikenal memiliki hawa sejuk.

Di kota wisata San Sebastian, suhu udara diramal bakal menyentuh angka 40 derajat Celsius.

Angka tersebut mencatat rekor tertinggi karena melonjak lebih dari dua kali lipat dari rata-rata historis wilayah tersebut pada bulan Juni.

"Suhu saat ini berada 5 hingga 10 derajat Celsius di atas normal."

"Bahkan di beberapa wilayah utara, penyimpangannya melampaui 10 derajat dari rata-rata biasanya," beber juru bicara Aemet, Rubén del Campo.

Sementara itu, Inggris pun bersiap menghadapi ancaman serupa.

Badan meteorologi setempat memperkirakan gelombang panas selama empat hari berturut-turut dapat mendorong suhu udara di atas 39 derajat Celsius, yang berpotensi memecahkan rekor bulan Juni terpanas dalam sejarah Inggris sejak tahun 1957.

Baca juga: Gelombang Panas Makin Ekstrem, Kota-kota Cari Cara Bertahan

Ancaman Resesi

Selain mengancam keselamatan jiwa dan kesehatan masyarakat, cuaca ekstrem ini mulai memukul sektor perekonomian.

Gubernur Bank Sentral Prancis, Emmanuel Moulin, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai dampak jangka menengah dari fenomena ini.

"Gelombang panas yang berkepanjangan dipastikan akan membebani aktivitas ekonomi secara signifikan," ucapnya, seperti dikutip dari Le Monde.

"Kami melihat adanya penurunan produktivitas pekerja yang drastis di berbagai sektor, bersamaan dengan lonjakan beban biaya akibat konsumsi energi yang meningkat tajam untuk alat pendingin," pungkas Moulin.

Sementara itu, para ilmuwan iklim kembali menyuarakan peringatan keras.

Mereka menegaskan bahwa bencana gelombang panas yang semakin sering terjadi dan jauh lebih intens ini merupakan dampak nyata dari perubahan iklim global yang kian memburuk.

Eropa tercatat sebagai benua dengan deviasi suhu terjauh dari norma historisnya, yakni berada 4,1 derajat Celsius di atas rata-rata tahun 1961-1990.

Kini, negara-negara di Eropa harus berpacu dengan waktu untuk memitigasi dampak buruk cuaca ekstrem ini, sembari bersiap menghadapi sisa musim panas yang diprediksi akan berjalan lebih panjang dan lebih membakar.

(Tribunnews.com/Whiesa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.