Jamaah Haji Papua Rasa Bugis-Makassar Saat Tiba dari Berhaji
Waode Nurmin June 23, 2026 11:20 AM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR — Kloter 29 Debarkasi Makassar asal Provinsi Papua terasa seperti masayarakat Bugis-Makassar.

Pasalnya, para jamaah perempuan sebagaian besar sudah mengenakan pakaian bling-bling ciri khas dari jamaah haji asal Sulawesi Selatan (Sulsel).

Rupanya, mayoritas anggota kloter merupakan warga keturunan Bugis-Makassar dan Jawa yang telah lama menetap di Kabupaten Jayapura, Biak Numfor, Kepulauan Yapen, Sarmi, Keerom, Waropen, Supiori, dan Mamberamo Raya.

Mereka tiba sekitar pukul 03:12 Wita dini hari, Selasa (23/6/2026) di Aula Arafah, Asrama Haji Sudiang Makassar.

Raut gembira terpancar diseluruh wajah para jamaah meskipun mereka tiba disaat matahari belum terbit.

Jamaah duduk rapi sepanjang kursi yang digunakan oleh panitia.

Jumlah jamaah dan petugas yang kembali menjadi 389 orang, terdiri dari 161 laki-laki dan 228 perempuan.

Terdapat satu jamaah wafat di Tanah Suci dan satu jamaah masih menjalani perawatan di Madinah.

Jamaah yang wafat adalah Rasia Jabara Banto (65) asal Papua yang meninggal dunia pada 5 Juni 2026.

Sementara itu, satu jamaah lainnya yang belum dapat kembali bersama rombongan adalah Endang Prawisti Asral (71) asal Papua masih menjalani perawatan di Rumah Sakit King Salman, Madinah.

Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Papua, Musa Narwawan, bersyukur atas kepulangan jemaah setelah menuntaskan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci.

"Semoga seluruh jemaah memperoleh predikat haji mabrur dan hajjah mabrurah serta mampu menjaga kemabruran di tengah masyarakat," katanya.

Musa mengajak jemaah meningkatkan kualitas iman, ibadah, dan amal saleh setelah kembali ke daerah masing-masing. 

Ia turut mendoakan satu jemaah yang wafat di Tanah Suci agar mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Sementara itu, Wakil Koordinator Bidang Penjemputan dan Penerimaan Jemaah PPIH Embarkasi/Debarkasi Makassar, Wahyuddin Hakim, mengaku Kloter 29 menunjukkan disiplin dan kebersamaan yang baik selama berhaji. 

Ia juga mengajak hadirin mendoakan jemaah yang wafat di Tanah Suci serta seorang jemaah yang masih dirawat di Madinah.

"Kami berharap pengalaman spiritual selama 42 hari di Tanah Suci dapat meningkatkan kualitas ibadah, kepedulian sosial, dan akhlak para jemaah setelah kembali ke tengah masyarakat," jelasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.