Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam revolusi kesehatan dunia. Saatnya menjadi pemain utama yang mampu menghadirkan inovasi, regulasi, dan diplomasi kesehatan berbasis sains di tingkat global

Jakarta (ANTARA) - Transformasi besar sedang terjadi dalam dunia kesehatan global. Perkembangan terapi gen, terapi sel, rekayasa jaringan, dan kecerdasan buatan telah mengubah paradigma pelayanan kesehatan dari sekadar mengobati gejala menuju terapi presisi yang mampu memperbaiki sumber penyakit secara langsung.

Dunia kedokteran, kini memasuki era ketika penyakit genetik, kanker, hingga kerusakan organ dapat ditangani melalui pendekatan berbasis genomik dan rekayasa biologis modern. Di tengah perubahan global tersebut, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar teknologi kesehatan dunia, tetapi harus mulai mengambil posisi sebagai pemain utama dalam inovasi biofarmasi modern.

Pesan itu semakin relevan, ketika dunia memasuki era advanced therapy medicinal products (ATMP) yang mencakup terapi gen, terapi sel, dan produk rekayasa jaringan. Teknologi ini menghadirkan harapan baru bagi pasien kanker, penyakit genetik langka, penyakit degeneratif, hingga kerusakan organ yang selama ini sulit ditangani terapi konvensional. Keberhasilan terapi sel CAR-T dalam menangani leukemia anak menjadi bukti bahwa sains modern telah memasuki babak baru pengobatan manusia. Ilmu pengetahuan, kini mampu merekayasa sel imun pasien menjadi “senjata biologis” untuk melawan kanker.

Namun, kemajuan ilmu pengetahuan tidak akan memberikan manfaat maksimal, tanpa dukungan regulasi yang adaptif dan kredibel. Dalam konteks inilah peran regulator menjadi sangat strategis. Regulasi kesehatan tidak lagi dapat berjalan lambat mengikuti perkembangan teknologi. Regulasi harus mampu menjadi akselerator inovasi, sekaligus pelindung masyarakat melalui jaminan keamanan, khasiat, dan mutu terapi modern.

Karena itu,m BPOM harus hadir bukan hanya sebagai lembaga pengawas, tetapi juga sebagai strategic enabler dalam pembangunan ekosistem terapi gen dan bioteknologi kesehatan nasional. BPOM mulai memperkuat berbagai kebijakan terkait ATMP melalui pendampingan uji klinik terapi lanjut, penguatan standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), pengawasan fasilitas pengolahan sel dan jaringan manusia, hingga harmonisasi regulasi dengan standar internasional, seperti WHO, US FDA, dan European Medicines Agency (EMA).

Komitmen tersebut juga mendapat perhatian di tingkat internasional. Pengukuhan saya sebagai Adjunct Professor of Pharmacology di UTMSPACE pada Mei 2026 bukan sekadar penghargaan akademik personal, tetapi menjadi simbol pengakuan terhadap meningkatnya peran Indonesia dalam diplomasi regulasi kesehatan global, khususnya pada pengembangan terapi sel, terapi gen, dan kebijakan kesehatan berbasis sains. Momentum ini menunjukkan bahwa Indonesia mulai diperhitungkan dalam percakapan global mengenai masa depan bioteknologi kesehatan.

Pengakuan tersebut harus menjadi pemicu untuk mempercepat pembangunan ekosistem inovasi nasional. Negara-negara Asia Tenggara, kini berlomba membangun biomedical innovation ecosystem. Singapura telah berkembang menjadi hub precision medicine Asia, sementara Malaysia dan Thailand memperkuat regenerative medicine dan terapi sel. Indonesia memiliki potensi besar untuk mengambil posisi strategis karena didukung populasi besar, biodiversitas, kapasitas pasar, serta sumber daya manusia yang terus berkembang.

Saat ini fondasi ekosistem terapi gen nasional mulai terbentuk. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bersama Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo mengembangkan riset genomik, stem cell, dan precision medicine melalui Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) FKUI dan pusat regenerative medicine. Universitas Airlangga memperkuat kajian genome editing dan bioetika terapi gen. Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui integrasi Eijkman Institute for Molecular Biology memperkuat kapasitas genomik nasional, molecular diagnostics, bioinformatika, dan genomic surveillance.

Di sektor pelayanan kesehatan, sejumlah rumah sakit nasional mulai mengembangkan layanan berbasis penelitian untuk advanced therapy medicinal products (ATMP) dan regenerative medicine. Rumah Sakit Kanker Dharmais mengembangkan pendekatan precision oncology berbasis biomarker molekuler dan terapi kanker modern. Sementara, Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto aktif mengembangkan layanan stem cell dan regenerative medicine melalui kolaborasi penelitian nasional. Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita memperkuat riset terapi regeneratif untuk penyakit kardiovaskular, sedangkan RSUP Dr Hasan Sadikin, RSUP Dr Sardjito, dan RSUD Dr Soetomo menjadi bagian penting jejaring translational medicine dan pelayanan berbasis penelitian stem cell di Indonesia.

Di sisi industri, Kalbe Farma melalui unit bioteknologinya mulai mengembangkan precision medicine, stem cell, dan regenerative medicine bekerja sama dengan perguruan tinggi dan rumah sakit pendidikan. Bio Farma memperkuat pengembangan bioteknologi kesehatan nasional melalui kolaborasi vaksin, genomik, dan terapi inovatif bersama BRIN dan institusi akademik. Sementara itu, Dexa Medica mulai memperkuat riset farmasi presisi dan biomolekuler. Sementara, Prodia serta Nalagenetics aktif mengembangkan layanan genomik, molecular diagnostics, dan farmakogenomik berbasis profil genetik pasien untuk mendukung pengobatan yang lebih personal dan tepat sasaran. Penguatan ekosistem ini menunjukkan bahwa fondasi menuju terapi gen dan ATMP nasional mulai terbentuk secara nyata di Indonesia.

Karena itu, masa depan kesehatan tidak dapat dibangun dengan pendekatan sektoral yang berjalan sendiri-sendiri. Konsep Academia-Business-Government (ABG) harus menjadi fondasi utama pengembangan terapi gen nasional. Akademisi menghasilkan inovasi, industri melakukan hilirisasi dan investasi, sementara pemerintah dan regulator memastikan hadirnya sistem regulasi yang adaptif, kredibel, dan tepercaya.

Negara yang akan memenangkan era terapi gen bukanlah negara yang paling besar, tetapi negara yang paling cepat membangun kolaborasi dan keberanian berinovasi. Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pertumbuhan bioteknologi kesehatan di Asia Tenggara. Tantangannya, kini, adalah bagaimana seluruh elemen bangsa bergerak bersama membangun ekosistem kesehatan masa depan yang berbasis sains, inovasi, dan keberanian mengambil peran global.

Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam revolusi kesehatan dunia. Saatnya menjadi pemain utama yang mampu menghadirkan inovasi, regulasi, dan diplomasi kesehatan berbasis sains di tingkat global. Pengukuhan saya sebagai Adjunct Professor of Pharmacology di UTMSPACE menjadi simbol meningkatnya pengakuan internasional terhadap peran Indonesia dalam pengembangan terapi gen, terapi sel, dan bioteknologi kesehatan modern di kawasan Asia Tenggara.

*) Prof dr Taruna Ikrar, M Biomed., PhD, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia