TRIBUNJAKARTA.COM. TAMBORA - Kasus pembunuhan seorang wanita berinisial R (40) di dalam rumahnya di Jalan Padamulya VII, Angke, Tambora, Jakarta Barat pada Jumat (19/6/2026) menggemparkan warga.
Korban kehilangan nyawa di tangan suaminya sendiri, Erwin (31), setelah sebelumnya terjadi pertengkaran hebat di dalam rumah tangga mereka.
Kasus ini terungkap berkat kepolosan anak balita mereka yang mengadukan hal itu ke sang tante.
Pelaku pun dibekuk tanpa perlawanan di rumahnya yang menjadi lokasi kejadian.
Berikut ini TribunJakarta.com merangkum sederet fakta yang terungkap dalam kasus tersebut.
Peristiwa tragis ini pertama kali terungkap dari anak kedua korban yang masih berusia 5 tahun.
Bocah tersebut mendatangi rumah tantenya, Tasya (24), yang berada tepat di depan rumah korban.
Saat itu, sang anak mengaku bahwa ibunya telah meninggal setelah diikat menggunakan seprai oleh ayahnya.
Mendengar pengakuan tersebut, Tasya yang merupakan adik kandung pelaku bersama seorang tetangga dan ketua RT langsung memeriksa kondisi rumah korban.
"Jumat sore itu kan saya lagi mau ke salon. Terus lewat depan rumah korban ini lihat ponakan saya lagi duduk terus malah ikutin saaya dari belakang.
Awalnya saya kira dia mau ikut sama saya, tapi pas ditanya dia malah bilang katanya mamahnya meninggal diikat seprai sama ayahnya," kata Tasya saat ditemui TribunJakarta.com di lokasi kejadian pada Senin (22/6/2026).
"Katanya diikat kencang banget pakai seprei. Sampai ngeluarin darah dari hidung," lanjut Tasya menirukan ucapan ponakannya.
Saat dilakukan pengecekan, korban ditemukan sudah tidak bernyawa di ruang tamu rumahnya.
Korban ditemukan dalam kondisi terikat menggunakan kain seprai berwarna merah di dekat teralis jendela.
Selain itu, terdapat luka lebam di sejumlah bagian tubuhnya. Adapun posisi korban seperti sedang dalam posisi salat.
"Kondisinya terikat di dekat teralis jendela dengan kain seprai merah. Tangannya satu terkulai, terus kakinya tuh kayak posisi tahiyat akhir yang kanan. Kondisinya tapi udah bengkak tuh mukanya, pada biru-biru badannya," kata Tasya.
Fakta mengejutkan lainnya, pelaku justru ditemukan sedang tertidur di dalam kamar saat warga mulai berdatangan ke rumah korban.
Menurut keterangan keluarga, Erwin tidak berusaha melarikan diri dan tetap berada di dalam rumah setelah korban ditemukan tewas.
Keberadaan pelaku di kamar diketahui setelah warga bertanya kepada anak korban mengenai keberadaan ayahnya.
"Ditanya 'Ayahnya ke mana emang?', anaknya bilang 'Ayahnya ada di dalam kamar lagi bobo'. Pas dicek, bener, ayahnya ada di dalam lagi tidur," jelas Tasya.
Ketika petugas dari Polsek Tambora tiba di lokasi kejadian, pelaku keluar dari kamar dan menunjukkan reaksi seolah baru mengetahui kematian istrinya.
Menurut keterangan keluarga, Erwin sempat berpura-pura syok dan melontarkan komentar singkat saat melihat kondisi korban.
Meski demikian, pelaku tidak melakukan perlawanan ketika diamankan polisi.
"Pas datang polisi itu Tambora, baru dia keluar. Terus dia kaget, dia cuman bilang, 'Ya, mati,' katanya gitu. Dia kayak kaget, syok gitu lah, seolah-olah enggak tahu," kata Tasya.
Beberapa jam sebelum korban ditemukan meninggal dunia, pasangan suami istri tersebut diketahui terlibat cekcok hebat pada Jumat dini hari sekira pukul 02.00 WIB.
Anak korban yang ketakutan bahkan sempat berlari keluar rumah dan meminta pertolongan kepada neneknya.
Saat itu, keluarga berhasil melerai pertengkaran dan mengira situasi telah kembali kondusif.
"Karena kita tidurnya pagi, bangunnya siang, kita enggak tahu pas subuh atau paginya ada keributan lagi atau enggak di sini, tiba-tiba sudah kejadian seperti itu aja," ujar Tasya.
Dari pengakuan pihak keluarga, pelaku disebut memiliki riwayat melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap korban.
Bahkan pada tahun 2024, korban sempat meninggalkan rumah karena mengalami kekerasan fisik yang cukup parah.
Namun korban akhirnya kembali demi ketiga anaknya setelah dibujuk oleh sang suami.
"Tahun 2024 sempat parah banget KDRT-nya, sampai korban pergi dari rumah. Tapi akhirnya balik lagi karena disusul sama suaminya. Korban kepikiran, enggak mungkin kan ninggalin tiga anaknya," jelas Tasya.
Saat memutuskan kembali ke rumah demi anak-anaknya kala itu, kondisi tubuh korban dipenuhi luka yang memilukan.
"Pas balik itu keadaan badannya masih biru-biru, lebamnya banyak banget," kenang Tasya.
Keluarga mengungkapkan bahwa pasangan tersebut kerap terlibat pertengkaran akibat persoalan ekonomi.
Menurut mereka, cekcok antara korban dan pelaku bukanlah hal baru dan bahkan sering terjadi hampir setiap hari.
"Kalau soal ribut, itu sering banget. Tiap hari, malahan hampir setiap hari mereka berantem," ungkap Tasya.
Keluarga Pelaku Minta Proses Hukum Ditegakkan
Meski pelaku merupakan anggota keluarga mereka, pihak keluarga menegaskan tidak membenarkan tindakan yang dilakukan Erwin.
Keluarga menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kepada kepolisian dan berharap pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal apabila terbukti bersalah.
Sedangkan jenazah korban saat ini telah dimakamkan kampung halamannya di Rangkasbitung, Banten.
"Kalau misalkan memang dia yang lakuin, ya harus dihukum setimpal sih. Dari pihak keluarga kami menyerahkan sepenuhnya ke pihak kepolisian. Bagaimanapun, tidak dibenarkan menghilangkan nyawa seseorang," pungkas Tasya.