TRIBUNNEWS.COM - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz kini terlihat meluas ke Asia Selatan, bahkan sampai ke Pakistan.
Jalur air yang sempit ini - yang biasanya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG global - mengalami gangguan serius terhadap lalu lintas maritim selama konflik AS-Iran.
Permintaan akan minyak Iran selundupan yang lebih murah telah melonjak dalam beberapa bulan terakhir sebagai akibat dari terganggunya aliran minyak setelah perang AS-Israel melawan Iran.
Di Kota Gwadar, bagian barat daya, lapisan tebal minyak mentah kemungkinan tumpah dari kapal tanker yang terkena serangan AS dan Iran di dalam dan sekitar Selat Hormuz.
Dengan garis pantai sepanjang 600 kilometer (373 mil), Gwadar adalah pelabuhan laut dalam penting yang saat ini dioperasikan oleh Tiongkok.
Tumpahan minyak disebut telah menutupi sebagian besar garis pantai.
Sehingga, menimbulkan ancaman serius bagi kehidupan laut dan komunitas nelayan setempat.
Pihak berwenang pemerintah dan ahli biologi kelautan masih berupaya mencari tahu penyebab dan asal pasti tumpahan minyak tersebut, dengan berfokus pada tiga kemungkinan - semuanya terkait dengan perang AS-Iran.
Seorang ilmuwan kelautan yang berafiliasi dengan Otoritas Pengembangan Gwadar, Abdul Rahim, mengatakan tumpahan minyak tersebut mungkin telah mencapai pantai Gwadar melalui jalur pelayaran utama Laut Arab sekitar 200 mil laut dari garis pantai Pakistan, yang terhubung ke Selat Hormuz.
Kemungkinan kedua, katanya, bisa jadi kebocoran dari kapal tanker minyak yang mencoba menyeberangi Selat Hormuz dan menjadi sasaran pasukan AS atau Iran.
Sumber ketiga, bisa jadi Pulau Kharg - pusat ekspor minyak utama Iran - yang dibom oleh AS dan Israel.
"Kami telah mengumpulkan sampel air dan pasir untuk melacak kemungkinan sumber tumpahan minyak dan dampaknya terhadap lingkungan laut melalui pemantauan karbon dan penginderaan jarak jauh," kata Rahim, Senin (22/6/2026), dikutip dari Anadolu Agency.
Baca juga: Meski Negosiasi AS-Iran Berakhir, Pembicaraan akan Berlanjut usai Trump Ancam Serang Teheran Lagi
Ia menambahkan bahwa lapisan minyak telah menutupi bentangan sepanjang 20 kilometer di pantai barat Gwadar.
Sementara itu, hasilnya diharapkan akan keluar minggu ini.
Menurutnya, angin barat, ditambah dengan arus laut, telah mendorong tumpahan minyak ke arah pantai Gwadar.
Senada dengan pandangan tersebut, Muhammad Asghar, seorang pejabat senior Departemen Lingkungan dan Perubahan Iklim Balochistan, mengatakan investigasi sedang dilakukan untuk menemukan sumber sebenarnya dari tumpahan minyak tersebut, tanpa mengesampingkan kemungkinan keterkaitannya dengan permusuhan terbaru di Selat Hormuz.
"Kami tidak mengesampingkan kemungkinan faktor apa pun. Bisa jadi perang AS-Iran atau perdagangan minyak informal dengan Iran," katanya, merujuk pada penyelundupan ilegal produk minyak bumi dari Iran ke Balochistan yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Presiden AS Donald Trump mengatakan AS diam-diam memindahkan setidaknya 87 kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz di bawah kegelapan malam.
Sementara itu, menurut Donald Trump, pasukan Iran tetap tidak menyadari operasi AS tersebut.
"Kami akan berangkat pukul 1 pagi, semua lampu dimatikan, dan kapal perusak angkatan laut kami akan merapat," kata Trump kepada Axios dalam sebuah wawancara yang ditayangkan Jumat.
Trump mengatakan operasi tersebut dimungkinkan karena militer AS telah "melumpuhkan" radar dan sistem pertahanan Iran di awal konflik.
Selama lebih dari sebulan, katanya, "tidak ada yang tahu" dari mana asal minyak yang diangkut melalui jalur air tersebut.
Pernyataan ini disampaikan Trump setelah berminggu-minggu terjadi gangguan pada pasar energi global menyusul serangan AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth baru-baru ini mengatakan bahwa "Proyek Freedom" telah berhasil mengawal 125 juta barel minyak melalui Selat Hormuz.
Secara terpisah, saat berbicara kepada anggota Angkatan Udara AS menjelang keberangkatannya dari Pangkalan Gabungan Andrews, Trump mengatakan bahwa kapal-kapal mengalir keluar dari Selat Hormuz "seperti yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya."
