TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Fenomena pemadaman listrik berulang belakangan semakin sering terjadi di sejumlah wilayah di DI Yogyakarta dan menuai kekecewaan dari masyarakat.
Tsedikit masyarakat yang dirugikan karena tidak bisa menjalankan aktivitas sehari-harinya secara normal, sehingga harus mengalami kerugian materil.
Dani, karyawan usaha jasa fotokopi di Karangmalang, Caturtunggal, Depok, Sleman, mengatakan, pemadaman listrik yang terjadi lebih dari tiga jam tersebut membuat usahanya merugi.
Ia mengaku sudah terjadi dua kali mati listrik dalam durasi beberapa waktu dan kali ini menjadi yang paling lama.
"Ini lama sekali, sekitar tiga jam. Tentu berdampak, karena semua layanan terganggu, kan semuanya pakai listrik," katanya, Senin (22/6/2026).
Usaha jasanya banyak melayani mahasiswa yang membutuhkan layanan print, fotokopi, penjilidan, dan lain-lain.
Namun, karena listrik padam dalam waktu yang cukup lama, banyak konsumen yang akhirnya tidak terlayani dan ia mengalami kerugian.
"Kalau kerugian ya bisa sampai Rp500.000, karena sama sekali enggak bisa melayani konsumen," ujarnya, sambil menahan khawatir pemadaman listrik berulang serta tegangan yang tidak stabil bakal merusak perangkat fotokopi hingga komputer.
Karyawan penatu di Sleman, Silvy, menerangkan, pemadaman listrik selama berjam-jam membuat pekerjaannya menumpuk.
"Enggak bisa ngapa-ngapain, pekerjaan jadi menumpuk. Baru bisa mengerjakan setelah listriknya nyala. Padahal, konsumen kebanyakan minta yang selesai 5 jam," terangnya.
Atas kondisi ini, ia pun terpaksa meminta konsumen memahami keadaan. Beruntung, konsumen bisa memaklumi dan sejauh ini tidak ada komplain yang muncul.
“Waktu 3-4 jam itu biasanya bisa menyelesaikan 8-10 nota, akhirnya ya menumpuk kalau listriknya mati," ujarnya, sembari berharap kondisi bisa segera normal kembali.
Yuli Cahriantini, pedagang online di Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul, mengatakan, dalam kurun satu pekan terakhir, pemadaman listrik sudah terjadi empat kali, yang waktunya konsisten setiap sore hingga memasuki petang.
"Makanya, setiap sore rasanya was-was. Karena, kalau sudah mati itu bisa tiga sampai empat jam. Setelah adzan magrib baru nyala," tandasnya.
Usaha dagangnya yang sarat dengan kecepatan dan ketepatan, sontak sangat terganggu fenomena pemadaman listrik tersebut.
Proses cetak resi yang dilakukan saban sore sebelum pengiriman barang otomatis tak dapat dilangsungkannya jika listrik putus mendadak.
"Ini yang susah, pas jamnya cetak resi, sebelum malam kirim barang, listrik malah mati. Terus wifi-nya ikut off, koneksi juga jadi buruk, transaksi-transaksi dengan konsumen terganggu," ungkapnya.
Sempat terbersit pikiran untuk mengungsi sejenak ke rumah mertua di Kota Yogya demi menjaga kepercayaan pelanggan.
Namun, butuh effort lebih untuk memboyong barang dagagannya yang berjumlah tak sedikit.
Yuli berharap, pemerintah dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) bisa secepatnya merespons keluhan dari publik yang belakangan semakin masif.
Menurutnya, dengan kondisi perekonomian yang tidak sedang baik-baik saja seperti sekarang ini, masyarakat butuh keleluasaan dalam menggulirkan usaha.
"Tolong, PLN, segera dibenahi, jangan padam-padam terus. Kita enggak nuntut kompensasi dan sebagainya, cuma berharap layanannya normal, jangan mati-mati lagi, supaya pekerjaan tidak terganggu," pungkas Yuli.
Tak nyaman
Rahman, warga asal Kalurahan Bendungan, Kapanewon Wates, Kulon Progo, mengalami pemadaman listrik pada Jumat (19/6) sekitar pukul 16.00 WIB dan baru menyala lagi setelah magrib.
Pemadaman listrik yang cukup lama membuat aktivitas sehari-harinya menjadi terganggu. Rahman memiliki anak yang masih bayi.
Biasanya pendingin udara selalu dinyalakan guna menjaga suhu tubuh anaknya agar tetap nyaman saat tidur, namun jadi terganggu karena pemadaman listrik tersebut.
