TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah pernyataan keras dari Amerika Serikat memicu reaksi cepat dari pihak Iran.
Pemerintah Teheran menilai ancaman yang disampaikan oleh Donald Trump sebagai provokasi yang tidak bisa diabaikan.
Dalam respons awalnya, Iran menyampaikan bahwa setiap bentuk tekanan atau ancaman akan dibalas dengan sikap yang setara dan tegas.
Situasi ini membuat hubungan antara Iran dan United States kembali berada dalam kondisi yang sangat tegang.
Juru bicara pemerintah Iran menegaskan bahwa negara mereka siap menghadapi segala skenario yang mungkin terjadi di lapangan.
Ketegangan ini juga memperlihatkan betapa rapuhnya stabilitas kawasan Timur Tengah di tengah rivalitas dua kekuatan besar tersebut.
Sejumlah analis menilai bahwa retorika saling ancam ini dapat memperburuk situasi diplomatik yang sebenarnya masih bisa dinegosiasikan.
Iran juga menegaskan bahwa kepentingan nasional dan keamanan negara akan selalu menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan luar negeri.
Dalam pernyataannya, Teheran bahkan mengingatkan pihak lawan untuk “sebaiknya berhati-hati” dalam setiap tindakan dan ucapan politiknya.
Kondisi ini pun memicu perhatian dunia internasional yang khawatir eskalasi lebih lanjut dapat berujung pada ketegangan yang lebih luas.
Seperti diketahui, Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan Amerika Serikat agar tidak membuat ancaman terhadap negaranya.
Ia bersumpah bahwa angkatan bersenjata Iran siap untuk merespons.
"Tidakkah mereka berpikir bahwa jika ancaman mereka berpengaruh, mereka tidak akan sampai pada keadaan putus asa seperti sekarang? Kami tidak memperhitungkan ancaman AS," kata Ghalibaf, dikutip dari AFP, Minggu (21/6/2026).
"Sebaiknya mereka berhati-hati dengan pernyataan mereka, angkatan bersenjata kita siap menanggapi mereka dengan cara yang berbeda. Apa pun yang mereka katakan, kitalah yang akan bertindak," sambungnya.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang Iran karena dukungannya terhadap Hizbullah.
"Iran harus segera menghentikan para proktor mereka yang dibayar mahal di Lebanon agar tidak menimbulkan masalah," tulisnya di Truth Social.
"Jika mereka tidak melakukannya, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan minggu lalu, bahkan lebih keras lagi!!!" tambahnya.
Pertempuran antara Israel dan Hizbullah di Lebanon, telah berulang kali mengancam keberhasilan upaya perdamaian.
Namun, hingga Minggu malam, tidak ada laporan mengenai serangan Israel atau pertempuran yang berlanjut.
Komentar Ghalibaf muncul ketika AS dan Iran mengadakan pembicaraan di Swiss bersama mediator Pakistan dan Qatar
Perundingan itu terjadi setelah menandatangani perjanjian awal untuk mengakhiri perang awal pekan ini.
Namun, seorang diplomat yang mengetahui perundingan tersebut mengatakan, pihak Iran belum mengundurkan diri dari negosiasi.
"Delegasi Iran tetap terlibat dalam pembicaraan dan belum mengindikasikan kepada para mediator niat untuk pergi," ujar diplomat itu dengan syarat anonim.
Pasal 1 nota kesepahaman yang ditandatangani oleh Iran dan AS awal bulan ini secara khusus menyatakan, kedua negara berjanji untuk menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap satu sama lain.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)