TRIBUNSTYLE.COM - Ajang lari Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2026 yang berlangsung di sekitar Candi Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, mendadak jadi buah bibir di jagat maya. Bukan cuma soal antusiasme ribuan pelari, melainkan juga tentang etika, aturan main di lintasan, hingga kewajiban penggunaan Body Identification Number (BIB) alias nomor dada peserta.
Di tengah riuhnya pembahasan tersebut, mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, turut menjadi sasaran rasa penasaran warganet. Ganjar yang menyempatkan diri turun di kategori Half Marathon (21 kilometer) langsung diserbu pertanyaan seputar fasilitas pengawalan selama ia berlari.
Melalui platform Threads, seorang netizen melempar tanya, "Pak njenengan enggak bawa pengawal?"
Mendapat pertanyaan itu, Ganjar memberikan respons yang terbilang jenaka dan singkat. "Istri saya yang ngawal saya," jawab Ganjar.
Rasa penasaran netizen ternyata tidak berhenti di situ. Usai politisi berambut putih tersebut berhasil menyentuh garis finis, pujian sekaligus pertanyaan serupa kembali mampir.
"Keren pak! Penasaran Pak Ganjar ada pengawalnya juga enggak ya?" tanyanya.
Ganjar pun kembali menegaskan hal yang sama, "Ada, istri saya. Ngawal saya terus."
Baca juga: 7 Artis Ikut Borobudur Marathon 2024, Prabu Revolusi So Sweet hingga Wanda Hara yang Terlihat Lakik!
Topik mengenai pengawalan di jalur steril ini kian memanas setelah figur publik sekaligus pencinta olahraga lari, Dokter Tirta, ikut angkat bicara. Melalui unggahannya di Threads, ia menceritakan pengalamannya berpapasan dengan beberapa tokoh publik di lintasan yang sama, termasuk Ganjar Pranowo dan Bima Arya Sugiarto.
Berdasarkan kesaksiannya, para tokoh tersebut membaur secara wajar dengan pelari lain.
"Tadi pas cheering ketemu pak @bimaaryasugiarto dan pak @ganjar_pranowo. Beliau2 lari biasa aja ga ada pengawal yg aneh2 gimana gitu. Soale aku bisa nyalami beliau pas cheering km akhir bareng regul," tulis Dokter Tirta.
Lebih lanjut, Dokter Tirta memberikan apresiasi yang tinggi kepada para marshal (petugas penjaga lintasan) yang berani bertindak tegas menyaring siapa saja yang berhak berada di jalur steril. Ia mengkritik keras pihak-pihak yang dinilai egois membawa pendamping tanpa prosedur yang benar.
"Itu yg marah2, minimal kalo mau bawa pengawal, dibeliin slot larinya la. Hahaha. Kalo sampe marshall yg disalah2in pelari itu, pokoke kudu dibela. Marshall tegas!" ketus Dokter Tirta dalam unggahannya.
Seolah menyambung kegelisahan Dokter Tirta, Ganjar Pranowo pun ikut menyematkan komentar di status tersebut. Ia mengingatkan kembali esensi mendasar dari sebuah kompetisi lari resmi.
"Sudah jadi ketentuan umum, kalau race harus pakai BIB," tegas Ganjar.
Baca juga: Resmi Jadi Warga Sleman, Tabiat Asli Ganjar Pranowo Dikuliti Tetangga: Sering Lari dan Sepedaan
Rupanya, riuhnya pembahasan di media sosial dipicu oleh sebuah video viral yang merekam ketegangan antara petugas marshal dengan rombongan peserta. Belakangan diketahui, insiden tersebut melibatkan ajudan Komandan Korem (Danrem) 072/Pamungkas yang kedapatan berlari di lintasan tanpa atribut nomor dada.
Menanggapi video yang telanjur viral itu, pihak Korem 072/Pamungkas segera mengambil langkah cepat untuk meredam spekulasi. Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 072/Pamungkas, Mayor Infanteri Suwito, memastikan bahwa perselisihan di lapangan tersebut kini sudah selesai secara damai.
"Terjadi kesalahpahaman saja, sudah bertemu dan saling memaafkan," jelas Suwito saat memberikan konfirmasi pada Senin (22/6/2026).
Pihak Korem juga merilis dokumentasi mediasi yang menunjukkan sang ajudan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kelalaiannya yang masuk ke area steril lomba tanpa BIB, meskipun tetap mengenakan jersi resmi dari panitia.
"Saya ingin menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian saya saat mengikuti lari, dengan menggunakan jersey namun tidak menggunakan BIB. Saya menyadari bahwa tindakan tersebut merupakan kesalahan dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku," ungkap ajudan tersebut dalam video klarifikasinya.
Ia juga menambahkan, "Saya memohon maaf kepada penyelenggara, seluruh petugas dan relawan, serta peserta yang terdampak oleh kejadian ini saya bertanggung jawab penuh atas kekeliruan tersebut dan menjadikannya sebagai pembelajaran ke depan."
Di sisi lain, petugas marshal yang sempat terlibat adu mulut dalam video tersebut juga menyampaikan kelapangan hatinya untuk menyudahi konflik.
"Saya juga memohon maaf atas atas tindakan saya yang berlebihan dan saya juga menganggap masalah ini telah selesai," ucap sang marshal.
Berdasarkan keterangan resmi, upaya mediasi dan saling memaafkan ini sejatinya telah dilangsungkan sejak Minggu (21/6/2026) sore di Hotel Tentrem, Yogyakarta.
Guna meluruskan kesimpangan informasi, Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono membeberkan kronologi sebenarnya. Ia menyatakan bahwa keikutsertaannya dalam Mandiri Jogja Marathon 2026 adalah momen olahraga bersama keluarga kecilnya yang terdiri dari istri, anak, dan seorang ajudan.
Secara administratif, mereka mengantongi empat tiket umum dan satu tiket undangan khusus Muspida. Danrem menegaskan bahwa sejak awal garis start, sang ajudan sebenarnya sudah dilengkapi dengan BIB resmi.
Namun, di tengah jalannya lomba, ajudan tersebut beberapa kali harus berlari mendahului rombongan Danrem demi mengambil dokumentasi foto maupun video kegiatan. Pihak Korem menduga, saat ajudan tersebut bermanuver di tengah kerumunan pelari yang padat, nomor dada yang dipakainya terlepas dan jatuh tanpa disadari.
Fakta baru ini diharapkan bisa meluruskan persepsi publik terkait kepatuhan terhadap regulasi kompetisi. Walau sempat memicu perdebatan hangat, kedua belah pihak kini berharap insiden tersebut dapat menjadi pelajaran berharga bagi pelaksanaan event lari ke depan.