"Kalau mati listrik begini, kasihan bayinya tidak nyaman," ujarnya.
Tak hanya itu, usaha pembuatan mahar dan suvenir yang dikelolanya pun ikut terdampak pemadaman listrik.
Sebab, aktivitas pembuatannya membutuhkan listrik, seperti saat menggunakan lem tembak untuk merangkai suvenirnya.
Padamnya listrik yang sudah berkali-kali terjadi membuat aktivitas usahanya terhambat.
Meski belum ada kerugian material, ia berharap pemadaman listrik tidak lagi terjadi.
"Saya berharap pada PLN agar jangan terjadi mati listrik lagi," kata Rahman.
Amin, ibu rumah tangga asal Wates, juga merasa kondisi itu tetap mengganggu aktivitas keluarganya sehari-hari dan suasana jadi kurang nyaman.
Ia mengungkapkan anaknya sempat luka ringan karena panik akibat kondisi gelap karena listrik mati.
Amin pun berharap pemadaman listrik bergilir tidak sering-sering terjadi.
Apalagi, ia rajin membayar listrik dalam bentuk token demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kalau bisa harganya malah turun, misalnya pakai diskon seperti yang dulu itu," katanya.
Potensi blackout
Pemadaman listrik ini tak hanya terjadi di DIY, melainkan juga wilayah lain di Pulau Jawa, hingga mengganggu sektor usaha, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menteri UMKM, Maman Abdurrahman menilai pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Pulau Jawa sejak awal Juni 2026 berdampak luas terhadap aktivitas pelaku usaha, khususnya UMKM yang bergantung pada pasokan listrik.
Baca juga: Raudi Akmal Tersangka Baru Kasus Dana Hibah Pariwisata, Kuasa Hukum Pertimbangkan Opsi Praperadilan
Menurut Maman, dampak pemadaman tidak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga masyarakat secara umum karena mengganggu berbagai aktivitas ekonomi sehari-hari.
“Misalnya mereka yang jualan es, pada saat mati (listrik) ya esnya cair, nggak bisa jualan mereka, terus (pedagang) frozen food (makanan beku), dan segala macam (lainnya). Jadi sebetulnya impact (dampak) sosialnya tuh ke mana-mana,” kata Maman di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (22/6/2026).
Maman meminta PLN segera memperbaiki tata kelola rantai pasok batu bara.
Pasalnya, sebagian besar pembangkit listrik di Pulau Jawa masih mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), sehingga pasokan batu bara menjadi faktor penting dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan.
Ia mengingatkan, gangguan pasokan yang tidak segera dibenahi berpotensi memicu pemadaman listrik berskala besar seperti yang pernah terjadi beberapa tahun lalu.
“Potensi blackout seperti yang (terjadi) tiga tahun yang lalu ini berpotensi terjadi lagi kalau supply chain management yang ada di PLN itu tidak segera dibenahi dan ditata secara baik,” ujar Maman.
Cari solusi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui pemadaman listrik bergilir memberikan dampak terhadap aktivitas perekonomian.
Menurut Airlangga, pemerintah telah menggelar rapat bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia serta jajaran direksi PLN untuk mencari solusi atas persoalan tersebut.
“Harapannya sih Juni ini bisa diselesaikan,” kata Airlangga.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan persoalan pasokan batu bara yang dihadapi PLN bukan pertama kali terjadi.
Menurut dia, kondisi serupa juga pernah terjadi pada 2022 sehingga diperlukan pengawasan yang lebih ketat agar tidak kembali terulang.
Bahlil mengatakan kebutuhan batu bara PLN mencapai sekitar 154 juta ton per tahun.
Sementara penugasan pasokan batu bara dari pemerintah kepada perusahaan tambang berkisar 180 juta-190 juta ton per tahun.
“Yang sudah dikontrak oleh PLN 134 juta ton. Sebenarnya secara kontrak dengan PLN dengan pengusaha 134 juta untuk satu tahun, sekarang kan baru bulan enam, itu harusnya no issue,” ujar Bahlil.
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menjelaskan pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa tidak hanya dipengaruhi persoalan pasokan batu bara, tetapi juga akibat gangguan teknis pada dua pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Menurut Darmawan, gangguan yang terjadi pada pembangkit milik Independent Power Producer (IPP) membuat dua PLTU keluar dari sistem kelistrikan Jawa.
PLN pun langsung menerjunkan tim untuk mempercepat proses perbaikan.
“Sekali lagi, kami mohon maaf sebesar-besarnya atas adanya gangguan yang mengakibatkan pemadaman bergilir di Pulau Jawa,” ujar Darmawan. (maw/aka/alx/kpc)