Trump menegaskan kembali bahwa AS memiliki "militer terhebat di dunia."
Baca juga: Bahaya Maksimum Israel Sabotase Kesepakatan Iran-AS: 3 Strategi Agar Perang Kembali Berkobar
Aktivitas pengiriman di Selat Hormuz anjlok setelah pengumuman Iran bahwa mereka kembali menutup jalur air tersebut menyusul serangan Israel terhadap Lebanon, Sabtu (20/6/2026).
Lalu lintas maritim di Selat Hormuz telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan sejak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (17/6/2026) menandatangani nota kesepahaman tentang pengakhiran perang AS-Israel di Iran.
Sebanyak 25 kapal melintasi selat tersebut pada Kamis (18/6/2026), jumlah tertinggi sejak pertengahan April, menurut data dari penyedia intelijen maritim Kpler.
Namun, menurut analisis yang dilakukan oleh perusahaan intelijen maritim Windward pada Minggu (21/6/2026), sebanyak 12 kapal melintasi selat tersebut pada hari Minggu, turun dari 35 kapal yang melintas pada hari sebelumnya.
Menurut Windward, lima dari delapan kapal yang memasuki selat tersebut mematikan Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) mereka.
“Profil lalu lintas saat ini: gelap, dikenai sanksi, terkait dengan Iran, lebih menyerupai kondisi dasar blokade akhir daripada selat terbuka yang berfungsi,” ungkap Windward dalam sebuah unggahan di X, Minggu.
Korps Garda Revolusi Islam Iran pada hari Sabtu menyatakan jalur perairan tersebut ditutup, dengan alasan "kejahatan" Israel di Lebanon dan kegagalan AS untuk mempertahankan gencatan senjata di negara tersebut.
Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) pada hari Sabtu membantah bahwa Iran telah menutup selat tersebut, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global, dengan mengatakan bahwa jalur aman melalui perairan tersebut tetap "utuh", dengan 55 kapal dagang melintas pada hari itu.
Penyebab perbedaan antara angka transit yang diberikan oleh CENTCOM dan penyedia pelacakan kapal komersial masih belum jelas.
Behrouz Bakhtiari, seorang ahli manajemen rantai pasokan di Universitas McMaster di Hamilton, Kanada, mengatakan bahwa perbedaan tersebut mungkin merupakan hasil dari pelaporan militer AS yang mencakup "jalur yang terlihat dan jalur yang tidak terlihat".
“Hal ini karena banyak kapal, untuk menghindari deteksi oleh militer Iran, telah mematikan sistem transponder AIS mereka dan melewati Selat melalui jalur yang mengikuti garis pantai Oman,” kata Bakhtiari kepada Al Jazeera.
“Meskipun Iran termotivasi untuk mengklaim bahwa lalu lintas telah berkurang – dan memang demikian – CENTCOM termotivasi untuk mengklaim bahwa dampak penutupan kembali perbatasan Iran tidak signifikan, dan karenanya angkanya lebih tinggi."
"Penting untuk dicatat bahwa angka CENTCOM tidak dapat diverifikasi, tetapi itu tidak serta merta membuatnya salah," jelasnya.
Baca juga: Donald Trump Ancam Mengebom Iran dan Menculik Delegasinya di Tengah Perundingan, Iran Pilih Walkout
Terlepas dari meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran serta tanda-tanda melambatnya lalu lintas di selat tersebut, harga minyak turun pada Senin (22/6/2026) pagi di Asia.
Minyak mentah Brent, patokan internasional utama, turun sekitar 0,9 persen pada pukul 01:30 GMT, sedikit di bawah $80 per barel.
Pasar saham utama Asia dibuka lebih tinggi, dengan indeks-indeks utama di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan mencatatkan kenaikan yang signifikan.
Indeks Nikkei 225 Tokyo dan Kospi Seoul masing-masing naik 1,8 persen dan 1,5 persen, sementara Taiex di Taipei melonjak 2,6 persen.
Indeks Hang Seng Hong Kong melawan tren kenaikan, turun 0,7 persen.
Sementara itu, para negosiator AS dan Iran pada hari Minggu mengadakan pembicaraan yang menentukan di Swiss, di tengah ancaman konflik di Lebanon yang akan menggagalkan upaya untuk mengubah perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari menjadi kesepakatan perdamaian permanen.
Dalam sebuah pengarahan kepada media Iran setelah pembicaraan tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa kedua pihak telah membahas jalur aman kapal melalui selat tersebut, dan “sebuah mekanisme telah dibentuk, yang merupakan hal penting”.
(Tribunnews.com/Nuryanti)